Sinopsis " Kekasih Jiwaku"
Kasih seorang sahabat terkadang melebihi kasih seorang saudara. Demikian juga yang terjadi pada Lina dan Mira. Betapa besar kasih sayang Lina kepada Mira, sehingga dia selalu memikirkan hal yang terbaik bagi sahabatnya, termasuk dalam hal mencari pasangan hidup.
Aku merasakan hari – hari berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa telah 30 tahun usiaku. Aku berasal dari keluarga sederhana dan tinggal bersama ayah, ibu dan adik lelakiku. Orangtuaku memiliki sebuah toko kelontong kecil di pasar. Adik lelakiku setamatnya dari akademi teknik mesin, dia bekerja di perusahaan otomotif. Aku sendiri adalah lulusan dari jurusan arsitektur dan sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai perancang bangunan dan interior rumah.
Saat masih di sekolah menengah atas, aku sering memimpikan bahwa suatu hari nanti akan datang seorang pangeran tampan dan gagah yang akan mempersuntingku sebagai isterinya, seperti layaknya Cinderela. Namun pada kenyataannya sampai saat ini aku belum pernah memiliki seorang kekasih. Belum ada seorang priapun yang pernah menyatakan cintanya padaku. Hari – hari aku lalui dengan bekerja. Di samping bekerja di perusahaan swasta, aku juga memberikan kursus kepada mahasiswa arsitektur mengenai menggambar teknik dan perancangan bangunan. Aku sangat menyukai pekerjaanku. Aku memang orang yang suka berimajinasi, sehingga tidak sulit bagiku untuk menghasilkan rancangan-rancangan bangunan yang menakjubkan, menurut atasan dan rekan kerjaku.
Orangtuaku selalu menyemangati aku dengan mengatakan bahwa meskipun mereka hidup dalam perekonomian terbatas, namun mereka percaya bahwa anak – anak mereka pasti menjadi orang yang berhasil suatu hari nanti. Di dalam setiap langkahku, aku percaya bahwa Tuhan turut campur di dalamnya. Bukan sesuatu kebetulan suatu hal terjadi. Aku percaya bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Ada waktunya tertawa, menangis, marah dan sebagainya. Orangtuaku selalu mengajarkan kepadaku untuk selalu hidup dalam keyakinan. Mereka selalu mengatakan bahwa aku tidak boleh membiarkan kebimbangan dan keraguan menari di otakku. Mereka selalu menyakinkan aku dengan mengatakan bahwa jika aku hanya mengandalkan kekuatanku sendiri, aku pasti gagal. Oleh sebab itu aku harus selalu mengandalkan kekuatan Tuhan yang melampaui segala akal.
Telah 7 tahun aku bekerja di perusahaan ini, sejak aku lulus dari kuliah. Pada dasarnya aku adalah orang yang tidak suka berpindah - pindah tempat kerja. Jadi, aku tetap setia menekuni pekerjaanku, meskipun beberapa rekan seangkatanku telah mengundurkan diri dari perusahaan ini. Aku meniti karirku dari nol hingga akhirnya saat ini aku menjadi seorang manajer perancangan.
Meskipun sampai saat ini aku belum mempunyai kekasih, namun aku tidak pernah merasa kesepian. Aku memiliki keluarga yang selalu menyayangiku, aku memiliki rekan kerja dan atasan yang selalu mendukungku, serta aku memiliki Lina, teman baikku sejak kami masih di bangku sekolah menengah atas. Lina berasal dari keluarga yang kaya raya. Ayahnya adalah seorang importir buah. Namun Lina tidak pernah menganggapku rendah. Dia tidak pernah malu berteman denganku meskipun tingkat ekonomi kami berbeda jauh. Selepas dari sekolah menengah, dia melanjutkan kuliah ke New Zealand dan menikah di sana sejak empat tahun yang lalu. Lina kembali ke Indonesia dua tahun yang lalu. Selama dia di luar negeri, setiap seminggu sekali dia menelponku. Saat dia mempunyai hubungan dekat dengan pria yang sekarang menjadi suaminya, diapun selalu menceritakannya padaku.
