LAMUNAN
Oleh: Muhammad Ali
Masih pantaskah diriku ini untuk menemanimu, kau terlalu sempurna untukku, entah mengapa rasa ini tetap sama seperti dulu. Seperti ketika pertama kali berjumpa denganmu. Ada rasa kemamangan di hati ini padahal sudah 5 tahun kita melewati bahtera rumah tangga ini. Bagiku kau orang lain, yang selama ini menemaniku ini.Tapi mengapa? Ketika kau tak di sandingku dirimu selalu terbayang di otakku.
" Mas, ini obatnya"
" Mas, pagi-pagi kok ngalamun sih"
" Oh, kamu dik, tak kira siapa tadi"
" Ada yang bisa saya bantu mas? Nglamunin nopo to suamiku?
(Nglamun Dinda ya?)
" Hehe"
"Ah enggak kok dik"
" Ya sudah sekarang mas istirahat ya. (Tak kira mas ngelamunin Dinda)
"Mungkin mas kecapean kerja to?"
" Mungkin dik"
Riyanti pergi begitu saja.Sembari berkata suamiku cepat sembuh ya.Setelah itu membiarkanku berbaring menikmati lamunanku yang selanjutnya.
Tuhan ! (Isakku dalam sanubari yang paling dalam ini)
Mata ini terus menerawang seakan melihat masa depan.
Seperti inikah hidup Hampa Tuhan!
Entah siapa yang harus ku salahkan? (Hati ini semakin sedih, ketika ku melihat diri ini terkapar tak berdaya)
Haruskah ku salahkan jalan hidupku ini? Atau aku harus mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadaku ini, sungguh hati ini sangat gusar ketika hamba meminta kepadaMu. Pintaku ? Pilihkan jalan terbaik untuk hamba ini.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Lamunan




































