SORE ITU
Oleh: Tyara Nurani
Tiga Ruang, Lubuk lintah Pukul 15.45
“ Ra, kok perasaan Ti gak enak ya?” Aku tertegun mendengar curhat sahabatku, sambil meneruskan perjalanan menuju kampus, aku menatap langit yang suram.
“Mungkin bakal diomelin kali sama bu Dosen…” Candaku. Diam-diam hatiku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
Fakultas Dakwah, Lokal B 3 Pukul 17.16
Ku tatap arlojiku, waktu kuliah bahasa arab masih lama, ku hela nafas sejenak. Barang-barangku sudah masuk ke dalam tas, hanya saja Dosen pengajarku masih antusias mengajarkan materi kuliah. Aku yang besok pada tanggal 1 oktober akan pindah ke Lokal A 4 asyik mengira-ngira seperti apakah Dosen baruku dan teman-temanku nanti.
Tiba-tiba tak beberapa lama kemudian, lamunanku tersentak oleh guncangan bumi yang membuat seisi kampus panik, aku berlari secepat mungkin mencari tempat aman. Motor-motor yang tersusun rapi di parkiran saling tumpang tindih berjatuhan. Mushala Fakultas Ushuludin mulai retak-tak dan ku tatap Gedung serbaguna di hadapanku pun mulai menunjukkan reruntuhan atap teratasnya. Bumi masih berguncang tiga menit lamanya. Zikir-zikir dan takbir menyebut namaNya pun saling sahut-sahutan dari bibir kami yang tercengang dengan gempa yang tak biasa ini.
Aku tertegun, pertama kalinya aku menginjakkan kaki di ranah minang ini dan pertama kali pula aku mengalami gempa yang besar ini. Ku kira awalnya ini hanya gempa biasa yang akan kembali normal. Tapi saat ku berlari menghampiri sahabatku di gedung Student Center yang bercat pink, aku kembali tercengang melihat gedung itu nyaris terbelah dua,ternyata dampak gempa ini cukup besar, pikirku.
Lubuk Lintah- Simpang Haru, 17.25
Aku dan teman-teman seperjalananku berjalan pulang menuju rumah kami karena tak ada satupun angkutan umum yang menerima tumpangan demi menyelamatkan diri sendiri. Kami berjalan menuju simpang haru, dan yang aku lihat orang-orang berjalan menuju anduring, dan kami seperti melawan arus manusia. Aku bingung seketika, mungkinkah kami salah jalan menyelamatkan diri.
“Kita salah jalan gak nih?” Teman-temanku menoleh padaku.
“Gak, kita gak salah jalan! Orang-orang itu hanya mengevakuasi diri ke anduring sedangkan kita evakuasi ke rumah alias pulang ke rumah masing-masing biar keluarga gak khawatir.” Aku mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan temanku.
Kami pun sampai di kediaman salah satu dari teman kami, karena hari sudah senja dan tidak memungkinkan untuk pulang, akhirnya aku dan teman-temanku menginap di sana. Dalam suasana cemas dan ragu, aku berpikir, alangkah dahsyatnya gempa ini hingga memporak-porandakan kota Padang yang sedang tumbuh berkembang ini. Dan aku bersyukur masih diberi kesempatan hidup dan menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini.
Sore ini akan selalu terkenang menjadi bagian dari sejarah hidupku yang takkan terlupakan. Bersama sejarah 30 S/Sumbar yang menghapuskan sejarah 30 S/PKI karena kedahsyatan gempa pada sore yang kelam ini adalah 7.9 SR yang melumpuhkan sebagian besar kota padang dan sekitarnya dan mengubur ribuan jenazah yang tenggelam dalam reruntuhan bangunan-bangunan yang tak lagi berbentuk.
Ternyata benar, firasat itu adalah sinyal dariNya akan peristiwa besar gempa sumbar, Allah telah memberi isyarat dengan tanda-tandaNya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Sore itu (mengenang 30 s/sumbar)






































