Oleh: Riyan El Jameel
Enggan ku tuk lebih terlunta, di beranda rumah-Mu ini turut pula aku terbaring, lemas. Meski ku lihat nyamuk dan serangga - serangga itu begitu riang akan kehadiranku. Mereka begitu riang, karena kan hilang lapar dan dahaga yang mereka pendam sebelumnya. Namun aku pun rela, karena itulah yang dapat mereka lakukan tuk Bertahan, seperti halnya diriku. Tak kan kering aliran darah dalam tubuhku, juga samudra cinta dalam jiwaku.
Di beranda Rumah-Mu, ku tumpahkan tangis rindu di antara indah kalam Suci-Mu, meski tak turut pula langit itu menangis untukku. Ku pasrahkan galau hatiku, di antara lalu lalang roda dalam putaran. Diantara bising suara mesin - mesin yang kian meraung menderu di tengah kilau cahaya lampu kota. Kebisingan itu membuat tangis rinduku terdengar begitu lirih, bahkan mungkin tak terdengar sama sekali oleh orang - orang di sekitarku. Namun aku percaya, Engkau maha mendengar karena Engkaulah Maha Segala Maha, ya Rabbku.
Waktu terus berjalan. Malam kian jauh meninggalkan petang. Tak ku lihat rembulan bertengger menghias malam, namun masih ku lihat gemintang yang tetap pancarkan cahaya terang. Hembus angin malam ku rasa mulai menusuk sukma. Ketika hawa dingin dari ruang beranda yang beralaskan keramik itu menyeruak, dan seakan menyibak dua lapis kain yang menempel di tubuhku. Perlahan mulai menggigil raga ini. Namun aku tetap bertahan, dan coba kembali ku hangatkan dengan terus ku lafazkan ayat - ayat suci-Mu. Juga dengan indah kenangan dan hangat cintamu, duhai kasihku.
Aku kan bertahan hingga hingga shubuh kembali memanggilku. Hingga cahaya mentari kembali membelai lembut kulitku, dan bangunkan aku dari mimpiku. Berharap dapat ku bertemu dalam nyata. Apa yang selama ini ku damba, yang aku panjatkan dalam nada dan doa dengan sepenuh irama jiwa, di antara lika liku perjalanan ini. Di Beranda Rumah-Mu ini ya Ilahi Robbi...
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Di Beranda Rumah-Mu




































