Sigit Rais
Menyulam Sepi
berabad kusulam sepi dengan jemari rumputan
jarum waktu merunut nama-nama hujan
bersisa riak di mulut kenangan
kubaca rajah pada gelagat cuaca yang angin
nafasku terhisap pusaran nyeri
jarak merentang
perjumpaan tak jadi datang
sendiri dengan mata celung
hitam kelopak merambat rona mawar
mendadak tanganmu menceluk rongga dada
kausimpan sekelumit mantra
kausentuh dinding-dinding kokoh milikku
kaubacakan rayuan riak sajak-sajak
di pemakaman semangat pagi
sampanku melarikan diri
masuki asimus likat kabut
dan aku masih ingin menyulam sepi
2007
Kata-kata yang Melangit Bersama Asap Rokok
kulihat muram bulan redup
di celah-celah awan hitam
dingin angin masih tak usai
menusuk belulang bumi yang bangkai
di jemariku terselip sebatang rokok
ujungnya merah menyala
senyala semangat cinta tempo hari
yang
kini telah mati
lidahku kesat
berhambur asap-asap melangit
liar bersama gigil
di situ mati kata-kata
sebelum sampai ke jantungmu
galau menggeliat
bermekar di kuntum-kuntum cemas
ah, nyala rokok nyaris sekarat
segera kukemasi kenangan itu
kini keluku dalam sendiri
tak berkawan, kecuali s e p i
2008
September
sepi yang tertidur di riuh cuaca kota
dan tidurlah sepimu di riuh cuaca kota
letih mengumbang
di pisau-pisau ajal, akar menjalar
seruak musim pekuburan
serak bunga di tikungan itu
melukis wajah matahari
dengan jarak ketidakpastian
angin menyemai rindu, di ceruk pagi
tak lama, garang siang jadi gelinjang
pergumulan abad dengan penggal kisah-kisah
irama nadimu bertemu dengan letihnya
kini,
sepimu tertidur di riuh cuaca kota
2007





















![[cHraS diNi SabeWa]](/images/comprofiler/tn261_470c7b982f024.jpg)