Setiap malam minggu, Lina dan aku keluar bersama hanya untuk sekedar jalan-jalan ataupun makan malam. Namun dia tidak pernah bersama suaminya saat menemuiku.
” Mira, selama kau belum punya kekasih, aku juga tidak akan memperkenalkan suamiku padamu. Aku tidak mau kau bersedih dan banyak pikiran. Jadi, kalau kau telah menemukan kekasih jiwamu, kau harus segera memberitahuku. Supaya akupun dapat memperkenalkan suamiku padamu", katanya padaku.
Lina selalu berusaha untuk menjaga perasaanku. Padahal jika dia mau memperkenalkan suaminya padaku saat ini, bagiku tidak menjadi masalah. Lina lebih dari seorang sahabat. Dia seperti layaknya saudaraku sendiri. Di saat keluargaku mengalami kesulitan keuangan saat aku hendak kuliah dulu, dialah yang memberikan bantuan padaku.
Saat ini aku sedang menangani proyek besar untuk pembangunan gedung perkantoran. Beberapa hari belakangan ini aku sangat sibuk hingga sering pulang larut malam untuk mempersiapkan presentasi di depan pemilik proyek mengenai detil rancangan bangunan. Besok siang aku akan bertemu dengan pemilik proyek. Aku mendengar sepintas dari rekan kerjaku bahwa pemilik proyek ini adalah eksekutif muda yang kaya raya. Namun bukan hanya hal itu yang membuat rekan kerjaku heboh. Menurut mereka, pemilik proyek tersebut, selain kaya, muda, tampan, baik hati pula.
”Mana ada sih pria sesempurna itu”, pikirku dalam hati.
Kata mereka, aku harus mempergunakan kesempatan baik ini untuk dekat dengan pemilik proyek tersebut. Eh, siapa tahu bisa menjadi pasangan hidup bagiku. Aku hanya menganggap angin lalu semua kata - kata mereka. Aku rasa mereka hanya bergurau saja dan menggodaku, karena mereka tahu bahwa sampai saat ini aku belum mempunyai kekasih.
Aku telah tiba di kantor pemilik proyek pada jam setengah satu siang. Kami berjanji untuk bertemu di ruang pertemuan pada jam satu siang. Pegawai di kantor itu mempersilakanku untuk menunggu di ruang pertemuan. Ketika aku memasuki ruang pertemuan itu, suasananya terasa sangat nyaman. Seperti ada kedamaian di tempat itu sehingga orang ingin berlama – lama ada di situ. Dekorasi ruangannya minimalis, namun terlihat sangat indah sekali. Aku menjadi penasaran, seperti apakah pemilik proyek yang akan kutemui sebentar lagi.
Jam satu tepat, dua orang pria muda dan seorang wanita masuk ke dalam ruangan tersebut. Sang wanita memperkenalkan kedua pria muda tersebut. Mereka adalah direktur perusahaan tersebut dan yang lainnya adalah pimpinan proyek ini. Sedangkan sang wanita tersebut adalah sekretaris direktur. Setelah memperkenalkan dirikur, segera aku menginformasikan kepada mereka mengenai agenda yang telah aku susun dalam pertemuan tersebut. Sejenak aku sempat bertanya dalam hatiku, di antara dua pria tersebut, pria manakah yang dimaksudkan oleh rekan kerjaku? Karena secara sepintas aku melihat keduanya cukup ramah dan tampan. Namun segera aku tersadar dan kembali fokus kepada agenda yang telah kususun. Aku menjelaskan dengan lengkap kepada mereka mengenai rancangan bangunan yang telah aku buat dan aku menanyakan kepada mereka, apakah ada rancangan yang perlu diubah atau ada masukan lain dari mereka. Sang direktur perusahaan menyatakan sangat puas dengan hasil kerjaku. Menurut dia, baru kali ini dia menemukan orang yang bisa dengan sangat tepat mengerti maksud hatinya mengenai rancangan bangunan yang dia kehendaki. Aku sangat senang mendengar komentarnya. Setelah tidak ada pertanyaan lagi dari mereka, aku mohon diri dari mereka.
”Nona Mira, kalau boleh saya tahu, apakah Anda akan pulang dengan kendaraan sendiri ataukah mungkin akan naik taksi?”, tanya direktur perusahaan padaku.
