Jangan Dibandingkan
Oleh: Yani Osmawati
Kita sering sekali membanding-bandingkan banyak hal. Banyak hal yang
kita sering bandingkan, misalnya film yang diangkat dari sebuah novel
dan novel itu sendiri. Film "Laskar Pelangi" dan novel "Laskar Pelangi"
sebagai salah satu contohnya. Dan tentunya masih banyak hal lain yang
kita sering bandingkan. Dan satu contoh lagi dan mungkin juga semua
orang pernah mengalaminya yaitu membandingkan diri kita dengan anak
tetangga, adik, kakak, ayah, dan lainnya.
Mengapa saya mencoba
untuk berbicara masalah perbandingan ini ? Adalah karena saya sering
sekali benci dengan banyak perbandingan-perbandingan. Saya dulu benci
ketika orang tua saya membandingkan saya dengan anak tetangga saya. Dan
juga saya terkadang bingung karena saya merasa banyak orang yang
membandingkan dua hal yang dinikamati dengan cara yang berbeda. Entah
mengapa ? Saya sangat yakin, bukan hanya saya yang merasa demikian,
merasa benci ketika dirinya dibandingkan dengan orang lain.
Saya
sering sekali mendengar "lebih seru novelnya dari pada filmnya" dan
bukan hanya mendengar, akan tetapi saya juga pernah mengucapkannya. Dan
baru belakangan ini saya merasa kalau hal tersebut bukanlah hal yang
benar. Novel dan film merupakan dua media yang berbeda. Apa yang
disajikan dari film dan novel memiliki perbedaan, walaupun terdapat
beberapa kesamaan. Dengan demikian, cara menikmati kedua media
tersebutpun berbeda. Dengan membaca novel, kita dapat membuat dunia
imajinasi kita seluas mungkin akan cerita yang disajikan. Sedangkan
film, kita dibawa untuk melihat sebuah realita dari sebuah film dengan
membatasi imajinasi kita.
Sampai saat ini, saya masih mengalami
suatu perbandingan antara diri saya dengan orang lain. Dan hal tersebut
sangat memuakkan. Saya sering merasa bukanlah hal yang tepat dengan
membandingkan diri saya dengan orang lain. "Saya adalah saya dan dia
adalah dia, kami berbeda" itu adalah kalimat yang sering ada dalam otak
saya karena memang realitanya demikian. Saya dikontruksikan seperti ini
dan dia dikontruksikan seperti itu, Kalau kamu mau saya seperi itu,
mengapa kamu mengkontruksikan saya seperti ini ?
Walaupun saya
terkadang membenci sebuah perbandingan, akan tetapi saya tidak pernah
menafikan kalau perbandingan adalah positif. Saya masih merasa yakin
kalau sebuah perbandingan memiliki dampak positif bagi kehidupan kita.
Dan saya yakin bahwa perbandingan merupakan salahsatu cara bagi kita
semua untuk dapat lebih baik. Mengapa kita membandingkan ? Karena kita
selalu mengharapkan akan sesuatu yang lebih baik. Saya yakin tidak ada
seorang pun yang tidak mau untuk dapat lebih baik.
| Berikutnya > |
|---|
Jangan Dibandingkan







































