<< Cerpen Hujanpun Menunggumu  >>

Hujanpun Menunggumu

E-mail Cetak PDF

HUJANPUN MENUNGGUMU
(Oleh: RV Hakiki)
 

Malam yang hening. Rezi melirik jam yang tergantung di dinding dan menghela nafas yang berat. Tangannya bergerak meletakkan bolpoin di meja dan meringkas kertas kertas yang berserakan di meja kemudian mematikan laptop yang sejak tadi menyala. Hari yang melelahkan. Tugas tugas yang mengganjal hatinya kini sudah selesai dikerjakannya tapi tetap saja kantuk tidak menyergapnya.
Rezi bangkit dari duduknya dan membenahi meja belajarnya hingga rapi. Matanya melirik ponsel dan merasa sangat tergoda untuk menyentuhnya. Rezi menggeleng. Dia harus cepat cepat tidur, dia sudah sangat lelah seharian ini berputar putar di kampus, pergi bersama teman untuk mengurus sponsor acara kampus, berkutat dengan tugas tugas dan lagi besok dia harus bertemu Kiara.
Ya, Kiara. Tadi siang Rezi bertemu dengan gadis itu di depan gedung perpustakaan dan seperti biasa gadis yang sering kali berdebat dengannya itu sanggup membuat Rezi sedikit gemetar untuk melanjutkan bahasan tentang mata kuliah yang diributkan teman teman kemarin.


Rezi merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit langit dan menikmati keheningan ini. Sudah hampir tengah malam dan kantuk belum juga menyergap. Tapi perlahan lahan dia mengerti bahwa hanya ada satu hal yang membuatnya susah melewati malam ini dengan tidur nyenyak. Bertemu Kiara esok pagi.


Rezi kembali mengingat bagaimana air muka Kiara saat Rezi berkata bahwa dia ingin menemui Kiara sabtu pagi. Kiara terlihat berfikir sejenak tapi lantas mengiyakan dengan wajah yang bimbang. Apa benar esok pagi Kiara akan datang? Secara Kiara bukan jenis orang yang terlihat mampu berkorban demi orang lain. Semua orang tahu kalau Kiara selalu melalaikan apa saja yang tidak berhubungan atau tidak ada kepentingan dengan dirinya.


Jangan jangan Kiara tidak mau datang, atau malah Kiara lupa dengan janji yang mereka buat.
Rezi bangun dan meraih ponsel yang tergeletak di samping laptopnya lalu menimbang nimbang, apakah sebaiknya dia mengingatkan Kiara akan janji esok pagi? Lagipula, jam kini menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah mapir tengah malam dan rasanya tidak cukup sopan jika dia mengusik tidur Kiara dengan pertanyaannya. Dan lagi, hubungannya dengan Kiara tidak begitu baik sejak pemilihan presiden badan eksekutif mahasiswa tempo hari.


Dia dan Kiara malah serisng adu argumen untuk saling menonjolkan kecerdasan. Pada suatu kesempatan mereka justru saling menyindir.

“Memangnya ada yang mau memilih calon presiden mengerikan sepertimu?”, dengan santainya Rezi melontarkan kata kata itu pada Kiara yang melintas di depannya. Kiara berhenti berjalan dan menoleh ke arah Rezi dengan senyum miring.

“Kau pikir semua mahasiswa akan memilihmu? Kau mimpi”, balas Kiara.

“Dengan sikapmu yang dingin itu aku tidak yakin kau bisa terpilih”

“Kita lihat saja nanti. Kau pasti jadi orang yang paling terluka kalau aku yang terpilih”. Kiara berkata dengan dingin setelah mendecakkan lidah.

Tapi justru jika dia tidak memastikan kedatangan Kiara, bayangan Kiara malah berputar putar dalam kepalanya. Rezi mendial nomor ponsel Kiara dengan penuh keberanian meskipun dia tahu kalau akan ada kemungkinan dia didamprat Kiara karena menelfon selarut ini.

