Apakah kalian pernah mengingat-ngingat tentang masa lalu? misalnya masa-masa di Tk, SD, SMP, SMA, atau masa-masa bersama keluarga dan teman-teman. Tapi bagaimana kalau masa lalu itu adalah sesuatu hal yang memalukan, dan gara-gara itu pula kamu harus manghindari seseoarang karena dianggap orang itulah yang mengakibatkan hal memalukan itu terjadi.
Adalah El Latief Fadli Muhammad atau lebih dikenal dengan nama Fadli orang yang paling males (banget!) untuk aku temui itu. Hari itu aku masih ingat betul, hari terakhir masa orientasi siswa baru (MOSB) SMA 2 Daun Anggrek. Materi hari itu kosong kami hanya diberi tugas untuk membereskan ruang kelas kami, Aku dan Uni kebagian mengepel lantai hanya mengepel dan yang mengganti iar di emberku adalah si Fadli itu, awalnya aku akui aku agak sedikit, sedikit kok dan itu cuma sesat itu saja emmmm, sedikit... kalian taulah anak SMP yang baru masuk SMA masih sangat terlalu sangat-sangata terlalu polos. Jadi sat itu ya cuma sesaat itu saja aku merasa senang (Cuma ngomong gitu doang pake acara muter-muter segala!) Oke aku jujur sekarang aku memang saat itu lumayan agak emmm,,, sedikit tertarik sama dia, habisnya dia saat itu terlihat sangat menonjol, dia lumayan ganteng, lumayan imut, cukup lucu, dan postur tubuhnya atletis pokoknya cowok idaman banget deh!Aku juga mengakui aku sempat memandangi wajah gantengnya itu diam-diam. Tapi semua perasaan dan kekagumanku itu dengan tiba-tiba saja berubah menjadi rasa jengkel marah bahkan sampai saat ini gara-gara kejadi itu aku tidak sanggup berdekatan dengannya lebih dari 5 meter, entahlah mungkin ini gejala psikologis yang sering orang-orang sebut dengan sebutan trauma. Ya kejadian itu begitu membuat aku sangat tidak nyaman di dekatnya sekarang kejadian yang sangat menghebohkan, sampai-sampai sekarang pun aku masih ingat secara detil kejadian itu bagaikan kejadian itu baru saja terjadi.
Waktu itu aku sadar air di ember pelanku sudah sangat tidak layak untuk dikatakan bersih, maka secara spontan aku memanggil Fadli yang bertugas untuk mengganti air di emberku, tapi di arena yang aku rasa mulus tanpa hambatan ( jalan tol bukan maksudnya?) tiba-tiba langkah kaki Fadli terganjal oleh sebongkah kaki panjang yang melintang di arena lintasan Fadli yang membuat langkah Fadli yang tadinya teratur sekarang menjadi goyahdan akhirnya Fadli tumbang dan mengguyurkan seember air kotor keseluruh tubuhku yang membuat kubasah sampai kedalam pakaian dalamku semuanya basah kuyup dan yang paling penting!!! AKU SANGAT MERASA MALUU!!!
Semua orang yang berada di sana saat itu menertawakanku, bahkan kakak kelas yang sebelunya aku idolakan ikut menertawakanku, membuatku ilfil jadinya. Di saat aku masih syok dan mematung di tempat walau Uni sudah mati-matian mencoba menyadarkanku tapi aku masih saja terdiam tanpa kata, tapi tiba-tiba saja si Fadli itu menyeretku keluar, sambil menahan tawanya aku rasa karena sempat aku lihat wajahnya merah padamentah karena aku yang masih syok atau mungkin si Fadli itu sudah berhasil menghipnotisku karena saat itu aku mau saja di bawa pergi olehnya, Ia membawaku ketoilet aku tahu itu setelah aku tersadar sudah berada di sana dengannya. Lalu dengan entengnya tiba-tiba ia membuka bajuny, karena mungkin saja aku berada dalam keadaan bahaya aku reflek mundur teratur dan menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Tapi dia dengan wajah gantengnya yang saat itu sangat aku sesalkan malah menertawakanku dengan girangnya.
