Puisi-puisi Wardjito Soeharso
SAJAK INDONESIA BERDUKA
Setiap hari kaki berdiri di depanmu,
mulut nyerocos tak henti-henti begini:
"korupsi itu jahat! korupsi itu
laknat! korupsi itu budaya, bukan agama!"
setiap hari pula mata dan telingaku menangkap berita di koran dan televisi
saudara-saudaramu banyak ditangkapi polisi
karena korupsi!
berita di koran dan televisi, selalu saja
membuatku bersedih,
kemana lagi aku menghibur diri?
kalau semua orang sudah berubah jadi pelawak
tertawa ngakak melihat kemiskinan dan kebodohan
topeng yang mana lagi mesti dipasang
untuk tunjukkan kesusahan?
nation character building,
membangun jatidiri bangsa!
aduh! identitas manusia indonesia
sekarang seperti apa, ya?
ketika aku bercermin, di sana
ada gambar
sosok manusia dengan kosmetika globalisme,
baju internasionalisme, dan perilaku hedonisme!
Inilah identitasku saat ini:
Hidup Bangsa Indonesia!
lihat saja para politikus dan birokrat di
televisi
wah! apa beda mereka dengan Indonesian idol?
kan sama-sama
bertanding
untuk bersuara semerdu mungkin di depan rakyat.
mereka itu kayaknya belum pernah mendengar
kasak-kusuk rakyat yang bunyinya begini:
korupsi di negeri ini
kian hari kian menjadi
apa yang tak ada di negeri ini.
presiden korupsi, ada walau sudah mati
menteri korupsi, banyak yang masih meringkuk di bui
gubernur korupsi, banyak yang belum diadili
bupati dan walikota korupsi, banyak yang masih
antri
birokrat dan politisi ramai-ramai korupsi
ditangkap satu
muncul seribu
birokrat dan
politisi keparat
rakyat melarat...
berita di koran dan televisi, selalu saja
membuatku bersedih,
kemana lagi aku menghibur diri?
berikan
aku kacamata hitam itu,
biar kulihat sekelilingku semakin kelam,
mbelgedes telek benjret....
tanpa kacamata hitam pun, ternyata dunia sudah begitu legam,
Aku
tidak ingin Indonesia
tenggelam.
KETIKA RAKYAT BERPENDAPAT
Sudahlah,
Aku
melihat dan mendengar
dengan
hatiku.
Walau
kau bentang seribu alasan
Di
depan mataku
Aku
tak ingin melihat lagi
Walau
kau tabuh seribu keluh
Di
samping telingaku
Aku
tak ingin mendengar lagi.
Sudahlah,
Aku
melihat dan mendengar
Dengan
hatiku.
Aku
sudah punya gambaran yang jelas
Siapa
sesungguhnya sosok dirimu!
CICAK, BUAYA, MACAN
KORUPSI ITU BAU KENTUT
Korupsi
itu bau kentut.
Ibaratnya, di suatu ruangan berkumpul para penguasa,
tercium bau kentut.
Mereka tahu, ruangan bau kentut,
tapi karena mereka juga tahu,
yang kentut adalah mereka sendiri,
ya dengan senang hati,
bau kentut itu mereka nikmati.
Begitulah, karena lebih banyak yang
kentut,
ruangan itu menjadi ruangan yang
selalu berbau kentut.
Bau kentut sudah menempel di seluruh
bagian ruangan itu.
Dinding, lantai, atap, pintu,
jendela, meja, kursi,
bahkan tubuh mereka pun sudah
meruapkan bau kentut,
karena bau kentut sudah menyatu
dengan keringat di tubuh mereka.
Dan karena semua sudah bau kentut,
hidung mereka menjadi tidak sensitif
alias kebal terhadap bau kentut.
Bau kentut sudah bukan bau di dalam
hidung mereka.
Bagi mereka, kentut bukan lagi aib.
Toh, tiap hari mereka kentut
bersama,
dan bersama pula menikmati baunya.
Memang ada satu-dua yang tidak
ikut-ikutan kentut,
tapi karena ruangan sudah begitu
bau,
walau pun bau itu belum sampai
menyatu dengan keringat di tubuhnya,
bau itu ikut menempel di baju
mereka.
Alhasil, ke mana pun mereka pergi,
selama masih memakai baju itu,
bau kentut itu masih tercium juga,
dan tetap saja mereka dicurigai
penguasa yang suka kentut.
Sementara itu, rakyat yang berada di
luar ruangan,
tahu belaka kalau ruangan penguasa
itu menyebarkan bau kentut.
Ketika para penguasa itu keluar
ruangan dan berkumpul dengan rakyat,
aroma kentut dengan jelas tercium
oleh hidung rakyat.
Cuma, rakyat tidak punya bukti untuk
menuding
penguasa mana yang sudah kentut.
