<< Cermin (Cerita Mini) Nocturne  >>

Nocturne

E-mail Cetak PDF

NOCTURNE
(Oleh: C. Sasmita)


Kepada sebuah pencerahan… atau mungkin ini adalah ketersesatan?

Biarlah jawaban menjadi perdebatan…

Kini aku lebih bisa menghargai sebuah pertemuan dan memaknai setiap perpisahan. Bagaimana dengan penyesalan? Ternyata itu hanya bumbu untuk memicu sebuah kerisauan.

Kini aku digoda bagaimana nikmatnya sebuah nafas, dan gairah sebuah denyut. Aku begitu merindukan bara yang sekarang kian meredup. Ah… hidup… seandainya aku bisa lebih menghargai sisa setiap detik yang diperuntukkan padaku.

Seharusnya saat senyum kala seorang bayi lahir, bayi itu tidak menangis namun ikut tersenyum karena begitu bahagianya melihat dunia. Lalu saat ada tangis kala tubuh mendingin meninggalkan kehidupan, jiwa itu tidak bisa bahagia karena orang-orang telah berduka untuknya. Mengapa hal yang berlawanan selalu diam berdampingan? Biarlah jawaban menjadi perdebatan….

Kini dalam tubuh plasma ku, kuperhatikan baju-baju hitam itu…. Ibu, jangan menangis… Ayah juga… karena pasti ada rasa bersalah yang mengikat tubuh halusku ini.  Kepada adik-adikku, kini tugas  kalianlah untuk membahagiakan mereka, karena aku begitu banyak keterbatasan untuk bisa kalian lihat dan raba. Namun aku yakin kalian akan senantiasa bisa merasakanku… aku akan selalu hidup dalam kenangan kalian bukan?

Kumohon jangan rusak kebahagiaanku, karena kulihat kawan-kawan lamaku juga datang. Aku begitu senang bisa melihat mereka setelah sekian lama tidak pernah bertemu, walau sayangnya kembali aku harus menikmati senyum-senyum getir itu. Sudahlah kawan… aku begitu beruntung pernah ada kalian di hidupku, sahabat-sahabat yang selalu mengulurkan tangan untukku saat ku terpuruk dan jatuh.

Lalu kakiku melayang memeluk sebuah sosok. Kekasihku…. Orang yang paling kucintai sekaligus kubenci… Apa kabar? Bisikku. Namun yang kurasakan hanya nafas berat yang tertahan. Aku tidak begitu peduli dengan perasaanmu saat ini, karena cinta itu kembali kurasakan dalam tubuh hampa ini, rasa yang telah lama kurindukan telah kembali meski jantung tak lagi berdetak. Adakah hal lain yang lebih membahagiakan saat kekosongan ini kembali terisi? Hihihi…. Kekasihku lucu sekali! Lalu aku mengecup keningnya sekali lagi.

Kemudian pikiranku tertuju pada sebuah dipan dengan lentera minyak. Ah itukah cahaya kehidupanku? Begitu lemah sekali ternyata… Lalu kembali aku teringat masa-masaku yang berkobar. Takut api kecil itu akan tertiup angin dan mati, adikku melindunginya dengan jemarinya yang masih mungil. Pandangannya yang berair menggelitik senyum haru…

Lalu tubuhku…. Entah mengapa tubuhku begitu wangi? Ah… rupanya aku sudah mandi dan dibalut harum dupa mewangi. Aku tidak pernah tahu betapa cantiknya tubuhku itu. Padahal dulu setiap hari aku bercermin, lalu tersenyum getir akan keburukan diriku dan ternyata hal yang selalu terlupakan adalah bagaimana cara agar selalu bisa bersyukur.

Aku tidak pernah mengira bahwa aku tampak cantik terbalut kain putih itu.  Dan satu hal yang membuatku mengiklaskan badan yang tiba-tiba redup begitu saja saat seharusnya aku membuka mata dan menghirup udara dipagi itu adalah saat tahu sebuah senyum mengembang untukku. Dari tubuh kaku dan beku...Sedang tidurkah aku? Ah… sedikit pangling. Aku mati….

Mati? Benarkah? Ah… tidak ada yang namanya kematian!! Satu hal yang ku ingin mereka ketahui bahwa aku tidak pernah mati… aku hanya berubah bentuk… menjadi  angin, menjadi air, bersatu dalam tanah, debu dan mentari. Bisakah kalian mempercayainya? Jika tidak, saat kalian berteduh disebuah pohon, lalu angin bertiup dan dedaunan bergetar, yakinlah bahwa saat itu aku sedang menyapa kalian....

-SELESAI-

Joomlart