<< Cermin (Cerita Mini) Air Mata dan Senyumanku  >>

Air Mata dan Senyumanku

E-mail Cetak PDF
AIR MATA DAN SENYUMANKU
Oleh: Jio 

Seperti biasa nya jika mengingat semua tentangmu air mata ini akan kembali menghiasi pipi. Tak ada kata perpisahan hanya sepenggal pesan yang tinggalkan untukku, dan memintaku untuk melupakanmu. Awalnya aku hanya bisa diam terpaku mencoba untuk berfikir namun, fikiranku terlalu keruh untuk berfikir postif, aku terus menyalahkan keadaan hingga aku terpuruk mati dalam kebisuan hati. Apa yang harus aku ungkapkan sedagkan mencaci dia aku tak mampu, apa salahku hingga tega hanya sepenggal pesan saja yang dia tinggalkan untukku. Sampai akhirnya aku mendengar dia akan bertunangan dengan orang lain yang ternyata telah menjalin hubungan di belakangku selama 6 bulan. Dan selama itu juga cinta kutak pernah dianggap.

Apa yang bisa aku lakukan. Aku pasrah dengan keadaan saat itu, aku juga sedang berada di kampungku untuk menenangkan fikiran dan memulihkan kesehatanku yang sempat terganggu dengan keadaan yang mendesakku. Aku berharap apa yang dikatakan dia hanya sebuah mimpi buruk untukku ketika aku kembali ke kotaku. Aku selalu berharap aku akan baik-baik saja dengannya.

Setelah aku kemblai ternyata kenyataan yang aku hadapi, bukan mimpi buruk. Benar-benar tak bisa aku terima dengan mudah namun ini lah kenyataan hidupku harus bisa menerima betapa pedih nya hati ini harus merelakan orang yang aku cintai. Namun semua ada hikmah nya, aku mulai belajar untuk mencintai orang lain hanya karna-Nya dan ketika orang yang aku cintai tak bertakdir hidup  bersamaku aku bisa menerima semua itu dengan ikhlas walau butuh waktu untuk meyakinkan hati ini. Aku berusaha tegar saat aku harus datang melihat dan menyaksikan orang yang pernah menjadi bagian dari hatiku harus berdamping dengan orang lain tanpa mengatakan ssepatah kata pun kepadaku. Maaf pun tak pernah kudengar terucap dari bibirnya, hanya sepenggal pesan yang aku terima saat aku di kampung lah yang ada, betapa mirisnya hidupku harus berusaha tegar tanpa teman. Aku sendiri, bahkan tak ada yang tau kapan aku menangis kapan aku tertawa. Aku berusaha tetap baik dengan keluarganya karna aku tak ingin ada yang tau kalau aku pernah sakit hati dengan perlakuannya kepadaku. Senyum yang aku hadiahkan untuknya adalah tangisan perpisahan, saat ia mengikrar janji suci dengan orang lain, aku tak sanggup mendengar nya. Aku berjalan menjauh dari kerumunan yang menyadang senyum senang. Apa hanya aku yang merasa sedih di acara nya? apa hanya aku yang tak mampu menerimanya. Aku hanya berdo'a dan berdo'a dengan berjalannya waktu aku mampu menerima dan siap untuk melupakan segala hal tentangnya. 

Semakin hari semakin berubah, aku memang telah menemukan penggantinya, namun tak bisa kubohongi rasa itu awalnya hanya pelampiasan hati yang kacau. Aku juga tak ingin menyakiti orang lain dan tak ingin disakiti aku berusaha untuk mulai membiasakan diriku dengan penggantinya. Bobby ya itu namanya. Aku mulai menyukai gayanya walau aku belum bisa melupakan orang lain. Walau bagaimanapun aku berusaha tetap baik dengan keluarga orang yang pernah hadir dalam hidupku, aku tetap menjenguk mereka, dulu hampir setiap minggu aku akan mengunjungi mereka, dan sampai akhirnya harus aku dengar hal yang tak aku duga, orang yang selama ini aku anggap ibuku sendiri tega mencaciku di belakang. Rasanya semua yang aku lakukan sia-sia. Lagi-lagi aku bisa sabar dengan semua cobaan ini, aku mencoba menerima semua ini. Dan lagi-lagi aku menitiskan air mata ntah untuk keberapa kali, kali ini aku benar-benar tak menyangka orang yang aku sayang seperti ibuku sendiri tega mengatakan kejelekanku kepada orang lain. Padahal aku berusaha untuk menjaga nama baik keluarganya, tapi apa yang aku dapatkan? penghinaan.

Akhirnya aku memutuskan untuk tak mengunjungi mereka sesering yang aku bisa, aku terus berdoa agar hatiku tak pernah keruh dengan keadaan yang aku alami sekarang. Sekarang yang aku fikirkan adalah membuktikan kepada diriku, aku bisa jauh lebih baik dan mewujudkan mimpiku dan cita-citaku walau aku tau itu sulit. Hanya senyuman dan tangisan yang bisa aku lakukan saat semua cobaan dan nikmat datang menghampiriku. 

Joomlart