MERAGU
Apakah dirimu siap. Seandainya aku benar-benar mencintaimu. Dengan segala kecemburuan dan ego yang kuinginkan terhadapmu? Dan apakah kau siap seandainya aku tidaklah mencintaimu. Dengan kasih sayang dan cinta yang jauh dari harapanmu? Masihkah terus ingin memilikiku?
Aku pergi. Lagi. Ada makna tersembunyi yang dicari. Tentang jati cinta itu sendiri. Aku mulai meragukan kata itu memang. Tapi kita telah tiba pada tepian ini dengan kapal yang telah siap untuk mengangkut jiwa dan tubuh kita. Maka pertanyaan ini muncul siapkah kita mengarungi bahtera hidup bersama? Janji saling setia yang sesungguhnya, yang ikrar tidak hanya kita namun juga persaksian seluruh mata? Sanggupkah?
Aku tidaklah mengulang, apalagi mengingkari janji yang telah ada sebelumnya. Tapi sakit kini lebih baik daripada kehancuran di depan. Kita percaya bahwa ini hanya ingin sekali saja terjadi. Sungguhpun, seandainya sebuah pedang mengancam keselamatanku, memintaku melepaskan ini. Maka biarlah darahku sebagai tebusan atas kisah ini.
Bukan tentang aku yang merugi. Tapi tentang dirimu yang mungkin akan menyesali.
Apakah dirimu siap. Seandainya aku benar-benar mencintaimu. Dengan segala kecemburuan dan ego yang kuinginkan terhadapmu? Dan apakah kau siap seandainya aku tidaklah mencintaimu. Dengan kasih sayang dan cinta yang jauh dari harapanmu? Masihkah terus ingin memilikiku?
Aku turut padamu. Kau katakan ingin membersamai ini, kisah dan perjalanan kita bersama. Menuntutku karena telah berjanji. Baik, siap. Aku turut bersamamu. Tak kan kutinggalkan yang telah kuiyakan. Jadilah kita bersama.
Aku turut padamu. Kau katakan kaupun mulai meragukanku. Baikkah jika kita bersama? Tanya hatimu. Baik, aku siap kau tinggalkan. Meskipun saat itu angin berkata kaulah yang terbaik yang pernah singgah. Aku ikhlas, dan belajar untuk melepaskan. Untuk melihatmu bahagia. Ambillah selendang peri yang kau butuhkan.
Tak ingin aku berlarut dalam ragu ini. Maka berjalanlah kaki mencari makna. Perjalanan membuatku lebih memahami seperti halnya dirimu yang menyadari saat ditinggalkan. Izinkan aku pergi, sendiri lagi. Kali ini.
Kau tau kini. Aku meragukan diriku sendiri. maka ini menjadi fase yang penting. Untuk selanjutnya kujelaskan rasa dan harapku terhadapmu. Dan penilaianmu setelah itu adalah keputusan. Akankah kau memilihku untuk bersamaimu?
Aku pulang untuk mengatakan dan kau menunggu agar memberi keputusan.
Sebersit tanya dihatiku: adakah kau ragu? Apapun itu...
Kapoek, 080511
dalam ruah air dan tanya,
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Meragu





































