<< Cerpen Tinggal Lima Hari  >>

Tinggal Lima Hari

E-mail Cetak PDF
TINGGAL LIMA HARI LAGI
(Oleh: Gibin)

Tinggal lima hari lagi. Ya, hanya seratus dua puluh jam lagi aku akan keluar dari tempat terkutuk ini. Ah, akhirnya dapat juga aku pulang.

Saat mengantri makan siang, aku tak dapat lagi menahan bahagia yang menyaluti hatiku. Sampai-sampai teman-temanku menatap heran sekaligus bertanya-tanya. Aku yang seharian selalu murung, lesu, dan asosial dapat juga terlihat bahagia.

“Kau kenapa, Man? sudah mulai gila yah?”, seorang teman berujar. teman? Ah, aku tak perlu menghiraukannya. Aku senang. Buat apa aku bercerita, toh beberapa hari lagi aku tak akan bertemu dia lagi.

Acara makan ini aku selesaikan dengan santai, aku ingin menikmati hari-hari terakhirku disini. Walaupun biasanya aku selalu makan terburu-buru, bahkan tak habis. Hingga tubuhku hanya tinggal tulang berlapis otot tipis. Kukira tak akan laku dijual seandainya aku seekor kambing. Tapi, kini aku ingin menikmati tiap detik ini, tak semua orang punya kesempatan tinggal di tempat ini.

*****

Tinggal empat malam. Oh, aku tak kan lagi tidur sambil dikeroyok nyamuk-nyamuk ini. Nyamuk lapar yang doyan sekali menyiksa manusia sepertiku dengan hisapan kecil nan gatalnya. Menyiksa? Hmm, aku jadi teringat perlajaran ilmu hayat saat aku SMP.
“Elman, mengapa nyamuk menghisap darah manusia?”, pak guruku bertanya.
Aku yang sedang melamun spontan menjawab sekenanya.
“Oh, untuk makan pak. Nyamuk kan harus makan seperti kita, makanya dia senang minum darah kita sampai kekenyangan. Jadinya, gatal deh pak gara-gara si nyamuk”. Aku bangga juga dengan jawabanku ini. Jawaban spontan yang aku kira cukup logis dan realistis. Tapi, kening pak guru malah berkerut.

“Benar begitu anak-anak?”. Pak guru melempar tanya ke seantero kelas. Berusaha mencari jawaban untuk kerutan keningnya. Tapi, kelasku malah menjadi hening.

“Anak-anak, nyamuk tidak seperti kita. Nyamuk tidak menghisap darah untuk makanannya, karena nyamuk hanya makan nektar dari tumbuhan. Hanya untuk dapat bertahan hidup.”

“Darah, hanya dihisap nyamuk betina. Untuk apa? Untuk membantu dia meneruskan keturunannya.”
“Bertelur.”

*****

Teng…Teng…Teng…

Aku bangun dari lamunanku. Bel tanda tidur sudah dibunyikan. Disini, ketahuan terjaga setelah bel dapat berarti bertambahnya kesulitan.
Aku sulit memejamkan mataku. Babak belur sudah aku oleh nyamuk-nyamuk sialan ini. Tapi biarlah. Rasa bahagia, oh, tiga malam lagi aku dapat beranjak dari ranjang built in ini. Satu-satunya benda yang bukan bernama lantai dikamarku ini. Walau harus kuakui, benda ini pun terpasang erat pada lantai.

*****

“Tugiman, Legiman, Elman, ……..”
“Dua hari lagi kalian bebas, kemasi barang-barang kalian.”
Kalimat kebebasan keluar dari mulut penjaga. Sontak saja manusia yang merasa namanya dipanggil berlompatan kegirangan. Hari kebebasan di pagi yang cerah ini serasa makin membuat hari makin indah.

Selesai apel pagi aku kembali kekamarku. Kamar pengap berukuran dua kali dua meter, dengan ranjang semen sepanjang satu meter di sisi kiri dan lobang sebesar ember di pojok kanan lengkap dengan keran airnya. Tanpa lampu, hanya terobosan cahaya dari lampu koridor di luar kamar. Lampu yang dengan setia menerangi puluhan kamar sempit seperti kamarku sejak puluhan tahun lalu.

Kugoreskan segaris pahatan paku ke dinding kamarku. Tepat 1093 garis.

“Saudara Elman, anda terbukti secara sah dan meyakinkan telah telah melakukan pengrusakkan fasilitas negara berupa dinding pagar gedung Kepresidenan.”
“Berdasarkan keterangan saksi mata dan merujuk pada buku undang-undang negara pasal 345 mengenai perlindungan terhadap segala fasilitas kenegaraan, majelis hakim memutuskan.”
“Saudara dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun atau denda sebesar 30 juta rupiah.”
Aku terpaku. Bingung. Tak habis pikir.
Aku hanya tidur di trotoar itu. Di depan sebuah gedung besar berpagar putih indah.
Aku hanya bermalam menahan dinginnya larut sang pasangan siang.
Aku hanya …
Kehilangan kebebasan …

*****

Besok aku dibebaskan.
Tak ada lagi kurungan. Tak ada lagi bentakan penjaga. Tak ada lagi kedinginan tidur beralas semen. Tak ada lagi makanan yang sama setiap hari.
Tapi
Tak ada …
Yang menungguku di luar sana. Tak ada rumah bagiku diluar sana. Tak ada pekerjaan. Dan… tak ada makanan.

*****

“Majelis hakim memutuskan saudara dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.”
Aku langsung bersujud. Bersyukur. Bahagia.

 

Bandung, 1072006

Joomlart