<< Cermin (Cerita Mini) Dia  >>

Dia

E-mail Cetak PDF

DIA
(Oleh: Andaka Rizki Pramadya)

Kala candi fana di atas langit mengoranye, hanya doa lantas terucap. Kala cinta melanglang buana menari berpulang, hanya rela yang memelukmu tenang tanpa hasrat.

Dia, dia yang duduk di atas singgasana kecilnya. Suram dan tak berharap. Dia, yang hanya diam dan mematung, menerangi setiap sudut harinya dengan kegelapan. Dia, yang hanya muram, menatap tajam bila ia pilu. Pilu dan resah, bukankah itu yang selalu ia rasakan? Ya, sekali lagi Dia yang hanya menyalahkan keadaan tanpa ada kemauan untuk memperbaikinya. Dia adalah Dia yang kehilangan dirinya. Dia, gadis belia berambut ikal. Yang dulu selalu tersenyum simpul, menyapa setiap muka yang melewatinya dari sudut gang. Menegur segala insan yang mengenalnya. Dia, berpenampilan sederhana dan anggun. Dia yang selalu menghias setiap jengkal ruang hidupnya dengan bunga. Bunga mawar putih yang kelopaknya satu persatu jatuh bak hujan di musim semi. Bau khas yang membuat hatinya menjadi teduh. Disetiap senja mulai memburamkan pandangan ayam, Dia duduk di beranda rumahnya. Menanti sang Pak Pos menyampaikan satu dua kata kemudian menyelipkan beberapa surat yang sudah lama ia tunggu. Tapi memang dewi fortuna belum terbang disekelilingnya. Sudah satu dua jam ia menunggu, tetapi sang Pak Pos tak juga menampakkan batang hidung sambil mengayuh sepeda anginnya yang berbunyi sangat khas. Meskipun begitu, senyum yang menenangkan dari wajahnya tak berubah satu senti pun. Walau senja telah bosan dan berganti bulan dengan cahya muramnya. Dia tak pula berganti posisi. Tetap saja ia berharap akan surat yang ia damba. Dia yang sedang termenung di tengah bulan purnama menarik perhatian seorang nenek yang tak sengaja melewati rumah Dia.

