Sinopsis “ Jika Aku Boleh Memilih”
Aline tidak menyangka bahwa suatu kali dia dapat bertemu kembali dengan kakak sepupu teman kuliahnya, setelah 5 tahun tidak berjumpa dengannya.
Dia juga tidak menyangka bahwa kakak sepupu teman kuliahnya ternyata mencintai dia sejak pertama kali mereka bertemu. Namun Aline mencintai orang lain.
---
Oh, mengapa hujan belum berhenti juga. Bis yang aku tunggu tak kunjung tiba. Aku sangat kedinginan di halte bis ini. Tapi aku tidak sendirian. Kulihat beberapa orang lainnya juga masih setia menunggu bis. Aku terus berharap agar hujan segera berhenti. Namun seketika pikiranku buyar ketika sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melewati halte bis sehingga menyebabkan air genangan tersebar ke arah kami yang ada di halte bis. Kudengar makian beberapa orang terhadap supir mobil tersebut, namun mobil tersebut tetap saja melaju.
Karena sudah hampir satu jam menunggu dan bis yang aku tunggu belum datang juga, maka aku bermaksud naik taksi saja jika ada taksi yang lewat. Beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan dengan kecepatan lambat mengarah ke halte bis dan berhenti di depanku. Aku tidak mengenali siapa supir mobil tersebut. Seorang pria muda berkemeja keluar dari mobil tersebut sambil membawa payung dan menuju ke arahku. Aku agak bingung juga karena aku tidak mengenali pria tersebut. Pikirku, mungkin dia akan menanyakan alamat seseorang.
Aku begitu terkejut ketika pria tersebut berkata kepadaku, “Nona, ijinkan saya mengantarkan anda pulang.“
Aku hanya memandangi dia dan menjawabnya,“ Tidak usah, terima kasih. Saya akan naik taksi saja.”
Namun pria tersebut tetap berdiri di depanku dan terlihat sekali dia berharap bahwa aku mau pulang dengan dia.
"Mungkin Nona lupa siapa saya sehingga Nona takut untuk ikut pulang dengan saya. Saya adalah Andre, kakak sepupu Johan. Bukankah Anda Nona Aline? Masih ingatkah Nona dengan Johan, teman Nona semasa kuliah dulu?”
Sekejap ingatanku terbang ke masa kuliahku dulu. Aku memang punya teman bernama Johan. Tentu saja aku ingat Johan. Bagaimana mungkin aku melupakan Johan. Pria tampan, pintar dan baik hati yang aku kenal sejak semester satu. Johan adalah pria idola di jurusan kami. Banyak gadis dari jurusan kami maupun jurusan lain di kampus kami yang selalu berusaha mendekati dia. Namun sampai dengan hari kelulusan kami, Johan tetap belum mempunyai seorang kekasih. Kata-kata lembut pria di depanku membuyarkan lamunanku.
”Apakah Nona sudah ingat siapa saya?”, aku ingat benar Johan. Tapi aku tidak ingat pria yang ada di depanku. Sepertinya dia memahami kebingunganku dan katanya kemudian, ”Dulu sewaktu Nona membuat tugas akhir bersama Johan, beberapa kali Nona datang ke rumah saya dan di situlah kita bertemu.”
Aku baru teringat bahwa Johan memang tinggal di rumah kakak sepupunya selama dia kuliah. Aku pernah bertemu dengan kakak sepupunya, tapi itu sudah sekitar lima tahun yang lalu. Jadi aku tidak begitu ingat dia. Tapi pikirku, kalau dia tahu namaku dan mengetahui tentang Johan, tentunya apa yang dia katakan padaku adalah benar.
Dengan terus terang aku berkata kepadanya, "Maaf Kak, saya benar-benar tidak ingat Kakak. Tapi memang benar bahwa nama saya Aline dan saya mengenal Johan.”
"Bagiku itu sudah cukup bahwa nama Nona adalah Aline, jadi saya tidak salah mengenali orang. Pasti kau sudah kedinginan. Ijinkan saya mengantarkanmu pulang dan kita bisa bercerita lebih lanjut tentang Johan dan sebagainya.”
