<< Cermin (Cerita Mini) Fiksi, Diksi dan Parafrasa  >>

Fiksi, Diksi dan Parafrasa [Abstrak]

E-mail Cetak PDF

FIKSI, DIKSI DAN PARAFRASA [ABSTRAK]
(Oleh: Andaka Rizki Pramadya)

Malam yang dingin, di tengah padang ilalang yang berbisik aku mendengar nyanyian alam, lagu pujian sang malam dengan rembulan mencakar setiap gelombang lautan yang bergemericik tenang. Aku berdiri menepis ombak dalam kelam. Aku terpejam memandang lautan. Aku diam diterpa angin malam. Hanyalah dengan semampai dahan kelapa aku bercerita, dengan daunnya yang mendengar tapi bisu, dengan akarnya yang memberi arahan tapi buta. Pikiranku, dalam sebuah kosakata khayalku, terjebak dalam jaring-jaring sebuah lagu, lagu getir kehidupanku. Semua: engkau, Tuhan dan dia memang tak pernah adil. Mereka mencibirku, memaki dan meludah di atas semua senangku. Mereka tertawa di bawah penderitaanku yang mungkin tak berujung. Aku hidup dalam derita yang kubuat sendiri, ku dramatisir, ku buat drama, drama bisu tanpa dialog. Yang kutahu hanyalah decak kagum penonton yang gembira, hanya itu. Mereka tak tahu setiap apa isi hati pemerannya. Yang mereka tahu hanya, gembira. Aku, dalam sebuah istana berpagar emas dan bertahtahkan berlian, hanya terlihat gembira dalam gelimang harta. Tapi, tak seorang pun tahu, apa isi hatiku. Tangisan, derita, kebusukan. Engkau yang di sana hanya memandang, pasti hanya tahu kemewahanku, hanya tahu asal-usul jubahku yang bertirai intan, tapi tak tahu kebobrokan tulang belulangku. Di gerogoti belatung, digerus emosi yang meledak-ledak. Mungkin kau tak tahu tentang jalan cerita ini, hanya sebuah pelataran tinta hitam yang terambang di atas bulir-bulir putih. Berbungah abu-abu. Aku hanya semu, mensketsa tinta putih di atas kertas putih, menulis tinta hitam diatas marmer hitam. Tak sinkron, tak terkandung apapun. Aku tahu rumahku bak bahtera raja Sulaiman, yang setiap malam dikalungi kunang-kunang, yang setiap bulan dikerlipi bintang dan lintang. Tapi itu tak cukup untuk menutup sebuah lubang dihatiku, kecil tetapi terlalu dalam. Sedalam palung Mariana. Tuhan, seandainya aku bisa menebak, siapa mereka yang melahirkan hamba,  di mana mereka tinggal, aku sungguh tak mengharapkan ini. Sebuah penjara emas. Aku hanya ingin, menari di atas menara pasir sederhana, tanpa atap tanpa lantai. Diambang waktu berdiri bersama, menitih setiap jengkal sisa umur dengan senyuman, berkaca di atas sebuah kehidupan yang lain. Kadang aku tak mengerti, tentang apa ini semua? Tentang kehidupan, kadang begitu sederhana, kadang serumit lukisan Monalisa, menyimpan sebongkah rahasia. Abstrak, dalam fiksi di otakku, kuikuti  ke mana ia pergi, kudiami di mana ia tinggal, kunaiki di mana ia berpijak. Kadang diksi dan parafrasa tak mampu memecahkannya menjadi sebuah unsur, hanyalah serpihan kata yang bercerai dan seonggok hati yang masih berkelana. Sesederhana itu. Fiksi terkadang dibuat terlalu abstrak.

Joomlart