<< Cermin (Cerita Mini) Anak teknik berbicara politik ala kadarnya  >>

Anak teknik berbicara politik ala kadarnya

E-mail Cetak PDF

 Anak teknik berbicara politik ala kadarnya
Oleh: Maldalias

 

Tak tahu dari mana asal pemikiran yang mau aku tulis ini, tapi mungkin karena meriah suasana pesta demokrasi yang masih terasa, dan acara-acara di layar TV yang masih saja ramai dengan perdebatan tentang pemilu. Waktu 'pencontrengan' memang telah usai, tapi siapa bilang kompetisi telah berakhir.... (Selagi sang pemenang belum ketahuan, arena kompetisi belumlah kosong dari persaingan. Tetap saja ada yang berkoar-berkoar).

Yang patut dicermati, ternyata strategi yang digunakan para kompetitor sangatlah fleksibel untuk diubah sesuka hati. Sebelum pemungutan suara mereka menebar janji, dan setelah itu...kecepatan insting mereka yang terlatih untuk menebak hasil yang samar-samar terlihat. Apabila 'aroma' kekalahan yang tercium, maka 'sudah tradisi' jika 'hasutan', tebar 'isu', 'saling tuduh', yang menjadi langkah selanjutnya. Tidak mengapa jika nilai luhur 'sportifitas' ditinggalkan sebentar, selagi masih ada usaha yang dapat dilakukan...meskipun itu sia-sia dan hanya menebarkan perselisihan.
Tahukah mereka bahwa masyarakat bangsa ini banyak yang telah pandai. Hal-hal 'picik' seperti itu malah menurunkan harga diri mereka yang sebelumnya telah susah-payah ditawarkan kepada para konsumen pemilih.

Aku yang lebih terbiasa berpikir secara 'teknik' memang akan pusing 7 keliling jika dipaksa untuk terus berpikir hal-hal yang berbau 'politik' seperti yang tertera di atas.

Yang jelas : jika mendengar kata 'politik'...konotasi yang ada di kepalaku pasti lebih ke arah negatif.
Sedikit banyaknya, Politik itu pasti 'kotor' dan bukan politik kalau tidak 'kotor'.
Seandainya saja, tidak perlu ada kata 'politik' dalam kehidupan suatu bangsa!

Sederhana saja pikiran yang ada di kepalaku,...aku hanya ingin seorang pemimpin yang mempunyai jiwa bersih dalam 'memimpin'. Jika sudah tersangkut 'politik', berarti dia juga 'kotor' dan mempunyai pikiran yang lebih terkonsep untuk menguasai dengan segala cara.

Adapun hal menarik yang aku tangkap dari kata 'Demokrasi'....sebenarnya demokrasi yang seperti apa yang dianut oleh negara kita...demokrasi seperti negara mana yang terpaksa 'diekori' oleh negara kita...dan apakah memang itu yang terbaik buat bangsa kita?

Dalam 'Demokrasi' kekuasaan penuh berada pada rakyat / suara terbanyak yang menentukan'.
Lalu, bagaimana jika terjadi suatu 'pemilihan sistem pemerintahan' secara demokrasi, dan dalam pemilihan tersebut rakyat malah memilih 'sistem pemerintahan yang bukan berdemokrasi', sebut saja sistem 'kerajaan' misalnya....

Dapatkah 'demokrasi' menerima keputusan tersebut,... sistem kerajaan yang terpilih secara 'demokrasi'.
Lalu, apakah mungkin 'sistem kerajaan' tersebut berjalan di atas pilar demokrasi? Tapi, bukankah pilihan yang terjadi berdasarkan asas demokrasi!
Bingung kan??? Aku juga bingung apa yang aku tulis..ha..ha..ha..

Joomlart