”Aku tidak mau merepotkan Kakak. “
“Kalau kau merepotkan aku, tentu saja aku tidak akan menghentikan mobilku dan menawarkan tumpangan kepadamu,” katanya.
Akhirnya aku pulang bersama Andre, kakak sepupu Johan. Sepanjang perjalanan dia berusaha mengingatkanku kembali kepada masa-masa kuliahku dulu bersama Johan. Aku sangat heran mengapa dia begitu perhatian dan ingat semua aktivitasku bersama Johan semasa kami kuliah dulu. Dulu aku dekat dengan Johan karena kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain alat musik dan ke toko buku. Jadi aku sering bepergian dengan Johan semasa kuliah dulu. Kedekatan kami sering membuat beberapa gadis di kampus menjadi cemburu. Namun tidak ada hubungan istimewa antara aku dan Johan. Semuanya adalah murni persahabatan.
Di semester akhir, aku semakin dekat dengan Johan karena dia adalah rekanku untuk tugas akhir. Kami sering pergi bersama mencari bahan tugas akhir, makan dan main bersama. Johan pandai memainkan gitar dan aku bisa memainkan piano. Kadang di saat jenuh dengan urusan tugas akhir, kami pergi ke studio musik dan bermain alat musik serta membuat lagu. Ada beberapa lagu yang telah kami tulis bersama. Aku masih menyimpan semuanya sampai sekarang. Semua kedekatan itu semakin lama membuat perasaanku terhadap Johan tidak lagi murni sebagai sahabat, namun aku merasakan perasaan lain di mana aku tidak ingin jauh dari Johan. Ingin selalu dekat dengan dia, ingin dia setiap hari menelponku. Aku berpikir, sepertinya aku mulai jatuh cinta kepada Johan. Tapi Johan tidak menunjukkan reaksi yang lain selain memperlakukanku sebagai seorang sahabat. Jadi aku hanya bisa memendam perasaanku dalam hati saja.
Johan dan aku lulus dengan nilai terbaik pertama dan kedua di jurusanku. Aku tetap tinggal di kota Yogyakarta dan mengirimkan lamaran kerja di kota ini. Namun Johan memilih untuk kembali ke Jakarta, ke kota asalnya. Beberapa bulan awal dari saat kami berpisah, kami masih sempat seminggu sekali saling menelpon. Namun setelah kami berdua mulai bekerja, frekuensi komunikasi kami menjadi semakin berkurang menjadi 1 bulan sekali hingga sejak 2 tahun yang lalu, di mana Johan memberitahukan kepadaku bahwa dia akan dipindahkan perusahaannya untuk menangani pabrik yang ada di Vietnam. Sejak saat itu kami tidak pernah berkomunikasi lagi.
Aku merasa bukan suatu kebetulan jika saat ini aku bertemu dengan Andre, kakak sepupu Johan. Menurut info dari Andre, bahwa Johan sudah kembali ke Jakarta sejak satu bulan yang lalu. Menurut Andre juga bahwa hubungan Andre dengan Johan sangat akrab. Meskipun Andre hanyalah kakak sepupu Johan, namun Johan sudah menganggap Andre seperti kakak kandungnya, demikian pula dengan Andre. Antara mereka berdua tidak ada rahasia,mereka saling terbuka satu sama lain. Info dari Andre bahwa setelah Johan kembali ke Jakarta lima tahun yang lalu, Johan merasa kesepian karena berjauhan dengan Andre dan juga denganku. Andre bilang bahwa Johan sangat sayang kepadaku seperti layaknya adiknya sendiri. Dari info Andre inilah aku jadi memahami mengapa Johan selalu bersikap seolah ingin melindungiku. Tapi aku juga sedih mendengar info dari Andre, bahwa ternyata Johan hanya menganggapku seperti adiknya sendiri. Padahal jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat berharap bahwa suatu hari nanti Johan bisa menyayangiku lebih dari seorang teman.
Tak terasa aku sudah hampir tiba di rumah kontrakanku. Selama hampir satu jam perjalanan, semua percakapan didominasi oleh Andre dan aku menjadi pendengar setia. Aku senang bisa mengetahui kabar tentang Johan lagi. Tapi aku juga sedih karena yang aku temui sekarang adalah Andre dan bukan Johan.
