<< Cermin (Cerita Mini) Epilog (Episode Prolog)  >>

Epilog (Episode Prolog)

E-mail Cetak PDF

EPILOG (EPISODE PROLOG)
Oleh: Maha Raya Akbar

ANAKKU baru saja tidur, istriku sedari tadi, jengkrik-jengkrik pun sudah tidur, suara kodok tak terdengar lagi, mungkin juga sudah tidur. Tinggal aku sendiri, menjaga malam, berteman sunyi bercengkrama dengan senyap, tak ada kawan tak ada lawan perbincangan.

Sunyi membuatku terdiam dalam sepi, mencoba menikmati episode kesendirian di malam ini.  Aku berceloteh pada malam, jika malam dapat aku beli, akan aku setubuhi kesunyiaannya.

Aku ingin jujur padamu, bahwa percintaan kita dulu begitu menggurat tanda di hati ini, memberi jejak pada setiap langkah kehidupan ini.  Bahwa hadirmu dulu adalah keindahan.  Kendati keindahan itu, bahkan segala bentuk keindahan yang ada di dunia ini hanyalah semu tak bermakna.

Aku harus jujur padamu, bahwa malam ini, seharusnyalah dirimu yang tidur di sampingku, seharusnyalah buah hatiku keluar dari rahimmu, bukan dia, bukan seseorang yang baru aku kenal lantas aku mengucap janji kesetiaan terhadapnya.

Aku memang harus jujur padamu, cinta tak mengenal batas dan norma.  Bahkan terkadang cinta harus melanggarnya. Namun cinta seperti apa jika etika harus dikorbankan? Bukankah cinta itu agung, bermakna kesakralan yang tiada hingga.  Bukankah cinta adalah sebentuk kejujuran hati dan kesetiaan jiwa pada pasangannya.

Namun, lagi-lagi aku ingin jujur padamu, bahwa malam ini, saat kesunyian menemani hati, aku memang teringat padamu, teringat segalanya, teringat semuanya.  Namun, inilah hidup, beginilah hidup, yang tak selalu apa yang kita inginkan harus terwujudkan, yang tak selalu berharap keajaiban senantiasa menyapa diri, yang tak selalu mampu mengenyahkan kecewa dalam setiap langkah gerak kaki.

Inilah hidup, beginilah sejati-jatinya kehidupan, ada kecewa, ada tangis di atas ceria, ada tertawa di atas duka.  Seharusnyalah begini hidup, ada pengharapan yang tak berkesudahan, ada keajaiban yang datang tiba-tiba.

Hidup bukanlah penyesalan tiada akhir atas gairah yang tak membuncah, namun hidup adalah ajaran, adalah filsuf keikhlasan dalam menerima setiap kenyataan, pahit maupun manis.

dago atas’10

Joomlart