<< Cermin (Cerita Mini) Cermin Mince_femince  >>

Cermin Mince_femince

E-mail Cetak PDF

SEPERTINYA SEBENTAR LAGI SAYA MATI
Oleh: Mince_Femince 

Kacung saya suka sekali bercerita, ceritanya macam-macam, dari yang lucu sampai yang nestapa, membuat saya tertawa bahkan menangis tersedu, Kacung saya memang agak gila.

Kacung saya suka sekali bercanda, candanya macam-macam, dari soal politik sampai agama, membuat saya pusing dan prihatin, Kacung saya sudah mulai sedikit lebih dari sekedar agak gila.

Suatu waktu Kacung saya tertawa tanpa alasan, tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata, saya jadi kuatir dibuatnya. Sepertinya Kacung saya semakin menggila saja.

Suatu waktu kemudian, kacung saya menangis tanpa alasan, menangis tersedu-sedu sampai napasnya tersengal-sengal, saya makin kuatir padanya. Sepertinya kacung saya sudah benar-benar gila.

Pagi ini saya mengajak Kacung saya berbicara dari hati ke hati. Saya harap dia mau berhenti gila lalu kembali normal seperti biasa, tapi pada akhirnya dia malah menangis-nangis di depan saya, kali ini saya takut dibuatnya. Kacung saya makin parah gilanya.

Hingga akhirnya saya jadi makin takut dan kalut, lalu mendadak terbersit ide gila di benak saya, harus saya lakukan demi kebaikan Kacung saya yang tiap harinya makin bertambah parah gilanya.

***************************

Majikan saya suka sekali bercerita, ceritanya macam-macam, dari yang lucu sampai yang nestapa, membuat saya tertawa bahkan menangis tersedu. Majikan saya memang agak gila.

Majikan saya suka sekali bercanda, candanya macam-macam, dari soal harga sayuran sampai pajak penghasilan, membuat saya pusing dan prihatin. Majikan saya sudah mulai sedikit lebih dari sekedar agak gila.

Suatu waktu majikan saya tertawa tanpa alasan, tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan air mata, saya jadi kuatir dibuatnya. Sepertinya majikan saya semakin menggila saja.

Suatu waktu kemudian, majikan saya menangis tanpa alasan, menangis tersedu-sedu sampai napasnya tersengal-sengal, saya makin kuatir padanya. Sepertinya majikan saya sudah benar-benar gila.

Pagi ini majikan saya mengajak  berbicara dari hati ke hati. Saya harap dia ingin menghentikan kegilaannya lalu kembali normal seperti biasa, tapi pada akhirnya dia malah berteriak-teriak memaki saya, kali ini saya takut dibuatnya, majikan saya makin parah gilanya.

Majikan saya suka sekali berteriak-teriak, teriakannya macam-macam, dari geraman hingga caci-maki, membikin saya tertekan hingga merasa ngeri.

Hingga akhirnya saya jadi makin takut dan kalut, sudah saya coba banyak hal agar majikan saya senang, tapi mendadak kegilaan majikan saya makin bertambah parah. Majikan saya kini tak hanya berteriak atau memaki.

Majikan saya suka sekali memukuli saya, alat pukulnya macam-macam, dari sapu sampai kursi, membuat saya memar hingga patah tulang. Majikan saya seperti setan.

Majikan saya suka sekali menyiksa saya, siksaannya macam-macam, dari guyuran air panas hingga pisau dapur yang kini bersarang di perut saya. Majikan saya seperti setan gila yang hilang kendali, sepertinya sebentar lagi saya akan mati dan semua akan terhenti sampai di sini.

---

Kepada Sang Malam Saya Melacurkan Diri

Kemarin malam saya melihat bulan begitu indah. Bintang-bintang yang mengitarinya pun terlihat cantik dan genit. Kenyataan itulah yang membuat saya jatuh hati pada sang malam, bukan hanya karena kemegahan sosoknya, namun lebih karena keanggunan jiwanya.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya saya kembali menyerahkan diri kepada sang malam dan sang malam dengan gagahnya akan menjamahi tubuh saya hingga terpuaskan nafsu kejantanannya, lalu setelah semua berakhir, sang malam akan membayar saya dengan taburan pernak-pernik yang menghiasi tubuhnya. Taburan bintang nan bermahkota purnama.

Sudah beberapa malam saya melacurkan diri pada sang malam. Memuaskannya sebagai pelayan, juga melayaninya sebagai pemuas. Saya bahagia. Tidak menyesal sedikit pun. Sebab sang malam membayar saya dengan harga yang pantas.

Malam ini saya hadir kembali dengan gaun senja dan mahkota mega. Saya ingin terlihat lebih cantik dari biasanya. Saya mencuri gaun dari sang surya dan meminjam mahkota dari sang cakrawala, bibir saya dipoles dengan gincu aurora dan tubuh saya disemprot dengan parfum nirwana. Saat mengaca saya terlihat bak dewi senja, mempesona tiada tara atau mungkin yang mempesona itu sebenarnya hanya busana saya saja ya? Ah... tidak mengapa! Sebab saya sangat jatuh cinta dan saya ingin sedikit merasakan bahagia.

Saya pun menantikan sang malam di tempat biasa, di batas cakrawala berteman burung-burung gereja yang hendak mencari persinggahannya. Saya menantinya sambil bersenandung ria, hingga perlahan sang surya mengucapkan kata “Sampai jumpa esok!” dan burung gereja tak lagi tampak kepakannya, pada akhirnya saya sendirian menanti kekasih hati saya.

Lama saya menanti namun malam tak kunjung datang. Hari telah setengah-setengah berangsur petang, belasan bahkan puluhan lagu saya berdendang. Namun malam tak kunjung datang, hingga akhirnya pada saat sang senja terbang menghilang. Sang malam pun datang.

Dengan wajah cemberut saya memarahinya...

Kau terlambat tiga jam, ungkap saya
Aku tak pernah telat Syakuntala, balasnya pada saya
Tapi saya sudah menunggumu sejak tiga jam yang lalu
Kau masih belum mengenaliku Syakuntala
Apa maksudmu mengatakannya?
Ya, tadi bukanlah senja, namun mendung yang menyamar menjadi senja
Hah?
Lihatlah gaun yang kau kenakan!

Saya memandangi gaun itu dengan heran bercampur kaget. Gaun yang tadinya indah dan senja berubah menjadi kelabu pekat. Saya pun tercekat, saya ingin segera melapaskannya jika masih sempat, namun semua terlambat.

Ketika saya mengagumi sang malam, ketika saya melacurkan diri pada sang malam, mendung memperhatikan saya dan mulai menaruh kagum. Dia merencanakan semua agar dengannyalah saya akan tenggelam dan kini saya terjebak dalam auranya yang kelam.

Kepada sang malam saya melacurkan diri dan kepada sang kelam saya terakhiri.

Joomlart