<< Cermin (Cerita Mini) Cintaku Bersemi di Atas KM.Tidar  >>

Cintaku Bersemi di Atas KM.Tidar

E-mail Cetak PDF

CINTAKU BERSEMI DI ATAS KM.TIDAR
Oleh: Amierzeromind 

Ingatkah kau pada pada KM.Tidar sayangku? pada kursi coklat di dek enam di bawah sekoci yang bergantungan, pada kantin dek tujuh bagian belakang, dan pada kursi nomor dua-dua di dalam bioskop yang ada di dek dua? atau telah lupakah kau semua itu?apakah cinta kita telah menguning laksana foto dalam sebuah album tua? apakah tak kau lihat lagi warna-warni dan cahaya masa lalu kita, ketika cinta tampak bagaikan air laut yang pasang seolah takkan pernah surut saat bulan purnama?

Kupandangi kau, sayangku, bagaimana kau duduk di bawah sekoci yang bergantungan itu. Tatapmu kosong, dengan rambutmu yang panjang terurai tertiup angin, sesekali tanganmu membelai dan menyibak rambutmu  yang terurai menghalangi pandanganmu, serta senyumanmu selalu merekah dari bibirmu yang berwarna merah delima. Ya…di sanalah kisah kita berdua berawal, saat aku nekat menghampirimu dan mengajakmu tuk berkenalan.
Tahukah kamu sayangku? detak jantungku terasa kencang saat aku mengulurkan tanganku tuk berkenalan denganmu, masih jelas dalam ingatanku saat dirimu berkata “Nama kamu siapa?", tanyamu padakudan aku pun menjawab,  “Amir.” Aku kembali bertanya “Kalau kamu?", tanyaku kepadamu, ”Aziizah“, jawabmu. ”Nama yang begitu cantik secantik orangnya“. godaku padamu.
Kini usiamu dua puluh dua tahun dan aku dua puluh empat tahun.Meskipun demikian, saat mentari bersinar menerobos kamar jendela kamarmu seperti sekarang ini, ketika aku memandang garis wajahmu dengan latar belakang bunga mawar yang sedang merekah dan langit biru cerah, pesonamu kian memikat hatiku.
Ingatkah kau pada ciuman itu?ciuman pertama itu? kita bertukar saliva di malam ketika kita duduk berdua  memancing ikan diujung dermaga tua itu, sembari mengucap janji tuk bertemu kembali di sini.
Kupandangi engkau, Aziizah. Matamu tertutup rapat. Nafasmu teratur. Senyum kecil menghiasi bibirmu. Dan didalam hati aku tahu engkau pun rindu pada tempat saat kita pertama kali bertemu, di atas kapal Tidar, di bawah sekoci yang bergantungan, tempat cinta kita bersemi.
Joomlart