Lamunanku buyar seketika ketika Andre bertanya, ”Aline, setelah jalan lurus ini lalu akan belok ke kanan atau ke kiri?”
"Oh, setelah ini akan belok ke kanan dan jalan lurus hingga ujung jalan. Rumah yang paling ujung sebelah kanan adalah rumah kontrakanku.”
”Apakah kau sering pulang ke Solo untuk menengok orang tuamu?”
”Setiap sebulan sekali di minggu terakhir, aku pulang ke Solo,” jawabku sambil merasa bingung mengapa dia tahu bahwa aku adalah orang Solo.
Katanya lagi, ”Aku juga sering melakukan perjalanan bisnis ke Solo. Mungkin suatu kali nanti kita bisa pergi bersama kalau kau tidak keberatan. Bolehkah aku mengetahui nomor telponmu? Kau jangan sungkan kepadaku. Anggap saja aku seperti Johan. Kalau kau butuh bantuanku, kau bisa menelponku. Ini adalah nomor telponku,” katanya sambil memberikan kartu namanya. Akupun segera menuliskan nomor telponku di secarik kertas kecil dan memberikannya kepada Andre.
Aku sudah tiba di rumah kontrakanku. Andre berusaha keluar cepat dari mobil untuk membukakan pintuku. Namun aku telah terlebih dahulu membuka pintu mobil. Dia tersenyum kepadaku dan berkata, ”Kuharap kau tidak keberatan jika aku menelponmu dan mengajakmu keluar makan bersama sesekali nanti. Juga kau jangan sungkan kepadaku. “
”Baiklah Kak, aku akan telpon Kak Andre jika aku butuh bantuan Kakak. Tolong sampaikan salamku kepada Johan jika Kakak menelpon atau bertemu dia.”
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuanku dengan Andre. Sejak pertemuanku itu, hatiku sering gundah gulana. Bukan karena Andre, namun karena Johan. Banyak pertanyaan muncul dalam hatiku tentang Johan. Di mana Johan sekarang, bagaimana kabarnya, apakah sekarang dia kurus atau gemuk dan hal –hal lainnya yang membuatku ingin bertemu Johan. Dering telepon membuatku terhenyak dan segera mengangkat telepon. Telepon tersebut dari Andre dan dia mengajakku keluar untuk makan malam bersama. Sebenarnya aku malas keluar, tapi aku tidak punya alasan yang tepat untuk menolaknya. Jadi aku menerima ajakan Andre. Segera aku berganti pakaian dan merapikan rambutku. Andre bilang sekitar 15 menit lagi akan sampai di rumahku.
Setelah Andre tiba di rumahku, aku sudah menunggunya di teras depan supaya dia tidak perlu mengetuk pintu. Aku bergegas menuju ke mobilnya. Andre bertanya kepadaku mengenai makanan apa yang aku suka. Aku berkata kepadanya bahwa aku tidak pilih – pilih tentang makanan, asalkan jangan terlalu pedas dan berlemak. Kami segera menuju ke arah Malioboro, karena di sekitar situ banyak jenis makanan yang bisa dipilih.
Sepanjang perjalanan Andre selalu berusaha membuat suasana hidup dengan memulai pembicaraan, baik tentang keluarga, hobi, pekerjaan dan sebagainya. Aku mulai memperhatikan bahwa Andre sepertinya pria yang baik. Dia penuh perhatian, lembut, tampan dan sepertinya suka menolong. Tapi setiap kali aku melihatnya, aku selalu teringat Johan.
