KEJUTAN DI BALIK KEJUTAN
Setelah jadwal penerbangan yang ku ambil lebih cepat dari yang ku abarkan, mungkin masuk dari pintu belakang akan cukup mengejutkan. Aku tahu ia tak akan jauh-jauh dari sana.
Berjalan di samping rumah, hidungku mencium aroma pekat. Lebih dekat, lebih menyengat.
“Jangan!” teriakku saat melihatnya menyalakan kompor gas.
“DWAARRR!!” refleks kedua tanganku melindungi kepala. Api mulai membara. Mataku terus mencari Mbak Eka dan mulutku tak henti berteriak, “Toloooooonnggg. . .!!!”
***
Sayuran, udang, daging ayam, teriris segar.
“Hachiiimm... Ah, Lina pasti lahap makan capcayku,” seruku di sela-sela flu menanti kehadiran adikku siang nanti.
Sesosok yang ku kenal nampak terengah-engah berhenti di pintu. Hah? Lina? Aku mendekatinya kegirangan sambil tanganku mencoba menyalakan kompor.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Kejutan di Balik Kejutan





































