PUTIH
Putih jiwa hadapi angkara Jernih pikiran taklukan kejenuhan Jangan biarkan cerita jadi derita Biar putihnya hidup menghapus hitamnya lara Umbara Al Mafaaza BUTAKAH AKU? Yang tak pernah mengerti tentang hatimu Fatamorgana itu terus menghantuiku Jemputlah jiwa ini Bila cinta menyapa Umbara Al Mafaaza
Tak satu orang tahu
Hidup hanya curahan jiwa
Menanti segala kehendak-Nya
Dunia tidak gelap lagi
Tiada duka tiada hampa
Bumi akan tetap berputar
Nafas akan terus berhembus
Canda tawa akan terus merekah
Itu harapan...
Takkan pernah pudar warna putihnya
Biar warna putihnya ku bawa pergi saja
Biar putih awan selalu enak dipandang
Biar ku bawa berlari hingga ke ujung waktu
Biar semua duka ini hilang
Aku ingin cari arti tentang makna hidup ini
Biar putihnya hidup memberi jalan terang-Nya
Biarkan langit dan bumi tak menyatu
Biarkan Tuhan berkehendak semau-Nya untukku
Dia Maha Tahu apa yang terbaik buatku
Jakarta, 18 Maret 2004
Pukul 02.00 WIB
Mataku buta
Atau
Hatiku yang buta
Kalbu ini merana tatap masa
Hati tak ingin menyatu dalam rasa
Cinta sementara tak bisa untuk membeli surga
Terkesan indah cinta dipandang mata
Tapi itukah tipuan dunia?
Membuat buta mata dan buta hati
Kalimat cinta jenuh terasa terdengar
Yang ada hanya sandiwara dan kebohongan
Kembalikan pada lembutnya awan
Aku ingin menumpang tidur sepekan di istana atas angin
Ingin kuluapkan amarahku pada bintang walau ia tak mampu bicara
Jangan buat hatiku buta
Hingga aku tak pernah bertanya lagi
Butakah aku?
Jakarta, 17 April 2004
Pukul 03.00 WIB
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Puisi-puisi Umbar Al Mafaaza **)







































