<< Cerpen Lukisan Sunyi  >>

Lukisan Sunyi

E-mail Cetak PDF

LUKISAN SUNYI
(Oleh: Widya Prana Rini) 

Ada  jalan sunyi dan bebutiran air masih menggantung berduyun-duyun mendesak luruh ke bumi. Sesuatu yang sungguh alamiyah. Raga bernyawa tak berani tegak berdiri atau sesosok berpayung yang hanya terlihat punggungnya berjalan menjauh meninggalkan jejak, atau riangan yang melagukan tarian hujan. Kota itu sungguh sunyi, tua dan lapuk. Hanya tersisa genangan air yang masih berani menantang langit dan sapuan warna putih lamat-lamat yang itu disebut dengan kabut.

---

Dominan biru, hitam, putih menghasilkan sentuhan dingin yang menusuk tulang dan aku tepat berada didepanya. Lukisan sunyi membawaku menerawang jauh kedalam masa silam, seperti ketika aku tepat berdiri ditepi jurang yang gemuruhnya syahdu, sangat lembut. Aku juga tidak tahu mengapa aku tertanam di sini, seolah tumbuh keatas dan berakar kedalam sampai aku tak ingin lagi beranjak kelukisan yang lain.

Seorang gadis mendekat padaku. Sayup-sayup terdengar musik intrument Endless Rain, lama-lama musik itu semakin mengeras di telinga, hingga aku tak lagi mendengar apa-apa, senyap dan aku masih tertanam tak bisa beranjak. Wanita berambut panjang ini yang sudah tepat berada di sampingku, perlahan kuperhatikan tangan-tanganya mula-mula tumbuh dahan, bercabang dan berdaun. Kulihat kakinya mulai berakar menacap masuk dalam perut bumi. Aku dan dirimu seperti tertanam dan tumbuh seperti pohon. Kita tidak bisa lari dan mendekat. Tetap tenang di situ.

Dari sekian banyak pengunjung musium ini nampaknya hanya kami berdua yang tiba-tiba terserang hama bisu. Seorang kurator mendekat. Kami menoleh kearahnya, lalu ia tersenyum dan mulai membuka lembaran-lembaran cerita.

“Seorang gadis berjaket merah duduk terdiam di bawah temaram lampu-lampu kota. Gadis itu masih saja tafakur. Langit dan gadis itu bersatu merentaskan buliran air. Berkali-kali ia mengusap pipi dan ia menangis sejadi-jadinya. Ketika kudekati dan kutanya. Gadis itu menjawab dengan isakan. Kutanyai lagi dan ia semakin menangis lagi. Kutinggalkan gadis itu dan malam itu masih saja gerimis.”

“Keesokan harinya aku datang lagi ketempat itu, siapa tahu aku dapat menemuinya kembali. Namun, aku tidak melihat siapa-siapa di sana. Ketika aku berbalik, aku melihat gadis itu mengayuh sepeda. Ingin sekali, aku menyapa, namun ketika ia tepat berada satu meter di depanku, nyaliku lumpuh. Aku melihat ia masih menangis. Sepertinya, gadis itu dilahirkan memiliki kelebihan air mata,  yang setiap saat harus ia tumpahkan bila penuh. Aku berpikir bahwa aku harus menyerah lalu kuayunkan kakiku. Gadis itu memanggilku. Entah dari mana ia tahu namaku.”

Kurator itu tersenyum, cerita itu tidak ada lima menit. Namun kami yang masih menoleh kearah kurator mulai menggeserkan badan membentuk formasi segitiga. Kurator itu menyulap sekejap kami yang kaku menjadi lebih terkesan nyaman. “Ada apa dengan gadis itu?” tanyaku. Sepertinya aku mulai lupa dengan sesuatu yang menancapkan kakiku di pualam ini dan kakinya pun sudah terlepas dari belenggu yang membelit. Kami tidak lagi berdiri memandangi lukisan. Namu ketiga pasang mata ini salaing beradu. Aku dan gadis lembut di depanku seperti anak kecil yang menanti dongeng sebelum tidur dari ayah. Kurator itu kembali tersenyum dan kami masih dipenuhi tanda tanya.