“Kenapa loe?”
Aku menggeleng masih dalam jarak amanku lalu ia melemparkan bajunya padaku.
“Udah sana loe bersihin diri loe trus ganti baju loe sama baju gue soalnya, emm,,, under wear loe keliatan tuh“, katanya dengan wajahnya yang mendadak berubah menjadi merah.
Ukh! Sumpret! Saat itu aku hamper saja jatuh pingsan karena saking syoknya, tapi aku untungnya masih punya sedikit tenaga untuk sekedar menahan keseimbangan tubuhku sendiri, Karena sangat tidak lucu kalau sampai di ketahui watawan tabloid remaja, mungkin sajakan mereka akan menjadikan berita ini sebagai head line-nya, mungkin juga mereka akan menuliskan judulnya dengan huruf besar tebal dan bercetak miring.
“SEORANG SISWI SMA ‘ XX ’ JATUH PINGSAN DI TOILET DENGAN UNDER WEAR BERMOTIF SPONGEBOB BERWARNA KUNING”
Lalu akan ditulis berita “Menurut saksis mata siswi tersebut jatuh pingsan karena tidak kuat lagi menahan rasa malu” lalu dipasang fotoku yang sedang dibawa oleh tandu dan foto si Fadli itu dengan gaya narsis sok keren, sok imut, dan sok manisnya. Ukh!! Jangan sampe deh pikirku saat itu.
Sejak saat itu aku selalu menghindarinya karena aku selalu terkena masalah jika berdekatan kurang dari 5 meter dengannya, dan lagi kalau aku melihatnya aku jadi teringat kembali dengan kejadian itu. Memang sih itu bukan kesalahannya sepenuhnya tapi,,, ikh! sumpah nyebelin banget! entahlah jalan hidup yang bagaimana yang sedang Tuhan rencanakan utukku tapi yang jelas-jelas aku tahu semua kejadian tidak menyenangkan yang terjadi padaku semuanya gara-gara dia, ya dia,,, dia yang bernama EL LATIEF FADLI MUHAMMAD, orang yang telah membuat aku sangat malu di hari terakhir MOSB dulu, dia yang selalu aku hindari dari satu tahun belakangan ini, dia cowok yang selalu aku perhatikan waktu bermain basket, dia yang pernah aku taksir dulu sejak pertamakali bertemu saat pendaftaran dulu, dia yang membuatku seakan meleleh dengan senyum dan lesung pipinya, tapi dia pula yang selalu membuatku malu di muka umum!
Kalian tahu semalam adalah malam terakhirku menikmati indah liburan akhir tahun pelajaran, dan semalam aku berdoa pada-NYA. Kalian tahu apa doaku? Semalam aku berdoa supaya aku tidak sekelas lagi dengan si Fadli, supaya aku tidak pernah bertemu lagi dengannya walau pun itu hanya kebetulan saja.
Tapi pagi ini apa yang aku lihat menggugurkan seluruk doa dan pengharapanku semalam, pagi ini aku malah harus melihat pemandangan yang kurang emngenakan bagiku, aku malah disambut dengan senyum termanis dari si biang kerok Fadli ya dia yang itu EL LATIE FADLI MUHAMMAD.
Haah!! kenapa Tuhan? kenapa jalan hidupku sepertinya selalu berhubungan dengan cowok ini? Dengan lemas aku menghampiri Uni yang melambai-lambaikan tangannya memanggilku, Oh ya! satu-satunya hal yang membuatku lega adalah bahawa aku sekelas lagi dengan Uni sahabatku sejak SMP.
“Haah!”, keluhku dengan menarik napas panjang, Uni yang berada di sampingku memandang aneh padaku.
“Pagi!”, sapa Fadli tiba-tiba mengagetkanku karena wajahnya yang terlalu dekat denganku.
