<< Cermin (Cerita Mini) Jum'at Pagi (Sebuah Pecahan Mozaik Kecil)  >>

Jum'at Pagi (Sebuah Pecahan Mozaik Kecil)

E-mail Cetak PDF

JUM'AT PAGI
(Oleh: Adhy Irianto) 

Ah! lonceng kuning tua itu berdenting lagi
Mengiang-ngiang-ngiang-ngiang di kulit lembu gendang dalam telingaku
Pagar besi logam berkarat berderak berderik bergeser perlahan-lahan-lahan-lahan
dan tergerendel! aku terlambat

Apa yang mau kucakap, tadi saat jam dinding rumahku yang berdetak mengisyaratkan 7 kali dalam dentang denting dentang denting dengtang dengting dengtung! aku bersama air seni masih bergolek mesra bersetubuh dengan ranjang, puah! lalu kubasuh muka dan wajah-wajah berandalan dicermin kamar mandi tanpa basuh tubuh untuk mandi membiarkan berjuta bakteri menggigiti dan lalat-lalat menghampiri, dipacu bagai kuda bagai banteng bagai singa kupacu berlari-yah berlari tanpa setetes bahan bakar terisi, terlihat dari jauh pagar besi logam berkarat berderak berderik bergeser perlahan-lahan-lahan-lahan dan tergerendel! aku terlambat

Apa dayaku, sesosok tubuh bernama guru menarik daun telingaku terasa bagai tercabut akar serabutnya, dengan lembutnya dan dengan kasarnya, dengan lembutnya nada, dengan kasarnya bara, ia bercakap :

“Hai! kau terlambat lagi!!”

Kugagahkan teguh berdiri di tengah terik matahari pagi bersama satu kaki, di daun telinga teruntai dua jari yang mengapitnya sampai nyeri, yah dihukum, aku di hukum.

Masa itu masa aku berbaju olahraga bercelana pendek warna merah.

Masa itu masa aku anak badung yang tak tau diuntung, anak nakal yang binal, anak kecil yang usil.

Masa itu, yah masa itu

Kubalas senyum manis makhluk bernama guru itu dengan bengis, kutatap matanya dengan tajam tanda perlawanan, tanpa kusesali, malam tadi kuterjaga sampai pagi, bersama sahabat nonton televisi, puah!!

Aku tak salah, aku benar-benar benar!

Guru itu pasti cemburu, mengapa aku lebih tampan dari wajahnya, yah dia cemburu. Aku terkekeh dalam hati dengan tubuh masih dalam kondisi teguh gagah berdiri ditengah terik matahari pagi bersama satu kaki, di daun telinga teruntai dua jari yang mengapitnya sampai nyeri

Aku berkata padanya saat dengan ramahnya dia menanyakan apa mauku, kubilang aku tak mau nasi, aku tak mau kasih, aku tak mau air, aku tak mau syair, aku tak mau permen aku tak mau kau! aku hanya ingin hentikan deraan yang menusuk hatiku ini.

Yah dia berkata dengan marahnya yang meluap-luap bagai air dalam belanga yang hendak tumpah, telah berpuluh, mungkin beratus, pun beribu kali kau buat hal tak baik, tak inginkah kau menjadi seperti teman-temanmu yang tak suka buat masalah

Aku tertunduk, tapi tak seonggok pun penyesalan hadir

karena;

Aku

Benar-benar

Benar!

Menurutku

Hingga dua puluh tiga tahun berlalu, kembaliku hadapi tembok yang melindungi saat kuhisap ilmu guruku, dengan wajah-wajah ceria anak-anak yang bercelana merah menyambutku bagai pemimpin baru yang dielu-elu, aku berganti jabatan, kini aku yang jadi guru.

Jum'at pagi itu aku menutup pagar yang sama, yang membelengguku dua puluh tiga tahun yang lalu yang memberi arti ketepatan waktu.

Seorang anak kecil, berbaju olahraga sekolah bercelana pendek merah datang dengan tergesa-gesa, dia memohon pintu gerbang kubuka untuk masuk leluasa, huh, enak saja gumamku, kututup rapat-rapat dan kukunci gerendelnya membiarkan dia menikmati teman-temannya menari dari balik jeruji.

Saat ditatapnya aku dengan penuh nafsu membunuh, seketika kutersentak, ah, itulah arti yang diberikan guruku dua puluh tiga tahun berlalu, di hari yang sama, saat aku dan anak itu merasakan arti yang sama, saat dia dengan penuh amarah, tanpa sadar kesalahannya, bah.

Sesalku tak ada arti kini, berterima kasih akan ketenangan yang menghukumku dan memberi arti mahalnya detik berlalu pun tiada sampai karena maut telah lebih dulu memisahkan dia dengan aku.

Dengan berdoa padaNya agar maafkan salahku dan dia yang dulu menghukumku, aku tarik telinga anak itu, kuseret dia ke tengah-tengah dan kubiarkan dia tegak teguh tegap berdiri di tengah terik matahari pagi bersama satu kaki, di daun telinganya terpasangkan jari tangannya sendiri yang mengapitnya sampai nyeri agar ia tahu diri

Agar dia tahu arti ketepatan waktu,

Aama seperti aku,

Dua puluh tiga tahun yang lalu.


Curup, 2011

 

Joomlart