Nenek tua itu memberanikan diri untuk bertanya, “Apa yang membuat anak cantik sepertimu duduk sendiri bersama sinar rembulan?”
Dia tersenyum manis ke arah sang nenek tanpa berkata apapun dan kemudian Dia menatap hamparan padi yang menguning di depannya. Sang nenek yang semula bingung sekarang mulai sedikit mengerti.
Nenek berambut putih itu menghela nafas kemudian bertanya kembali, “Aku mengerti dan salut pada kesetiaanmu. Tetapi bukankah lebih baik kalau engkau tak hanya diam dan menunggu?” kata sang Nenek sambil menawarkan sebuah roti berbentuk hati kepadanya.
Dia melayangkan pandang ke sang Nenek, tetapi kali ini sorot matanya tak kosong. Pandangannya begitu penuh arti.
Kemudian ia berkata lirih, “Menunggu sepucuk dua pucuk surat dari yang terkasih yang berada jauh di seberang”, sambil menerima setengah dari roti-bentuk-hati dari sang Nenek.
Dia memandang setiap detail rotinya. Ia meraba rotinya yang begitu halus, warna kecoklatan dari kulit roti itu mengkilat oleh sinar rembulan. Roti itu mengeluarkan lelehan cairan berwarna merah dari dalam intinya. Dia mengerutkan dahinya kemudian sedikit menggigit bagian tengah dari roti tersebut. Pahit. Tapi tetap saja Dia tak mau memunculkan wajah tak suka di depan sang nenek. Roti itu terasa anyir dan pahit, sampai-sampai Dia ingin muntah tetapi ia tahan karena rasa tidak enak di depan sang nenek yang memberikan roti tersebut.
Matanya terpejam menahan rasa roti itu sembari terdengar suara nenek itu, “Pahami dan renungkanlah nak!” Dia menoleh penasaran, tetapi kosong yang ia dapat. Hanyalah bungkus roti yang kosong dan segera pergi ditiup angin. Ke manakah nenek itu? Dia bertambah bingung. Apa maksut pesan terakhir nenek tadi. Tetapi ia tak berganti dari pendiriannya, tetap menunggu dalam harap. Kokok ayam dan terpaan hangat sang surya menyeruak masuk ke kelopak matanya yang kering. Perlahan-lahan ia mengedipkan matanya yang sembab. Dia tampak tak bosan menunggu surat dambaannya. Kali ini dia berdiri dan berjalan menuju tanaman mawar putih di pekarangan rumahnya. Ia memandanginya sejenak. Melihat satu pemandangan yang miris. Di saat semua bunga di tanaman itu mekar, tetapi hanya satu bunga yang tak mekar dan menguning. Dia merasa iba terhadap bunga itu. Ia petik bunga layu itu. Kemudian ia menadahnya di atas telapak tangan. Dingin senyap tanpa satupun dialog. Dia duduk di tempat ia pertama kali duduk. Dia sekarang tak tampak sedang merenung, Dia memperhatikan bunga yang layu itu. Ia memetik satu persatu mahkotanya sampai ia melihat seekor serangga pemakan tanaman yang sedang asik memakan bagian dalam mawar itu. Dia kaget dan menangis sejadinya.
Di isak terakhirnya, Dia berkata, “Mengapa aku menangis hanya dengan melihat sebuah mawar putih yang dimakan hama?” butuh beberapa jam untuk memahami dirinya sendiri, mengapa ia menangis sampai akhirnya kemelut di otaknya berakhir karena suara bel sang Pak Pos. Ia tersadar dari lamunannya. Hari sudah senja sejak ia berfikir pagi itu. Pak Pos yang biasanya bercakap-cakap terlebih dahulu dengan Dia, sekarang hanya meletakkan surat, diam dan pergi. Dia berlari menuju kotak surat di depan pagar. Dia mencari-cari sosok Pak Pos yang tak biasa, tetapi sayang, Pak Pos sudah menghilang di persimpangan jalan. Dia mengorek-orek kotak pos berharap sekali menemukan surat yang ia tunggu-tunggu. Satu persatu surat yang ditujukan olehnya ia buka. Sampai surat ke sepuluh, ia tak menemukan surat yang ia harapkan. Di saat tangannya mulai menyerah mencari, Dia memfokuskan pandangan pada sepucuk surat berwarna putih bemotif hati. Segera ia buka surat itu dan segera pula ia tahu bahwa itulah surat yang ia tunggu-tunggu. With Love, kata awal yang ia baca. Lima menit Dia membaca surat itu, sampai akhirnya menemukan selembar undangan. Undangan apa gerangan ini? Dia membuka perlahan undangan itu. Tetapi seperti waktu tak mengizinkan Dia membukanya angin menerbangkan undangan itu memaksanya lepas tangannya dengan lembut. Dia yang sudah mulai membaik rona wajahnya kini kembali buram dan sendu bak mendung yang mengalungi bumi. Dia berusaha bangkit dari persinggahannya dan mengejar sang angin, tapi ada daya. Undangan itu hanyut di jernihnya aliran sungai di sebelah bungalow tua. Kertas undangan itu terus memburam ditelan aliran air dan akhirnya hilang di antara batuan sungai. Dia yang berdiri di atas jembatan hanya bisa diam tanpa ada sedikitpun usahanya untuk mengambil. Dia kembali sambil membawa angan tentang undangan tanpa tahu apa isinya. Dia duduk di atas ayunan dengan lilitan mawar putih di rantai-rantainya. Dia hanya bisa tertunduk lesu dan terus diam. Dia yang duduk bersila di atas ayunan terasa nyaman ketika angin mulai mengayun-ayun. Sampai akhirnya Ia pun lelap dalam dekapan angin. “Andai..” suara itu mendengung seperti nyanyian lebah, berkali-kali. Dia berdiri di sebuah tanah putih yang kosong tanpa siapa atau apapun. Dia hanya bisa mendengar satu kata yang diucapkan berulang tanpa nada, terasa mendesah. “Andai..”. Seperti meringkuk lemah tanpa upaya, suara itu terus menerus menggema di sudut dengarnya, semakin lama semakin keras, lalu pelan kemudian datar. Suara itu membuat hati dan otaknya tak tersinkronasi sampai akhirnya ia jatuh dalam taburan bunga mawar putih yang menguburnya. Matanya nanar. Hanya mimpi. Dia bangun dari ayunan tua yang ia duduki, ayunan itu terus berdecit sampai membuat telinganya miris dan Dia pergi dari ayunan itu kembali ke persinggahan kecilnya di sudut teras rumah yang dingin. Matanya menyapu hamparan padi yang sudah mulai hilang dipanen petani. Ia memfokuskan pandang pada seekor kerbau yang sedang membajak sawah sambil ditunggangi oleh seorang petani, petani dengan wajah gusar dan garang. Ia terus mempekerjakan si kerbau tanpa henti tanpa melihat raut muka lelah yang memancar dari kerbau tersebut. Dia mengerutkan dahinya karena miris. Mengapa ia tidak berontak dan lari darinya? Mengapa ia mau saja menuruti setiap perintah petani itu padahal ia sendiri merasa tak nyaman? Di kala hatinya masih berkutat dengan kerbau dan si petani, tiba-tiba datang limusin berwarna silver yang datang dengan anggun dari arah matahari tenggelam. Dia memperhatikan mobil mewah itu dengan seksama, terlihat siluet hitam keluar dari belakang. Siluet seorang lelaki. Mungkin. Matahari sore itu membuat pandagannya hanya hitam dan oranye. Siluet lelaki itu semakin mendekat membuat pandangannya akan sosok itu semakin jelas. Semakin jelas sampai membuat matanya menurunkan bulir-buir berwarna bening yang menetes tanpa henti. Sosok pria itu, lelaki yang ada di hatinya, yang selama ini Ia tunggu tanpa ada kepastian. Datang tanpa sedikitpun tanda. Dia yang tampak lesu jadi lebih sumringah, garis warna hitam yang menutupi wajahnya kini memudar dan membuatnya tampak lebih cantik. Ia berlari kearah pria bertubuh tegap itu kemudian memeluknya erat. Tangisnya memuncak, ia bisu tanpa kata-kata tapi rona matanya mengucap beribu kata dengan berjuta makna. Pria itu balas memeluk tapi terlihat begitu menyesal, dalam pelukannya memancarkan kesedihan yang amat mendalam.
“Aku, kesini bukan untukmu”, katanya dengan nada berat.
Dia tetap diam, hanya menatap kekasihnya tajam.Terus begitu sampai kekasihnya memberanikan diri untuk melepaskan pelukannya dan berkata,
“Bukannya ku tak mencintaimu, tapi keadaan yang tak mengizinkanku mencintaimu”, bibirnya bergetar, “Kalau tidak untuk kembali mencintaiku, untuk apa kau kembali ke tempat di mana kita pernah menjalin hubungan di singgasana cinta kita?”
“Bukankah kau sudah menerima undangan dariku, itu adalah undangan pernikahanku,” sambil menghela nafas panjang pria berpostur tinggi itu mengakhiri kalimatnya. Dia kembali menatap kearah rumput, dan tetap terus diam. Dari pipinya yang putih terlihat linangan air mata kembali jatuh. Tapi hanya sesaat kemudian ia tersenyum kembali kearah kekasihnya yang akan menikah. “Selamat dan terimakasih sudah pernah memberikanku hari-hari terindah dan maaf undanganmu entah ke mana, angin memang tak mengizinkanku membacanya.” Melihat ketegaran hati Dia, kekasihnya kembali memeluknya erat sambil menangis, ia berkata, “Maaf, maafkan aku Dia, aku memang pria terbodoh yang telah meninggalkanmu demi amanat orang tuaku, tapi inilah pilihanku, amanat mereka lebih berharga dari pada cinta kita yang sesaat ini.”
“Pergilah, jika aku ada di posisimu aku akan melakukan hal yang sama”, ia mendorong tubuh kekasihnya perlahan, seperti merelakan kekasihnya pergi dengan wanita pilihannya.
“Maaf dan akan terus ku meminta maaf di sisa akhir hidupku bersamanya, selamat tinggal Dia. Pasti ada seseorang yang akan mengerti kamu daripada aku.”