Walaupun hari ini pun dia memamerkan senyum dan lesung pipinya tapi tetap saja membuat napasku sesak karena memikirkan hal memalukan apa yang mungkin terjadi nanti, apa dia tidak tahu kalau selama kelas X6 dulu aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak gara-gara semua kejadian memalukan yang ditimbulkan olehnya tanpa sengaja padaku hampir di setiap hari selam dua semester dan hampir 365 hari.
Napasku makin naik turun, dadaku berdegup dengan kencang, keringatku deras mengucur dari segala penjuru pori-pori kulitku, begitu dia duduk tepat di depan mejaku! Argh! sebenarnya apa sih maunya cowok ini apa kurang sikap anti pantiku padanya, padahal sejak kejadian itu aku sama sekali tidak menyapanya tidak pula membalas sapaannya, bahkanaku menghindarinya baik di kelas ataupun di luar kelas. Aku juga selalu bersikap menyebalkan padanya dan juga aku selalu menunjukkan aura jahatku agar dia tidak berani mendekatiku, tapi yang terjadi dia malah masih saja bermanis-manis padakudan hal itu membuat aku tidak bisa bernapas dengan lega.
Kutarik kepala Uni dan membisikkan sebuah kalimat yang ternyata tak dimengerti Uni barulah setelah kuulangi ia mengerti.
“Enggak ada tempat lain Sa, loe kan tau gue sibuk di karate dan mading”, jawab Uni lantang membuatku harus membekap mulutnya, karena mungkin saja Fadli akan mendengar dan mengerti apa maksud Uni tadi.
Tapi ada benarnya juga sih apa kata Uni, kasihan Uni dia bahkan tidak bisa berlibur gara-gara banyak tugas yang harus ia selesaikan di dua ekstrakurikuler yang ia ikuti, karena ini akhir pelajaran jadi semua sub ekstrakurikuler di sekolah merencanakan pemilihan ketua yang baru, dan tentunya yang mengurusi tetek bengeknya adalah anak-anak juniornya yaitu kami ini.
Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan dan mengalah pada keadaan yang sepertinya selalu saja membuatku dalam kondisi yang tidak nyaman.
“Ehem!!! ehem!”
Tiba-tiba suara laki-laki yang gak sedikit ngebas menyeruak keramaian kelas membuat kami terdiam.
“Mohon minta perhatiannya sebentar!”, katanya lagibenar-benar ingin di perhatikan. Aku rasa ini akan menjadi penceramahan wali kelas yang lumayan panjang, karena bias dilihat dari persiapannya yang membawa sebotol minuman mineral.
@@@ terimachioidea.blogspot.com @@@
Aku masih mematung di mejaku dan kaki tanganku masih belum mau aku gerakkan, padahal bel istirahat yang selalu aku tunggu-tunggu telah lama berbunyi semenjak 2 menit yang lalu kira-kira (kayaknya nggak terlalu lama deh) kelas kosong tak berpenghuni hanya ada aku di sini, aku tahu mungkin teman-teman yang lain sangat-sangat jenuh dengan keadaan di kelas gara-gara ceramah panjang tanpa lebar dari Pak SYAEFUL RIADI sang wali kelas, aku masih berada di kelas bukan karena aku sangat betah dengan kedaan di kelas tapi aku sungguh belum bisa menggerakan kaki dan tanganku setelah semua anak-anak dan disetuji oleh wali kelas tentunya yang menjadikanku sebagai sekertaris kelas, dan itu artinya aku akan sering bertemu dan bekerjasa dengan Fadli!
“Uukh,,,! bete gue!”
Ya Allah… ada apa ini? orang yang selama setahun ini aku jauhi tapi kenapa sekarang sepertinya Kau dekat-dekatkan dengaku. Dan mengapa aku dan dia harus bau kucing. Ekh! bau kucing? kok aku malah ngaco sih, tapi benerjuga ada bau kucing di sini di kels ini, tapi di mana? Di kolong? tapi tidak ada. Aku bangkit dari dudukku dan mulai menyapu seliruh penjuru ruangan mencari sesosok hewan yang diberi nama kucing, tapi tidak seekor pun kucing yang nampak di sini, tapi tiba-tiba terdengar suara yang aku yakin itu adalah suara kucing itu dan benar saja kucing itu napak kecil kurus dan ceking tapi berhasil mengintimidasiku dengan cara mengendus-endus dan mulai mendekatiku, aku mulai gusar dan akhirnya aku memutuskan untuk secepatnya mengambil langkah seribu dengan kecepatan penuh, tapi aku malah menubruk seseorang yang berbau wangi dengan tidak sopannya menghalangi pelarianku.