“Gerimis itu tersapu oleh angin, dan meninggalkan kabut dibelakangnya. Gadis itu mendekat kearahku. Kulihat matanya sembab. Dengan sisa ketegarnya ia tersenyum padaku, mengangguk dan pergi. Ia sungguh sosok misterius, tapi aku tidak ingin mengingatnya.”

Kami berdua terlonjak, hanya itu. Demi aku yang rela mencabut akar-akarku dan gadis beraroma lembut itu berani menggurkan daunya demi menyibak misteri kotak yang berukuran 60x90 ini.

Kurator itu kemudian berlalu meninggalkan sejuta tanda tanya. Kutengok gadis di sebelahku, kulihat matanya temaram. Kudekatkan wajahku kewajahnya, mengalir getir mengusik-ngusik perdu dalam rongga dada. Kuberanikan diri untuk bertanya. “Ada apa?” tanyaku dengan lembut. Sorot matanya menikam sukma. Gadis di depanku ini menjatuhkan raganya kebawah lukisan. Wajahnya yang tadi baru saja di depanku tiba-tiba menghilang. Aku ikut bersimpuh. Aku dan gadis ini sekarang terduduk di bawah lukisan sunyi. Kucermati perlahan lahan dan menunggu sampai ia akan mulai berhenti mengungkum kesendirian. Senyum itu mulai mengambang, aku menghela nafas panjang, debaran dalam jantung terasa semakin kencang seakan baru saja menatap sepasang berlian yang tergantung di tiara mahkota. Namun terusik ketika kurator itu kembali menemui kami.

Beberapa menit telah berlalu, kami bertiga menghabiskan waktu ditemani kopi berbalut krimer. Di meja istirahat kami saling terdiam, seakan ada getaran aneh sekaligus rasa nyeri yang membuat rongga yang tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Lukisan sunyi itu membawa aura magis yang sungguh memepengaruhi hidupku dalam sekejap. Tanpa disadari matahari  dan orang-orang yang tadinya membanjiri tempat ini sudah menepi. Tanpa disadari lagi tinggal aku yang duduk dikursi ini, entah kemana kedua orang itu. Menikmati angin dingin yang tercipta di musium, ketiga cangkir putih di atas meja berdiri sepi, mataku tertarik dengan lipatan tisyu yang ditinggal oleh kurator. Seperti disengat sepasukan lebah, aku berdiri dan berlari.

Gadis itu masih berdiri di depan lukisan sepi. Tatapnya yang serupa laguna saat memantulkan mendung kalbu. “Gadis kurator, itukah engkau?” ucapku di telinganya. Suasana begitu terasa syahdu dengan nyala lampu yang tidak terlalu terang, menimbulkan tusukan pedih di dada.

Dalam tatapan penuh kepedihan dari sepasang berlian biru ia mualai berucap. “Hari ulang tahunku waktu itu, kau telah menoreh sakit hati yang begitu dalam. Hampir setiap malam aku tidak mampu memejamkan mata. Seseorang yang telah menawan hatiku tidak mampu melangkahkan kakinya kepadaku hanya untuk mengatakan selamat ulang tahun. Begitu dramatis hidupku, kulangkahkan kaki menuju rumahmu, untuk mendengarkanmu, di bawah gawangan pintu kau beridiri, udara saat itu mengirim pesan padaku kau sudah tidak peduli padaku dan kesepian menusukku dari segala penjuru.”

“Hingga kau seperti malin kundang kena kutuk di tepi jalan itu?” tanyaku. Getaran perih ini menerpa sekujur tubuhku. Rasa bersalah ini seperti tak tertangguhkan, karena itulah lukisan sepi ini seperti magnet dalam hatiku. Kutuntaskan. Satu kenangan pamungkas nan manis. Lukisan itu tetap sepi, mengatarkan kerinduan yang menyiksa menjadi indah.

Joomlart