Pria itu menjauh dari Dia sambil terus melambaikan tangan perpisahan ke Dia. Dia hanya mengangguk rela. Pria itu kemudian pergi ke arah matahari beradu bersama limusin mewahnya. Dia memandang lama mobil limusin yang semakin lama semakin mengecil. Dia menangis kembali. Hanya saja ia sekarang tak terisak. Hanya tersenyum dalam kepahitan dan menangis dalam senyuman. Sampai detik ia duduk di dalam peraduan hitamnya, ia masih menyimpan serpihan demi serpihan kenangan bersama kekasihnya. Hanya saja, sekarang ia tidak bisa menyatukan cintanya lagi dengannya. Hanya melabungkan cintanya di atas awan kelabu yang kemudian diterbangkan oleh kenyataan pahit bahwa kekasihnya tidak lagi bersamanya dan tidak memilihnya. Dia yang sudah merasa hidupnya telah dibawa pergi oleh kekasihnya memutuskan untuk diam, diam dalam semuanya. Hilang dan sunyi. Sampai ketika waktu sudah tak memberikannya keleluasaannya untuk menghirup udara segar di desa, ia masih diam dalam harap kosong bersama kekasihnya. Diam dalam kenangan pahit yang melanglang buana di sudut hatinya.

Joomlart