<< Cerpen Harus  >>

Harus

E-mail Cetak PDF

HARUS
(Oleh: Nyeska) 

Seseorang dengan wajah tirus, rahang kotak dan kuat terdiam di sudut malam. Terlihat jelas ia mencoba menahan gempuran airmata yang hampir menjebol kewarasannya. Langit malam ini begitu gelap. Tak ada satupun bintang yang sudi menemaninya, pun bulan malu menyirami wajah manusia sepi ini dengan cahayanya. Tapi ia tak peduli. Ya, Tak pernah sekalipun ia mempedulikan kesombongan para penghuni malam. Kesendirian sudah menjadi kekasih setianya beberapa minggu belakangan ini. Sedangkan caci dan cemooh adalah pengisi rongga jiwa rapuhnya tiap hari. Tubuhnya bersandar pada dinding dingin sebuah bangunan. Badannya ringkih dan raut wajah pasi. Kontras sekali dengan dentuman jantungnya yang begitu ganas mengobrak-abrik hatinya. Sesekali matanya bergerak ke kanan ke kiri, seolah mencari jawaban atas berbagai ragu yang menyelimuti pikiran kalutnya.

Aku harus terlihat bahagia”, bisiknya lirih berulang-ulang, seolah menjadi mantra ampuh pengusir sedih. Pernyataan yang sebenarnya mengkhianati rasa yang memberatkan pikirannya. “Apakah dalam satu hati bisa bersemayam dua keinginan yang saling bertolak belakang?”. Dia menghela nafas panjang, berharap ada jawaban terukir dari kabut tipis yang pelan-pelan mulai turun. Ah, apa sebab yang membuat pias diri pengembara malam itu? Apakah cinta? Ternyata benar, alasan kegelisahannya sedari malam-malam yang lalu adalah cinta. Tak pernah ia mengerti, cinta yang menjadi alasan senyum manis mengukir wajah dinginnya tahun-tahun kemarin adalah juga alasan di balik sendu dan kosongnya tatap yang ia berikan ke  semua orang. Sekarang.

***

Dia begitu kosong, begitu nanar.  Begitu putus asa seakan nafas hidup sudah dicabut dari jasadnya sebelum ia mati. “Aku harus bahagia agar ia bahagia, di saat yang sama akupun merasa sedih karena hatiku memang merasakan itu juga”, senyum yang begitu pilu selalu ia hadiahkan bagi kekasihnya yang akan pergi. Ratusan kali sudah ia berlatih di depan cermin rumah untuk sebuah senyum yang bahagia, berusaha meniadakan duka yang menghiasi bola matanya. Tapi matanya selalu khianat! Kali inipun matanya mencoba berkhianat untuk yang kesekian kalinya dengan mengizinkan setetes air menggenang disudutnya. “Aih, betapa susah mengatur diri sendiri!

Apa hukuman bagi pengkhianat? Apa hukuman bagi pengkhianat?!”, teriaknya tiba-tiba. Orang-orang disekitar hanya menatap heran. “Orang gila baru mungkin”, pikir mereka. Selintas terpikir untuk mengambil pisau di rumah, mencongkel mata kanan yang khianat agar mata kiri tak melakukan kesalahan yang sama juga. Tapi bidadari itu pasti akan menangis melihat kekasihnya terluka. Urung lagi niat kalapnya itu.

Mulut si manusia malam terasa pahit dia rasa sedari kemarin, keringatnya memang bau orang sakit. Padahal tubuhnya terasa bugar. “Apakah sakit karena cinta juga mempengaruhi raga?”, tanya berikutnya yang kembali dijawab dengan sunyi oleh malam. Jangkrik menyanyikan nada  senyap. Kali ini ia pandangi langit luas. “Gelap sekali ini malam, seperti juga hatiku”, apakah pengagum malam ini tak pernah tahu? Dunia hanyalah sebagaimana yang kita rasa.

Semakin terdiam dalam renungan, semakin banyak ingatan pahit yang menggempurnya malam itu. Ia ingat, ada tanya dari sang kekasih yang mengoyak jantungnya lebih dalam. “Adakah kamu cemburu? Jujurlah ksatriaku”, dia tak habis pikir, tak bolehkah ia mencumbu lukanya sendiri? Tak terpikirkah kalau tanya itu melemahkan lutut yang berusaha tegar menopang tubuh kuyunya sejak dulu sang wanita berkata, “Maafkan aku kekasih rahasiaku, aku harus menikah!”.

Ingatan busuk enyahlah!!!!! Aku benar-benar ingin dia bahagia! Aku bukanlah ksatria sejatinya! Aku harus tahu diri!”, semua bagian dari dirinya benar-benar mengkhianatinya malam itu. Bukan hanya mata, tetapi juga kepala, tubuh, bahkan telinga. Suara merdu sang kekasih seperti mendayu-dayu syahdu memanggil lembut namanya. Mengulang-ulang kalimat, “Sayang bila kamu tak bisa bahagia, bawalah aku lari saja”, malam kian larut. Hanya saja tak ada satu kesimpulanpun yang berhasil dia rangkum. Kecuali satu hal. “Aku harus berlatih senyum semburat bahagia lagi sampai pagi!!”.
Joomlart