Bagaimana rakyat bisa menuding kalau
ketika kentut pantat mereka tidak berbunyi? Itulah masalahnya!
Mereka selalu kentut dengan
diam-diam.
Jadi, di antara mereka sudah ada
semacam kesepakatan
: boleh kentut kapan saja,
tetapi kentut itu tidak boleh
berbunyi.
Kalau yang mendengar bunyi kentut
itu
kawan-kawan sendiri sesama penguasa,
mereka bisa saling memaklumi.
Lha, kalau yang mendengar bunyi
kentut itu rakyat?
Bisa runyam akhirnya.
Rakyat jadi punya bukti otentik dan
obyektif,
siapa yang benar-benar sudah kentut,
dan yang ketahuan bunyi kentutnya
akan dituding beramai-ramai.
Dihujat, dimaki, bahkan diadili
hingga masuk bui.
Begitulah yang terjadi.
Para penguasa tidak takut
kentut selama tidak berbunyi.
Rakyat boleh tahu mereka kentut,
tapi tidak boleh tahu siapa yang
benar-benar kentut.
Bunyi kentut sangat dihindari karena
bisa menjadi bukti.
***
Hari-hari ini, bau kentut itu
menyengat sekali.
Rakyat sudah merasa muak dengan bau
kentut.
Rakyat marah melihat para penguasa
yang masih saja tidak mengakui
bau kentutnya sudah mencemari
seluruh negeri.
Ketika rakyat menuding,
mereka malah ganti saling
tuding-tudingan di antara mereka sendiri.
Saya tidak kentut, dia, dia, dia,
dan dia, yang kentut,
sambil tangannya tuding kanan, kiri,
depan, dan belakang.
Jadilah mereka sekarang
tuding-tudingan,
saling tuduh sebagai biang kentut.
Mereka tidak sadar, ketika bicara
pun,
mulut mereka ternyata juga sudah
meruapkan bau kentut,
tidak kalah busuknya dengan bau yang
keluar dari lubang kentut.
Kalau sudah seperti itu,
apa lagi bedanya lubang mulut dengan
lubang kentut?
Dan rakyat dibuat lebih
tergagap-gagap,
ketika ada pengusaha yang terus
terang mengaku
sudah sejak lama mensuplai dana
kepada para penguasa.
Pengusaha ini dengan lantang bilang,
bahwa dia sudah memberi penguasa
upeti berkeranjang-keranjang.
Dia beralasan, upeti itu sebagai
pelicin
agar dia, saudara, dan
teman-temannya,
bisa berusaha dengan aman.
Bahkan, bila memungkinkan, dia dan
kelompoknya
mendapatkan kesempatan menggelar
usahanya
persis di depan pintu ruangan.
Pengusaha adalah pengusaha.
Dia selalu saja mencari untung,
tidak peduli orang lain buntung.
Dia juga tidak peduli,
bila upeti yang diberikan membuat
penguasa khianat kepada rakyat.
Hebat bukan? Fantastis! Bombastis!
Sekarang rakyat tahu,
ada hubungan apa antara penguasa dan
pengusaha.
Ternyata memang ada kolusi di antara
mereka.
Sudah sekian lama pengusaha
mencekoki penguasa dengan upeti!
Pantas saja, di mana ada penguasa,
di situ ada pengusaha.
Ibarat dua sisi mata uang,
penguasa dan pengusaha menyatu dalam
keping yang sama.
***
Maka, ketika rakyat menggugat agar
penguasa tidak kentut lagi,
mereka bingung sendiri.
Walau badan bau kentut, mulut bau
kentut, baju bau kentut, rumah bau kentut,
hidung mereka tidak pernah mencium
bau kentut.
Bau kentut sudah menjadi bagian dari
diri mereka,
bagian dari hidup mereka.
Walau rakyat teriak mereka bau
kentut,
mereka tidak peduli.
Di hidung mereka,
bau kentut sudah berubah menjadi
parfum wangi.
Kalau sudah begini, masihkah ada
solusi?
Tentu ada!
Rakyat harus berani.
Berani bersikap dan bilang, tidak
ingin lagi bau kentut mencemari negeri.
Rakyat harus berani.
Penguasa yang sudah ketahuan
kentutnya berbunyi, harus diganti.
Penguasa yang mulutnya bau
kentut, harus dicabut.
Rakyat harus berani.
Pengusaha yang suka memberi
upeti, harus ditangkap, diadili,
dijebloskan ke bui, dan bila perlu dihukum mati.
Sekaranglah saat yang tepat rakyat
menabuh genderang perang.
Perang melawan korupsi.
“Say no to corruption!
Bilang tidak untuk bau kentut!
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Korupsi Itu Bau Kentut




































