<< Cermin (Cerita Mini) Hu dari nafasku, Kau dalam hatiku  >>

Hu dari nafasku, Kau dalam hatiku

E-mail Cetak PDF
HU DARI NAFASKU, KAU TIKAM HATIKU
(Oleh: Riyan El Jamel)

Hu, dua huruf yang sebelumya tak pernah ku tahu apa maksudnya. Kerap ku baca dalam sebuah rangkaian kata orang empunya, namun tak juga ku mengerti apa artinya. Penasaran pun menuntun diriku tuk kembali memanggil kembali apa yang telah tersimpan dalam long term memoryku ini. Entah seperti apa yang mereka maksudkan ataupun tidak, tentang Hu yang mereka tuliskan. Tapi inilah makna Hu yang aku rasakan, yang ku temukan dari apa yang pernah aku lakukan. Dan coba aku paparkan, karena kini pun turut pula aku goreskan dalam kata-kata yang coba kurangkai itu.

Adalah sebuah jama'ah muhasabah di mana kami bermunajah dalam wasilah, yang kami awali dengan ta'awudz dan basmalah. Hingga berkah melimpah, yang nyata terasa setelah kami sudahi dengan surotul fatihah. Tak lupa sang imam menuntun kami tuk bersama-sama merapal lafal-lafal suci-Nya. Kami bersama, tapi kami bertemu sendiri-sendiri. Mungkin pula takkan sama, apa yang kami rasakan meski kami berangkat dan berkumpul dalam tempat yang sama, dengan rapalan dan lelaku yang sama pula. Semua kembali pada hati, tentunya. Apa niatan hati dan sampai dimana kita menjauh dan mendekatkan diri. Seberapa kita minta dan seberapa kita memberi, hanya kita pribadi dan sang Ilahi yang benar-benar tahu akan hal ini. Tanya dan rabalah sendiri.

Tak lupa kami bermeditasi, menenangkan diri setelah bersama kami merapal lafal-lafalNya. Lembut hembus angin malam menerobos ruang. Setelah kami sempatkan tuk menahan laju sang nafas, di mana saat itu juga kami coba tuk khusyu. coba kami satukan hati dan pikiran. Tak ada yang lain. Terkecuali diri dan sang khalik. Sunyi sepi. Tenang dan damai. Itulah yang ku rasakan, ketika Hu ku ucapkan setelah ku hirup angin malam yang menjadi awal tuk kami menuju ketenangan, Ketika nafas pun kami tahan. Dan, pasrahnya jiwa pada-Nya, nyata-nyata ku rasa ketika kembali ku lepaskan nafas yang kami tahan. Dengan senantiasa terucapkan "ALLOH..." tentunya. Benar-benar suatu ketenangan dan kedamaian yang mendalam, hingga tak jarang kuteteskan bulir-bulir airmata ini. :-(

Berawal dari situlah, kini senantiasa ingin kembali ku lakukan. Meski tanpa harus dengan tata laku yang sama, tapi dalam setiap nafas yang mengiringi setiap langkahku. Hu ku temu dari nafasku, Kau ku rasa dalam hatiku!

Purwokerto, 09052011

 

Joomlart