JATUH CINTA DIAM-DIAM
Oleh: Leostrada
“….Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh mulai dari kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.
Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima.
Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya kita butuhkan. Dan sesungguhnya, yang kita sesungguhnya butuhkan hanyalah merelakan.
Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka biasa lakukan, jatuh cinta sendirian.”
(Raditya Dika, Marmut Merah Jambu, 2010, halaman 15)
Saya diam.
Membaca halaman itu serasa menusuk hati. Sambil pelan-pelan meratapi rasa sakit yang kian datang dan karena tak tahan lagi, saya ikut mengiris hati saya, mencoba menikmatinya.
Kalau ada yang bilang saya ini kurang peka, di sinilah saya menyimpan kepekaan saya, dalam hati saya, tersimpan, terkunci rapat-rapat di sela-sela doa yang selalu dipanjatkan tinggi-tinggi tiap hari, tiap matahari belum terbit, tiap siang, tiap sore, tiap petang, tiap malam, tiap dua-pertiga malam, tiap bernafas dan selalu. Ya, selalu. Ternyata sering, ya maklumlah, berhubung saya ini masih mau dianggap manusia yang punya hati, yang terpaksanya bisa saling mengasihi tapi belum ada tempat berbagi kasih maupun dijadikan kekasih lawan jenis dari peranakan keluarga hebat lainnya, ya saya berakhir seperti ini. Jatuh cinta diam-diam.
Ketika mereka bilang terima kasih, ada harapan kecil yang tersisip, yang (mungkin) dihembuskan setan nafsu yang berhasil menguasai sepersekian detik dari hati saya. Namanya manusia, kami sempurna, kami bisa berharap, bermimpi, lebih tepatnya. Terima kasih mempunyai kata dasar kasih, kemudian kata kasih dapat berkembang menjadi kekasih. So romantic and full of gombalism.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Jatuh Cinta Diam-Diam







































Comments
begitu sakit, seolah tanpa harapan, dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
terima kasih anda mau menulisnya, hingga saya dapat membacanya.