“Saya akan pulang dengan naik taksi.”
”Jika Anda tidak keberatan, saya akan mengantarkan Anda pulang, karena ada beberapa hal yang lupa saya tanyakan dan baru teringat sekarang. Saya baru menyadari bahwa banyak hal yang ingin saya ketahui lebih dalam mengenai rancangan Anda. Tapi saya tidak mau menahan Anda di ruang pertemuan ini, karena Anda akan pulang terlalu larut .”
"Oh, tidak masalah bagi saya jika harus pulang larut malam. Saya sudah terbiasa pulang larut malam jika sedang mengerjakan suatu rancangan.”
”Tidak, saya tidak akan membiarkan seorang wanita pulang larut malam. Jadi ijinkan saya mengantarkan Anda pulang.”
Sang sekretaris menambahkan, ”Nona, sebaiknya Anda pulang dengan Pak Direktur saja.”
”Baiklah, saya akan pulang dengan Anda. Tapi rumah saya cukup jauh dari sini. Kalau tidak macet akan memakan waktu satu jam. Tapi kalau macet, bisa mencapai dua atau tiga jam. Apakah tidak menjadi masalah bagi Bapak?”
”Sungguh, hal itu tidak menjadi masalah bagi saya. Baiklah , kita berangkat sekarang saja supaya tidak terlalu malam.”
Selama perjalanan, sang Direktur menanyakan banyak hal kepadaku mengenai rancangan bangunan tersebut. Namun tidak satu kalimatpun yang dia ungkapkan mengenai hal pribadi atau keluarga. Aku merasakan pria ini meskipun tampan dan kaya, tapi terlalu dingin. Aku sampai kebingungan sendiri mencari obyek pembicaraan selama perjalanan. Aku sangat berharap untuk segera sampai ke rumah.
Setelah pertemuan waktu itu, beberapa rekan kerjaku langsung menyerbuku dengan beribu pertanyaan. Mereka tidak menanyakan tentang hasil pertemuan, namun mereka malah menanyakan tentang siapa orang yang aku temui, apakah dia tampan , kaya dan sebagainya. Lalu aku menunjukkan dua kartu nama kepada mereka. Aku menanyakan kepada mereka, dari dua orang tersebut, manakah orang yang mereka maksudkan? Mereka bilang, yang mereka maksudkan adalah Doni, sang direktur. Pria lainnya bernama Robby, dia yang akan memimpin proyek ini. Namun rekan kerjaku malah belum ada yang tahu tentang Robby.
Saat aku bertemu dengan Lina, akupun menceritakan kepadanya tentang pertemuan tersebut, juga tentang Doni dan Robby. Lalu
” Mira, apa pendapatmu tentang Doni dan Robby? Apakah kau tertarik kepada salah satu dari mereka?”, tanya Lina padaku
”Sampai saat ini sih belum ada perasaan tertarik. Kami jarang sekali bertemu dan berkomunikasi. Namun aku merasa kalau Doni itu orangnya sangat dingin. Sedangkan aku mendengar bahwa Robby telah menikah. Jadi, tentu saja aku tidak tertarik padanya.”
”Ada pepatah mengatakan tak kenal tak sayang. Kalau kau belum kenal Doni secara mendalam, tentu saja kau belum bisa tertarik. Mungkin saja sebenarnya Doni bukan orang yang dingin.“
“Jangan terlalu dipikirkan, Lina. Yang penting pekerjaanku beres dan pelangganku puas.“
Dua bulan setelah pertemuanku dengan Lina waktu itu, aku sangat sibuk mengurus proyek besar ini. Sampai aku lupa kontak Lina. Aku tidak bertemu dengannya dalam dua bulan belakangan ini. Di suatu siang, teleponku berdering dan aku mendapat kabar dari keluarga Lina bahwa Lina sedang dirawat di rumah sakit. Menurut ibunya, Lina melarang mereka untuk memberitahukan hal ini kepadaku. Namun karena beberapa hari belakangan ini Lina selalu mengigau memanggil namaku,maka ibunya menelponku agar aku menyempatkan diri untuk menengok Lina. Setelah mendengar kabar tersebut, aku segera meminta ijin dari atasanku untuk keluar kantor dan bergegas menuju rumah sakit , di mana Lina sedang dirawat.
