<< Cerpen Asdikku Sayang  >>

Asdikku Sayang

E-mail Cetak PDF

 

ADIKKU SAYANG
(Oleh: Terimachio)

 

Pagi-pagi sari sudah sibuk di dapur mnyiapkan sarapan dan beres-beres rumah, waktu baru menunjukkan pukul 05.00 adzan subuh baru berkumandang sekitar 2 menit yang lalu. Mungkin ia tidak akan sesibuk ini kalau ibunya masih hidup, tapi ibu tercintanya lebih disayang Allah karena dua tahun yang lalu ia dipanggil menghadap-Nya, kini Sari tinggal bertiga saja bersama adik yang sangat bandel dan ayah yang selalu pulang malam karena pekerjaannya, Sari sangat berusaha menggantikan posisi sebagai ibu di rumahnya meski dia sendiri tidak mampu melakukannya dan tidak ada seorangpun yang menyuruhnya, walaupun dengan begitu dia harus menanggung pekerjaan ibu rumah tangga dan mengurusi adiknya yang nakal, masih segar dalam ingatan Sari seminggu yang lalu adiknya menempelkan tulisan yang memalukan di punggunya “Kalau berani ganggu tau rasa nanti!!! “, Sari bahkan baru menyadari adanya tulisan itu waktu di sekolah itu juga karena Dita yang memberitahunya "Kalau bukan adik kandung sudah kujitak dia”, batinnya kalau mengingat kejadian itu.

Hari ini hari minggu waktunya istirahat, ayah sedang tugas lembur di kantor sedangkan adiknya sedang pergi piknik di TK , namun Sari sama sekali tidak bisa diam saja di rumah kebetulan tukang sayur langganannya terdengar menggil-manggil para pelanggan, Saripun bergegas pergi keluar menghampirinya.

“Semuanya berapa bang?“, tanya Sari setelah memilih beberapa sayur-sayuran, tapi si abang sayur malah cengengesan tidak jelas.

“Apa dia kira aku tidak bayar ya?“, batin Sari

“Kenapa sih bang saya bisa bayar kok”, ujar Sari sambil mengeluarkan uang dari dompetnya

“Bukan itu neng “, katanya menggantung lalu ketawa-ketawa sendiri lagi membuat Sari mengerutkan keningnya

“Itu lho neng wajah neng corat-coretan tuh“, kata abang sayur enteng, Sari langsung melotot kaget

“Pantesan saja dari tadi tetangga pada senyum-senyum. Dengan membawa sayur-sayurannya Sari berlari pulang dengan menutupi wajahnya. Arkaaaaa!!! awas kamu ya!“, teriak Sari begitu dia melihat wajahnya yang didandani seperti ondel-ondel oleh Arka adiknya, tiba-tiba bel berbunyi amarah Sari yang masih di ubun-ubun langsung mengira itu adalah Arka adiknya, tanpa mencuci wajahnya Sari langsung membuka pintu, tapi ternyata yang datang adalah tukang pos dan wajah Sari lagi-lagi mengundang tawa

“Maaf ada apa ya?“, tanya Sari basa-basi

“ini saya mengantar kiriman surat “, jawab pak pos pasti sambil menyodorkan amplop, kemudian pergi setelah amplop itu diterima Sari tentunya, Sari tahu sekarang kenapa pak pos itu senyum-senyum padanya tapi Sari sudah tidak mau ambil pusing, Dilihatnya amplop itu tidak ada alamat pengirimnya, dengan rasa penasaran yang besar Sari membuka amplop itu

Untuk kakakku tersayang…

Kakakku yang galak , seharusnya aku ngirimsuratnya bukan ke kakak tapi ke ibu tapi karena pak posnya tidak mengantarkan surat sampai ke surga jadi terpaksa aku ngirim surat ke kakak saja  yang ada di rumah, kakak semua teman-teman mengirim surat untuk ibunya tapi aku malah mengirim surat ke kakak tahu tidak kak aku dimarahi sama buguru lho, tapi aku bilang ke bu guru kalau ibu aku sekarang sudah ada di surga dan kakaklah pengganti ibuku, tapi kak aku sama sekali tidak mau kakak menggantikan ibu, aku ingin kakak seperti dulu saat ibu masih ada di rumah, karena sekarang kakak sudah tidak mau bermain bersamaku lagi karena sibuk bersih –bersih rumah dan sekolah, kakaku sayang tolong jangan jadi ibuku lagi ya, tolong jadilah kakaku saja yang setiap hari tersenyum dan bermain bersamaku.

Arka Ardian Rakhmat sayang kakak…

Saat ibunya meninggal dua tahun yang lalu Sari sama sekali tidak menangis karena memang ia tidak bisa menangis, tapi selembar kertas yang ditulis dengan tulisan yang tidak  terlalu bagus, malah membuatnya mengucurkan airmatanya

“Maafin kakak Arka“, kata Sari disela-sela tangisnya.

Pangandaran, Jawa Barat, 2011
Joomlart