“Aduhh!!”, rengekku meratapi pantatku yang membentur ubin.
“Loe nggak apa-apakan?”, tanyanya dengan suara yang sangat aku kenali, benar saja setelah aku mendongakkan kepalaku Fadli tengah membungkuk sambil mengulurkan tangannya mencoba membangunkanku.
“Enggak! nggak apa-apa kok”, jawabku ketus dan mengabaikan uluran tangan Fadli. Dan hal itu sepertinya membuat Fadli kecewa dan terkejut jangankan dia aku sendiri saja terkejut mengapa aku sampai berprilaku tidak sopan seperti ini? Tapi sudahlah toh biasanya aku seperti ini.
“Kenapa lari-lari?, tanyanya lagi setelah bisa mengendalikan dirinya, tapi sepertinya dia sedikit banyak meledekku sangat jelas karena sesaat kemudian dia berujar ’apa ada setan?’ katanya sambil tersenyum simpul yang membuatku sering tidak tega berlaku kejam padanya.
“Bukan!! tapi ada kucing”, jawabku keceplosan, membuatku sedetik kemudian menutup mulutku sendiri dengan kedua telapak tangan.
“ooh”, serunya, membuatku kaget aku karena aku kira dia akan memberiku serangkaian pertanyaan seperti “Kenapa emangnya kalo ada kucing“ atau “Loe takut kucing (sambil tertawa mengejek)"
“Dimana kucingnya?”, tanyanya membuatku tersadar dari lamunanku.
“Tuh disitu”, jawabku sambil menunjukkan TKP, tapi sang tersangka sudah menghilang raib entah kemana.
“Mana?”, tanyanya lagi yang mulai membuatku marah.
“Tadi di situ kok!”, jawabku ketus tapi ia malah mengerutkan keningnya sambil menghela nafas, entah apa maksudnya, untuk kemudian memanggil-manggil si kucing tengil itu, aku rasa itu konyol dan tidak akan berhasil memancingnya keluar tapi aku harus mengakui kalau persepsiku tadi itu sangatlah salah buktinya dengan langkah yang manja dan malu-malu si kucing tengil itu mendekati Fadli.
Lalu Fadli membawanya keluar dan diikuti oleh aku di belakangnya memastikan Fdali benar-benar membuangnya, tapi tiba-tiba ketika Fadli sudah masuk kedalam kelas si kucing tengil itu berlari yang aku yakin sepertinya dia itu akan menyerangku.
“Fadli”, teriakku seraya berlindung di belakang tubuh Fadli, dan saat itu pula tanpa ada aba-aba sebelumnya anak-anak yang lain tiba di sana dan menyasikan sebuah potongan kejaadian yang dia artikan salah oleh sebagian besar dari mereka, aku yakin itu karena ekspresi mereka ketika melihat aku yang tengah memeluk Fadli tanpa sengaja. Semua mata itu seketika mengarah tajam pada kami, seakan ingi memastikan semua prsangka yang ada di benak mereka.
Hua, malu-maluin banget sih kehidupanku ini, kenapa mereka harus memandang semua hal yang aku lakukan tanpa sengaja dengan Fadli dengan pikiran “Pasti ada apa-apanya”, aku memandang kesekelilingku sekilas pandang aku melihat Razli memeluk lukman dengan gaya yang sama persis dengan yang aku lakukan tadi, habislah aku.
Pangandaran, Jawa Barat, 2011
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Trouble Is You




































