<< Puisi Puisi-puisi kamilabdiha ****)  >>

Puisi-puisi kamilabdiha ****)

E-mail Cetak PDF

LAGU DUSUN  

minggu atau rabu setahun lalu, aku sampai di situ sebagai tamu menenun matamu dengan tetesan embun waktu subuh menabur bunga di setiap sudut pintu, agar rindu yang kutunggu datang ke sini tanpa seikat baju menyelimuti nafsu dengan semerbak aroma dapur, asap mengepul   perempuan, nyanyikan lagu dusun padaku, bila tak sampai bacakan mantra aku akan mengerti semua yang terangkum dalam labirin kerudungmu dan airmata akan kupaksa mengalir sebagai doa walau semesta bersabda badai, tapi lihatlah pohonan yang melambai itulah cintaku yang terkapar   perempuan, bila suatu hari hujan turun dan kesumba yang kulukiskan di keningmu luntur maka berbisiklah pada kursi-kursi tua di kamarmu tentang debur gelombang menanggalkan karang   atau tulislah surat di atas meja belajarku, tanpa alamat biar kubaca ketika punggungku karat oleh khayalan yang terangkat. di ubunku jubah biru kulepaskan bersama gerai air di sungai tanpa pesan atau wasiat perpisahan   karena dalam khazanah beburung terbang namaku bukanlah sebuah perbincangan  
2010

SERUMPUN LEMBAYUNG  

pernyataan yang tak selesai kuucapkan padamu dulu, kini terkapar antara bau lumpur dan amis keringat para petani segala yang menjadi sebab terpancung dalam dekapan angin yang lembab duri-duri tumbuh seperti kuku kucing mengeong di teras dapur ibu (aku tahu semua itu adalah sepi yang tak kau mengerti) ucapmu suatu ketika, seiring malam yang semakin menyempurnakan pekatnya. tetapi semua yang kurahasiakan masih saja menggumpal dalam semak bebunga di taman dan pernyataan yang belum sempat kau ketahui halamannya, masih tetap seperti setahun lalu, ketika riak air sungai samping rumahmu tak sebasar rinai hujan   perempuan, segala yang terangkum dalam debur ombak kini masih tetap menjadi candu di mana pijar bintang kuraih dengan mata terpejam dan kelengkapan hati yang galau setiap derai angin berhenti bernafas, selalu aku mengintip remang antara kabut kucari bayangmu yang larut seperti mimpi para petani yang bangkrut   perempuan, berapa sekat waktu telah berdahan-dahan memisahkan dunia rindu yang tanpa henti ingin bersatu dalam secangkir kopi susu hingga di beranda kau keluhkan ngilu dan dendam amarah yang menggebu   tapi percayalah setiap ruang yang kita damba namun belum mampu untuk kita dieja semua itu hanyalah serumpun lembayung yang usianya tertunda  
2010

Joomlart