SAYANG, BANTU AKU HILANGKAN SERPIHAN INI
Sayang,
Serpihan masa lalu itu menyelubungi tawa.
Mengusik ketentraman jiwa.
Entah..
Jiwa ini masih belum bisa menyetubuhi lara.
Atau sebenarnya..
Lara telah tersentuh,
Namun tak terasa karena ingkaran yang telah menang.
Serasa batin ini lelap,Terlena dalam percintaan dalam suasana remang.
Yah,
Cahayanya meredup,
Tanpa tahu lagi rasa yang menyelinap ini apa.
Dengan berteman serangga-serangga tanah,
Pun beberapa hewan melata.
Kita hanya sibuk tertawa,
Pura-pura tidak tahu dengan dosa.
Sayang,
Ingatkah kau saat kita berkejaran di antara pepohonan?
Kita buat para nuri cemburu.
Bahkan dalam kesesatan percumbuan kesesatan hati kita.
Mungkin saja,
Putri malu menutup muka,
Dan sebelum kita sentuh dengan sepakan kaki kita yang terpaut.
Hingga,
Pagi datang..
Menggenangi lagi jiwa-jiwa kita dengan rinaian air mata.
Tapi, bukan..
Bukan seperti yang kau kira, Sayang
Mata raga ini tetap diam, terpejam.
Hanya mata hati ini yang meringis berkal-kali.
Sayang,
Mata indah kita tidak lagi berbicara,
Tak bisa saling menatap.
Tak tahu apa yang membatasi retinaku dengan keluwesan tubuhmu.
Sayang,
Apa serat-serat ini?
Kenapa pandangan ini terhalang..?
Dan sepertinya, ini gumpalan kapas.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Sayang, Bantu Aku Hilangkan Serpihan Ini **)






