Aku sangat sedih mendengar keadaan Lina. Menurut ibunya, Lina menderita kanker otak sejak dua tahun yang lalu. Namun dia selalu menyembunyikan penyakitnya itu, bahkan dari orangtuanya. Hanya Lina dan suaminya saja yang tahu mengenai hal ini. Ibu Lina mempersilakanku masuk ke kamar Lina.
Saat aku membuka pintu ruangan tempat Lina terbaring, aku sangat terkejut melihat seorang pria yang duduk di samping tempat tidur Lina sambil menggenggam tangan Lina. Betapa lebih terkejutnya aku setelah pria tersebut mendongakkan kepalanya. Pria tersebut adalah Doni, direktur perusahaan yang mana proyeknya sedang aku tangani. Aku segera mendekati Lina dan membelai rambutnya sambil menyebut namanya. Tak kuduga, Lina membuka matanya perlahan setelah aku memanggil namanya. Lina berusaha menggenggam tanganku sambil tersenyum, kemudian matanya beralih kepada Doni.
”Mira, aku senang kau datang. Maaf telah mengganggumu. Aku tahu kau sedang sangat sibuk dengan proyekmu. Oleh sebab itu aku melarang keluargaku untuk memberitahukan keadaaanku kepadamu. Tapi aku sangat senang kau ada di sini. Mira, aku merasa waktuku tidak lama lagi. Maafkan aku bahwa selama ini aku tidak pernah menceritakan kepadamu tentang penyakitku ini, karena aku tidak mau membuatmu sedih. Bagiku , kau adalah saudara dan sahabatku. Namun sebelum aku pergi, akan kukatakan semuanya ini padamu. Salah satu tujuanku pulang ke Indonesia adalah untuk mencarikan pendamping yang sesuai untuk Doni. Dia adalah suamiku. Mungkin kau akan terkejut mendengarnya. Tapi dengarlah dulu semua penjelasanku. Setelah aku dan Doni mengetahui mengenai penyakitku, aku berkata kepada Doni bahwa aku tidak keberatan jika dia akan mencari penggantiku. Tapi dia tidak pernah menggubris kata - kataku. Dia selalu setia mendampingiku di saat susahku. Aku tidak mau dia bersedih setelah aku pergi. Aku bertekad untuk mencarikan baginya seorang penggantiku. Dengan segala pemikiran dan pertimbanganku, semuanya terarah kepadamu. Aku sangat senang saat mendengar kau belum mempunyai seorang kekasih jiwa. Jadi masih ada kesempatan bagi Doni. Tentang proyek itu, akulah yang meminta Doni untuk memberikannya padamu. Itu adalah salah satu rencanaku untuk mempertemukanmu dengan Doni. Mira, aku tidak pernah memohon apapun padamu. Namun kali ini, aku mohon dengan tulus agar kau bersedia untuk mendampingi Doni setelah aku pergi. Kalian berdua harus berjanji padaku untuk saling menjaga satu sama lain sampai maut memisahkan kalian", kata Lina padaku.
Mendengar semuanya itu aku hanya bisa menangis dan berkata kepada Lina, “Lina, kau jangan banyak berpikir. Kau jangan menyerah, pasti masih ada jalan lain. Kau pasti bisa sembuh.“
Namun Lina segera mengangkat tangan Doni dan menaruhnya di atas tanganku dan berkata kepada kami
” Waktuku tidak banyak. Aku telah siap jika Tuhan memanggilku pulang. Namun sebelum aku pergi, kalian harus berjanji di hadapanku bahwa kalian akan saling menjaga sampai selamanya.”
Doni dan aku hanya saling berpandangan dan kami hanya bisa menganggukkan kepala kami. Saat itulah Lina menghembuskan nafas terakhirnya. Betapa baiknya Lina, hingga sampai akhir hidupnya dia masih sempat memikirkan orang lain. Bahkan dia memikirkan untuk mencarikan seorang kekasih jiwa bagiku.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Kekasih Jiwaku





