“Ya Rezi?”, itu suara Kiara dari seberang sana membuat Rezi tersedak ludah sendiri. Suara Kiara tidak parau, mungkin dia belum tidur. Malah dari seberang sana, di tempat Kiara terdengar bunyi berisik seperti bunyi televisi. Ya, mungkin saja Kiara menghabiskan malam ini dengan menonton televisi.


“Ki, maaf mengganggumu”, suara Rezi bergetar. Entah kenapa rasanya dia seperti ada duri di tenggorokannya. Rezi meraba dadanya. Ada sesuatu yang hangat menyebar di ulu hatinya saat dia mendengar suara Kiara dari seberang sana.


“Ada apa?”, Kiara bertanya datar. Rezi bisa membayangkan bagaimana wajah acuh Kiara menanggapi telefon darinya. Kiara yang dikenal oleh orang orang adalah sosok yang jenius dan sedikit acuh. Kecerdasannya membuatnya diakui dan dihormati oleh teman teman, dan junior juniornya. Bagi Rezi dalam kecerdasannya itulah dia menyimpan kharismanya.

“Aku hanya ingin memastikan kalau kau akan datang besok”

“Rezi, aku sudah bilang aku datang. Jadi aku pasti datang. Aku tidak akan lupa, tenang saja”, jawab Kiara. Setelah beberapa kalimat kemudian sambungan diputus.

Rezi melemparkan ponselnya ke ranjang dan dia sendiri melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan hati yang masih mengharap dengan cemas. Dia memejamkan mata, sekali lagi bayangan Kiara muncul dalam pikirannya. Gadis yang terlihat sedikit angkuh itu kerap kali membuat Rezi merasa begitu lemah karena akalnya terkalahkan oleh perasaan ingin memiliki Kiara.


***


Sinar matahari meredup saat Rezi melongok keluar jendela. Bukan meredup, tapi lebih tepatnya tertutup awan awan kelabu yang berarak ramai dan tebal di atas sana. Rezi sudah bersiap bertemu Kiara tapi justru gerimis mulai membasahkan.

Pemuda itu menyambar telefon dan memencet sederet nomor ponsel Kiara. Tapi dia mendapati mesin penjawab saja yang terdengar. Ponsel Kiara sedang tidak aktif. Rezi menggaruk kepalanya dengan wajah gusar. Dia ingin berkata pada Kiara apakah mereka perlu mengganti waktu bertemu. Mungkin akan lebih baik jika mereka bertemu besok minggu saja.

Ah, mungkin juga Kiara justru tidak ingin datang karena hujan. Kiara akan dengan sangat mudah membuat keputusan yang tidak merugikan dirinya. Pasti dia memutuskan untuk tidak datang. Lagipula, untuk pada besusah susah datang berhujan hujanan hanya untuk seseorang yang selama ini berseteru dengannya. Rezi pesimis.

Sudah belasan kali Rezi mencoba menelfon lagi tapi hasilnya sama saja. Ponsel Kiara tidak aktif dan itu membuat wajah Rezi sekelam mendung saat ini. Gerimis yang tadi membasahkan kini menjelma hujan deras.

Rezi menanti, setengah jam, satu jam, hujan belum reda dan dia kian gelisah dibuatnya.
Rezi terus melihat ke arah jendela dan berharap hujan akan merekda sedikit demi sedikit agar dia punya kesempatan menemui Kiara. Rezi mengingat kembali percakapan mereka beberapa hari yang lalu. Kiara akan berangkat ke Australia dalam waktu dekat ini dan dia tidak ingin Kiara berangkat menjadi pelajar asing untuk waktu yang sangat lama dengan begitu saja. Rezi hanya ingin menyampaikan sesuatu tanpa peduli itu akan menggembirakan bagi Kiara atau tidak.
Sudah dua jam dan hujan belum berhenti. Mungkin saja Kiara tidak ingin datang dan sengaja mematikan ponsel agar Rezi tidak bisa menghubunginya. Itu adalah pemikiran Rezi yang sederhana.

