<< Cermin (Cerita Mini) Sebaris D'oa Cinta Pada Purnama Ke-enam  >>

Sebaris D'oa Cinta Pada Purnama Ke-enam

E-mail Cetak PDF

SEBARIS D'OA CINTA PADA PURNAMA KE-ENAM
(Oleh: Riyan El Jamel)

Terkadang jiwa kita menjadi buta ketika gulita selimuti telanjang mata bathin kita. Ketika luka lara dan nestapa gerogoti ruang-ruang hampa, dan cinta tak lagi berpihak pada Tuannya. Kata tak sanggup lagi menyurat peluh-peluh rasa yang tersisa. Raga tiada berdaya, mengungkap rahasia di balik tirai dan jendela. Kucoba untuk berkaca. Meski tanpa kacamata mataku seketika berkaca-kaca.

Aku terpasung dengan mata hampir terpejam. Muka lebam ditelan senja dalam temaram. Hampir aku terkubur, dalam galian yang dalam meski tanpa kutahu pasti entah siapa yang menggalinya. Kucoba tanyakan pada hati, benarkah ini lubangku? Inikah hasil galianku selama ini? Atau inikah lubang yang digalinya untukku, seiring penggalianku yang tiada henti. Terus kugali, kugali dan kugali lagi hingga aku terjerembab sendiri dan mati dalam wajah bumi yang telah tergali.

Namun hati kembali berseri, ketika purnama demi purnama kita lalui. Bersama dalam satu rasa, satu asa dan satu singgasana kala bersua, Cinta. Lihatlah, bias-bias cahayanya yang menggaris lalu menggores awan-awan hitam menjadi indah lukisan alam. Menjemput kita dari angkasa maya, dan menuntun kita pada nyata samudera, Cinta. Lihatlah, perahu cinta yang menanti di dermaga hati kita. Layarnya yang putih itu melambai-lambai. Begitu ceria ketika tertiup lembut dan sejuknya angin ketulusan. Pun riak ombak dan segala habitatnya turut pula bertasbih, seiring kita yang semakin fasih melafalkan suci doa dari ayat-ayatNya. Mari, kita arungi luasnya samudera dengan segenap irama gelombang-gelombang asmara. Nikmati segala keindahannya tanpa lupa akan badai dan gelora yang mungkin saja kembali melanda perjalanan kita. Dan doa adalah pengiringnya hingga tiba kita pada satu muara. Cinta-Nya yang Mulia.

Memang, pernah aku berkata "Enggan ku menghitung laju sang waktu. Biarlah waktu yang menghitung laju rinduku". Bukan pula aku terlupa pada kata-kata yang kurangkai itu. Adalah diriku yang dengan sepenuh kesadaranku dalam mencintaimu. Adalah diriku, yang enggan bermain-main dalam mengikat tali cinta kasih dan silaturahim yang terjalin, meski orang bilang hidup adalah permainan. Namun belajar untuk setia adalah kunci utama dalam mencinta. Terlebih bagi diriku sang pencinta yang sederhana. Pun tak lupa kupanjatkan doa pada waktu-waktu yang semestinya. Meski tak kukirimkan pesan, doa kuselipkan di sela himpitan juga lalu lalang ilalang kehidupan

Pada purnama cinta yang ke-enam ini, perkenankanlah kupanjatkan baris - baris doa. Doa yang sejatinya adalah sama dalam kita bermunajah kepada-Nya. "Wahai Engkau pemilik Cinta sejati, jagalah cinta yang bersemayam dalam hati kami. Yang kami bina hingga purnama cinta kami yang ke-enam ini. Ijinkan kami  terus menatap indah  purnama-Mu itu, dan biarkan kami menyimpan-Nya tuk terangi hati dan jiwa kami. Tuntun dan bimbinglah kami agar senantiasa berjalan dalam satu cinta, seiring jalan menuju Cinta-Mu itu. Jadikanlah ia yang kucinta, mengisi singgasana hatiku yang sedari dulu kosong ini. Jadikanlah ia yang kucinta, sebagai yang terakhir dalam perjalanan cintaku di dunia. Jadikanlah ia sebagai jawaban dari permintaan hati ini, setelah sekian kali kumencari hati di antara hati, karena  dengan hati-hati pun, luka kerap kutemui jua. Jadikanlah ia yang kucinta, sebagai pengobat luka-luka yang telah terpatri"

Untukmu Cinta, inilah sedikit cerita dan d'oa cinta yang kupanjat, meski tak semua yang tersirat tak mampu untuk kusurat. Namun tak banyak yang kupinta darimu. Kuingin kau tahu, di sini aku ada untuk mencinta dengan setia. Semoga kau pun sama pula, Cinta...

Joomlart