<< Cermin (Cerita Mini) Rembulan Pun Merindu  >>

Rembulan Pun Merindu

E-mail Cetak PDF
REMBULAN PUN MERINDU
Oleh: Riyan El Jameel

Ku ingin kaulah rembulan untukku. Dan biarkan aku menjadi mentari bagiimu. Hingga bersama kita hangatkan bumi hati, dengan cahaya cinta kita. Hiasi langit jiwa dengan indah senyuman. juga kerlip gemintang, yang kita gantungkan di dinding malam.

Malam kian merangkak. Mengendap - endap menuju pagi. Rembulan terdiam diantara pekat. Wajahnya tak lagi berseri. Pucat pasi. Seperti hendak mencari separuh jiwanya yang masih juga bersembunyi, di antara rotasi bumi. Tak lagi ku lihat senyumnya yang dulu kerap  indah merekah. Hingga ia sampaikan sedikit suara hatinya pada sang mentari jiwanya, “Wahai mentariku, sungguh aku tak ingin mereka melihat wajah pucat pasiku ini.”dengan tenang mentari jiwanya itu pun menjawab. “Memang apa yang sedang terjadi dengan dirimu, apa yang membuat wajahmu pucat pasi begini duhai rembulanku, senyum donk.”

Rembulan murung. Termangu. Menimbang memikir sapa tanya sang mentari jiwanya itu. Namun itu tak membuatnya merasa tenang dan kembali tersenyum juga.  Hingga kembali ia berkata“Kerinduan kini tengah melanda diriku. Aku rindu pada bintang – bintangku. Tak sanggup ku tutupi ini semua. Aku benar – benar merindukannya.”tergugah juga hati sang mentari jiwanya itu, hingga kembali ia coba menghiburnya.“Ya sudah, temui saja bintang – bintangmu itu.” Rembulan semakin terharu. Hingga kembali ia berkata, “Aku pengin menemuinya, tapi aku takut”. Dengan bola mata yang kian mengerucut mentari pun kembali bertanya. “Apa yang engkau takutkan duhai rembulanku ?”.

Haru pilu kian merasuk dalam kalbu. Dengan kata terbata, rembulan pun menjawabnya. “Aku takut bintang - bintangku kan menjadi pucat hati ketika mereka melihat diriku. Ya,…diriku yang tak kuasa menahan haru pilu rindu. Terlebih ketika mereka hendak bermunajat di sepertiga malam ini”. “Lantas, apa yang bisa aku lakukan untukmu ?”,jawabnya dengan hangat tatapannya yang mulai terasa. “Aku ingin kau keluar dari persembunyianmu, gantikan saja tugasku kali ini” jawabnya penuh pilu.

Mentari terdiam, sepertinya  sedang ada yang ia pikirkan. Hingga akhirnya,  dengan segenap keyakinan, ia pun coba menghibur sang rembulannya. “Seandainya aku bisa, pasti ‘kan ku turuti permintaanmu itu rembulanku, tapi kita ga ‘kan bisa melawan kehendak-Nya. Sudahlah,…selesaikan saja tugasmu dengan ikhlas. Kembalilah tersenyum, kalau kamu memang tidak ingin mereka pucat hati, karena senantiasa kan ku pancarkan cahaya jiwaku untukmu…..”.

Rembulan termenung. Perlahan hilang murung. Hingga merenung dalam diamnya itu. Haru biru menyelimuti kalbu, atas kehangatan jiwa yang telah mentari jiwa itu alirkan dalam tiap ruang batinnya. Mata terpejam, begitu tenang. Hingga langit pun tak kuasa menahan haru biru rembulan itu. Air mata langit berjatuhan, sirami bumi. Lepaskan dahaga jiwa para insani.

Tak lama berselang, langit jiwa kembali benderang. Bumi hati tak lagi gersang. Merekah indah senyum rembulan. Turut pula bintang – bintang berkedipan. Setelah rembulan tebuskan kerinduannya itu. Dalam tulus doa yang ia panjatkan. Atas doa yang dilafalkan sang mentari hatinya itu, juga bintang – bintang di ujung kerinduan.  Ya,…setulus doa untuk sang rembulan, agar senantiasa merekah indah senyum sang rembulan. Sebaris doa diantara hangat cinta kasih sayang.

Kini,…akhirnya rembulan pun kembali tenang. Penuh damai dawai hati. Seiring  senyum mentari hatinya yang kian mengembang, membuka pintu pagii. Hingga hari berganti petang. Mengantarkan rembulan tuk kembali menghias dinding malam. Hingga pagi  berikutnya. Selama bumi berotasi.....

Mentari
Rembulan
Bintang
Kita. Semua
Panjatkan tulus suci doa
Pada-Nya

< Taman Hati, 010411 >
Riyan El Jameel

Joomlart