***

Gadis itu sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan duduk di sebuah bangku beton dekat lapangan basket. Bibirnya memucat dan kuku kuku tangannya membiru. Hujan disertai angin tidak membuatnya ingin berteduh tapi justru membuatnya gusar bukan main kenapa orang yang berjanji akan datang justru tidak datang?

Perlahan lahan airmatanya merebak keluar bercampur dengan air hujan di wajah ayunya. Tanpa banyak berfikir lagi dia segera bangkit dan meninggalkan tempatnya duduk setelah berharap tinggi tinggi yang ditunggunya akan segera datang. Tapi nyatanya tak seorangpun datang.
Dia berlari sekuat tenaga. Ingin cepat cepat kembali ke rumah dan mengurung diri di kamar, menangis sepuas puasnya karena merasa terbohongi.

***

Sampai di rumah dia segera membuka pintu kamar dan menguncinya rapat rapat. Panggilan adiknya tidak dihiraukannya. Yang ada dalam pikirannya ahanyalah masuk kamar dan menyendiri untuk beberapa saat, menyembuhkan apa yang menjadi luka dalam hatinya.

Dadanya terlalu sesak karena perasaannya sendiri. Sisi lain hatinya memaki dirinya bodoh. Tapi saat dia mengingat sosok yang dinantinya itu, ada rasa hangat menyebar di ulu hatinya dan ada semburat merah di kedua belah pipinya. Dia jatuh cinta?

Gadis itu terduduk di lantai, diabaikannya rasa dingin, diabaikannya pakaian dan tubuh yang basah. Yang dia rasakan hanya gundah dan sakit yang belum berhenti. Dua jam lebih dia menanti, diguyur hujan dan angin dingin yang berhembus cukup membuatnya sakit secara raga dan perasaan. Dan kenapa orang itu tak kunjung datang.

Gadis itu berjalan mendekati meja belajarnya dan mendapati ponselnya tergeletak di antara buku buku dan kertas kertas yang belum dia bereskan sejak semalam. Ponsel itu tidak aktif. Dia merutuki dirinya sendiri.

“Non...”, itu suara wanita tua yang bekerja sebagai pembantu di rumah. Dia mengetuk ngetuk pintu kamar gadis itu berulang kali.

“Non Kiara... ada telfon dari Den Rezi, Non”

Mendengar nama itu Kiara bergerak membuka pintu. Orang yang membuatnya menunggu di guyur hujan dan angin di lapangan basket sekarang menelfonnya. Untuk apa? Tadinya sudah berkali kali Kiara menimbang nimbang haruskah dia datang atau tidak, tapi begitu dia datang bukan siapapun yang di temuinya.

Kukira kau akan datang. Aku ingin kau datang, entah mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi. Tapi nyatanya aku salah. Betapa aku bodoh menuruti kata katamu yang hanya mempermainkanku. Kukira kau mencintaiku. Makanya aku tidak berusaha menghubungimu karena aku mengira jika kau mencintaiku kau akan datang tanpa kuingatkan atau tanpa kumarahi. Aku ingin kau datang karena kau memang benar benar ingin datang, bukan karena takut kudamprat...

“Bilang saya lagi tidur”, Kiara berkata dengan sangat pelan sambil memberikan isyarat yang mudah di mengerti. Dia berusaha agar Rezi tidak mendengar suaranya.

***

Rezi meletakkan gagang telfon ke tempatnya semula dengan lemas. Dengan langkah gontai dia kembali ke kamar. Mendengar kata kata pembantu Kiara bahwa Kiara sedang tidur disaat dia sendiri mencemaskannya, cukup menyakiti hati Rezi.

Kiara tidak mencintainya. Kiara tidak menginginkannya bahkan Kiara tidak menganggapnya apa apa. Kenapa bukan Kiara yang mengangkat telefonnya? Mungkin Kiara dengan mudah melupankannya, dia tidur dengan nyenyak sedangkan Rezi dengan gelisah berusaha mendial ponselnya belasan kali. Kiara tidak ingin bertemu Rezi, ya, mungkin saja. Rezi hanya merasakan sakit saat menyadari cintanya hanya satu arah.


 

Joomlart