<< Cermin (Cerita Mini) Kutanam Asa di Sudut Pantai Kuta  >>

Kutanam Asa di Sudut Pantai Kuta

E-mail Cetak PDF

KUTANAM ASA DI SUDUT PANTAI KUTA
Oleh: Andakarizki


Jauh, sangat jauh dalam hati ini, kusibak sebuah rahasia. Rahasia yang sebelumnya tak pernah kuucap, tak pernah sedikitpun bibirku berkata pada seorang pun. Hanya dengan ini, menggores tinta yang bisa kulakukan tuk membuatnya nyata. Tak hanya sebagai konteks maya dalam otak yang tak terorganisir. Sebuah untaian kata indah 'tuk sahabat yang pernah mengisi ceruk-ceruk jiwaku yang kini kosong.
Andai, bisa terulang..
Beribu asa yang kita tanam di sana.
Sekarang, mungkin telah berbunga, merekah indah.
Tapi sayang, semua tak bisa kembali kupandang.
Waktu. Memang tak akan mau berhenti, menoleh saja pun tidak.

Andai, bisa kembali,
Bersama kita lalui. Melihat deburan ombak Kuta, mendengar sayu nyanyian pohon kelapa, menapak telanjang kaki di bibir pantai Kuta.
Melihat cahya oranye dari indahnya lembayung Bali.

Canda, tawa yang kala itu kita lontarkan, tak kusangka itulah yang terakhir. Sekarang hanya bayang, semu.
Disaat ku dapat merantai mengulang waktu, hanya terasa getir.
Mengulangnya? Menatapnya pun miris.
Begitu indah sangat indah sampai aku tidak bisa terus mengingatnya.

Kalian sosok yang begitu membekas di benak, andai kalian tahu.
Kala itu aku menerawang pandang ke langit kuta yang menguning, kuukir nama kita semua.
Ingin kuhentikan pasir waktu, walau hanya satu jam.
Melihat sosok kita dahulu.

Andai bisa kuurai kembali, celoteh indah kita disana. Tapi semua apa daya, kita terus merekah dewasa, menapak hidup masing-masing. Menderu indah melantunkan nyanyian kesuksesan yang kita bawa. Nanti, disaat kita semua berubah total. Dan masihkah pulau dewata meningat kita yang telah menorehkan sedikit harapan bertemu lagi di sana? Entah..

Joomlart