"Kak, bagaimana kabar Johan sekarang? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Ya, sejak dia ditugaskan ke Vietnam. Apakah sekarang dia kurus, gemuk? Apakah dia sudah mempunyai kekasih, atau mungkin sudah menikah dan punya anak?“, Andre memandangku sambil mengerutkan keningnya
“Aline, pertanyaanmu seperti petugas sensus saja. Sepertinya kau sangat merindukan Johan, ya. Johan tetap di Jakarta, di perusahaan yang sama, sedikit agak kurus, mungkin karena kecapaian bekerja. Setahuku dia belum mempunyai kekasih, jadi ya tentu saja belum menikah dan punya anak.“
'Maaf Kak, soalnya dulu kami sering berbagi cerita bersama. Namun sejak dia ke Vietnam, aku tidak pernah dapat kabar lagi dari dia.“
Sejak saat itu, hubunganku dengan Andre mulai dekat. Setiap Sabtu malam dia ke rumahku untuk menjemputku makan keluar bersama, atau cuma sekedar jalan-jalan keliling kota. Juga tiap hari dia menelponku. Tapi aku hanya menganggap dia seperti kakakku sendiri. Meskipun terlihat sekali usahanya untuk selalu menyenangkan hatiku dan memperhatikanku. Semuanya itu telah berjalan selama 6 bulan. Hingga suatu Sabtu, seperti biasa dia mengajakku keluar. Dia bilang akan makan malam bersama dan setelah itu akan keliling kota untuk melepaskan kepenatan.
Setelah selesai makan malam, kami mulai berjalan-jalan keliling kota, dan tiba – tiba dia berkata kepadaku, “Aline, aku sayang kamu. Aku sudah tidak sanggup lagi memendam perasaanku lebih lama. Aku mulai memperhatikanmu dari saat pertama kita bertemu di rumahku waktu itu, di mana Johan membawamu ke rumah untuk membuat tugas skripsi kalian. Aku bisa memahami jika kau merasa aneh dengan kata-kataku. Tapi inilah perasaanku yang sebenarnya. Sejak pertama kali kita bertemu, aku selalu berharap bahwa Johan akan membawamu kembali ke rumah. Mungkin kau tidak menyadari, bahwa setiap kali kau ke rumahku, aku selalu berusaha curi-curi pandang kepadamu. Aku sangat merasa kehilanganmu setelah kau dan Johan lulus kuliah. Johan pulang ke Jakarta dan dia bilang bahwa kau juga sudah pindah tempat tinggal. Jadi aku sangat senang sekali saat aku bertemu kembali denganmu enam bulan yang lalu.“
Perlahan dia memegang tanganku. Aku berusaha menariknya tapi genggaman tangannya terlalu kuat bagiku. Aku sangat bingung menghadapi situasi ini, tidak tahu harus berkata apa. Lalu Andre melanjutkan bicaranya, ”Aline, mungkin kau tidak tahu harus menjawab apa. Saat ini cukup simpanlah dalam hatimu semua perkataanku. Renungkanlah itu hingga kau benar-benar siap dan bersedia untuk menjadi pendampingku. Aku tidak sedang mencari seorang kekasih. Tapi aku mencari seorang pendamping hidup. Dan sejak pertama kali aku melihatmu, perasaan dalam hatiku begitu kuat menunjukkan padaku bahwa kau adalah orang yang akan mendampingiku selamanya. Oleh sebab itu aku tidak pernah putus asa untuk mengharapkan berjumpa kembali denganmu dan kusebut namamu dalam setiap doaku. Aku bukan orang yang pandai mengatakan hal-hal yang indah kepada wanita, tapi inilah perasaan hatiku seutuhnya. Aku sayang kamu, Aline.“
Aku benar-benar bingung mendengar semuanya ini dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku tidak pernah menganggap Andre sebagai orang khusus dalam hidupku. Juga karena aku masih tetap berharap bahwa suatu kali nanti Johanlah yang akan mengatakan hal-hal itu kepadaku. Aku akan merasa sangat bersalah jika aku menerima Andre hanya karena Johan tidak mencintaiku.
Kak, semuanya ini sangat mengejutkan bagiku dan begitu tiba-tiba. Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Biarkan semuanya ini berjalan apa adanya. Jika Tuhan menghendaki kita bersama, tidak ada suatupun yang mustahil.“
"Ya, aku setuju denganmu. Biarkan semuanya berjalan apa adanya.“
Sejak kejadian itu, Andre tetap menelponku setiap hari seperti biasa, namun terlihat bahwa dia semakin memperhatikanku. Setiap Sabtu, Andre juga tetap menjemputku seperti biasa. Malam itu, teleponku berdering tengah malam saat aku sedang bersiap-siap untuk tidur. Dengan agak kesal aku mengangkat teleponku dan betapa terkejutnya aku bahwa yang menelponku adalah Johan. Senang, sedih, haru bercampur jadi satu. Di akhir pembicaraan Johan berkata kepadaku bahwa Sabtu ini dia akan ke Yogyakarta. Dia memintaku menyediakan waktu untuk dapat menemaninya selama dia di Yogyakarta. Dia juga bilang bahwa jangan sampai Andre tahu bahwa dia akan ke Yogyakarta. Meskipun kalimat ini membuatku agak bingung, tapi aku mengiyakan dia saja.
Sabtu yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Sehari sebelumnya aku telah memberitahu Andre bahwa Sabtu ini aku tidak bisa pergi keluar dengannya karena ada janji keluar bersama teman lama. Tapi aku tidak memberitahu Andre bahwa teman lama itu adalah Johan.
Johan telah menungguku di sebuah rumah makan di sekitar Malioboro. Kulihat dia semakin tampan dan berwibawa. Aku jadi semakin sayang padanya. Hampir saja kupeluk dia jika tidak mengingat bahwa ini adalah tempat umum. Akhirnya aku hanya berjabat tangan dengan dia. Terlihat sekali bahwa wajahnya agak gelisah.
Johan memulai pembicaraan,“ Aline, mungkin kau marah kepadaku karena sejak 2 tahun yang lalu aku tidak pernah memberi kabar apapun kepadamu. Kedatanganku kali ini adalah khusus untuk meluruskan semuanya ini dan berharap kau bisa memaafkanku. Mungkin kau akan terkejut dengan apa yang kukatakan, tapi semuanya ini adalah benar. Beberapa bulan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Vietnam adalah saat di mana aku akan menyatakan cintaku kepadamu. Namun sebelum aku melakukan niatku, terlebih dahulu Andre, kakak sepupuku, mengatakan kepadaku bahwa betapa dia mencintaimu sejak pertama kali dia bertemu denganmu. Bagiku Andre adalah segalanya. Dia dan keluarganya merawatku sejak aku ditinggalkan oleh papaku. Andre selalu baik padaku dan menjadi pembelaku di saat orang lain memusuhiku. Dia juga yang menolongku saat aku hampir ditabrak mobil saat kami masih di sekolah dasar. Begitu mendengar Andre begitu mencintaimu, aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Sebab itu saat pihak perusahaan menawarkan padaku untuk mengurus pabrik yang ada di Vietnam, aku segera menerima tawaran tersebut dengan maksud untuk melupakanmu. Meskipun sampai sekarang aku tidak bisa melupakanmu. Di depan Andre aku selalu bilang bahwa aku menyayangimu seperti layaknya adikku sendiri. Namun itu tidak benar. Aku hanya berusaha menjaga perasaannya. Dua minggu lalu aku mendapat kabar dari Andre bahwa dia sudah menyatakan isi hatinya padamu, namun kau masih belum memberikan jawaban padanya. Aline, satu kali ini aku memohon padamu dan aku berharap kau mengabulkan permohonanku. Aku mohon kau menerima Andre sebagai pendamping hidupmu. Aku tahu bahwa aku tidak berhak memintamu untuk hal ini. Tapi demi persahabatan kita dan demi masa-masa indah yang telah kita lalui bersama, dan demi kebahagiaan Andre, aku mohon kau bisa menerima Andre.“
Aku hanya diam saja dan tidak tahu harus berkata bagaimana. Antara marah, sedih, bingung, semuanya bercampur jadi satu. Aku hanya berpikir jika aku boleh memilih di antara mereka berdua, tentu saja aku akan memilih Johan untuk menjadi pendamping hidupku. Namun dengan semua hal yang dikatakan Johan, semua harapanku menjadi pudar. Aku tidak bisa menjawab permohonan Johan dengan kata-kata, aku hanya bisa menganggukkan kepalaku kepadanya sebagai tanda bahwa aku menyetujui permohonannya meskipun itu terasa berat bagiku. Terlihat senyum sedih di bibir Johan. Inilah kehidupan. Hidup adalah suatu pilihan. Dan dalam hal ini, aku telah memilih untuk mengikuti kemauan Johan, yaitu menerima Andre menjadi pendamping hidupku.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Jika Aku Boleh Memilih





































