Kehidupan Sinthya tetap berjalan seperti biasanya, mulai terlihat keceriaan di wajahnya. Tiap hari jadwal di tempat kerja semakin padat, bahkan sama sekali gak dapat waktu istirahat, sampai dirumah juga dia harus membantu ibunya membuat sarana-sarana upacara sesuai pesenan dari pelanggan. Maklumlah, Sinthya yang tinggal berdua ibunya sejak dia dilahirkan merupakan sosok keluarga kurang mampu, mereka berdua harus bekerja keras untuk bisa memenuhi hidup mereka. Meskipun kondisi Sinthya terkadang lemah dan ngedrop, tapi dia tetap bertahan, tidak menunjukkan kelemahannya di depan ibunya. Dia selalu terlihat tersenyum.
Suatu hari Sinthya bekerja seperti biasanya, tapi tumben banget dia buka FB pagi-pagi benar, entah apa penyebabnya, saat dia buka Fb itu, matanya tertuju pada kotak inbox yang berwarna merah, berarti ada pesan untuknya, dia segera membuka pesan itu, dan betapa kagetnya dia ketika tau pesen itu ternyata dari Nazwa.
"Kak Sinthya, aku mau minta maaf ma kakak", itu tulisan Nazwa di awal inboxnya ke Sinthya.
"Minta maaf soal apa?? kamu gak pernah punya salah kok sama aku", balas Sinthya kembali.
Tak berselang beberapa jam kemudian, Nazwa membalas lagi, "Aku punya salah ma kakak, gara-gara aku persahabatan kakak ama kak Dika jadi hancur", kata si Nazwa.
"Oh, gak kok, bukan gara-gara kamu, emang sudah takdir hidup aku kayak gini, aku juga minta maaf telah ngeromove kamu dan Dika, itu semua aku lakukan untuk kebaikan hubungan kalian", sambung Sinthya lagi.
"Maksud kakak apa? apa hubungannya kakak ngeremove aku dengan hubungan aku sama si Dika??", tanya Nazwa kemudian.
"Oh, ada banyak, susah dijelasin dengan kata-kata, tapi kalau boleh aku minta sama kamu, tolong kamu jagain si Dika, bahagiakan Dika, jangan pernah buat Dika menangis, dan kalau kamu benar-benar mencintai Dika, cintailah dia karena kekurangannya, jangan pernah kamu mencintainya karena kelebihan dia, dan jangan juga mencintainya hanya di mulut, tapi harus dari dasar hati kamu yang paling dalam", sambung Sinthya sambil berkaca-kaca.
Berselang beberapa menit ada balasan Nazwa kembali, "Iya kak, aku janji bakal lakuin itu". \
"Bagus, aku doakan kalian berdua langgeng, bahagia selamanya, jangan pernah perdulikan aku lagi, dan jangan pernah muncul dihidup aku lagi, biarkan aku sendiri menata hidupku dari awal, semua ini salahku, bukan salah kamu, jadi tolong, pergi jauh dari hidup aku, jaga Dika selamanya", balas Sinthya sambil berderai air mata.
Betapa tidak, mati-matian Sinthya berusaha mengusir bayangan Dika dan Nazwa dari hidupnya, kini malah orang yang tidak ingin dia ingat lagi, muncul di hidupnya. Sepanjang hari itu Sinthya terlihat kembali murung, sedih, terlihat matanya merah menahan tangisnya yg hampir keluar.
***
Sejak peristiwa hari itu, Sinthya menghilang dari dunia maya, dia konsentrasi pada kerjaannya dan juga menata kembali hidupnya yang baru, waktu begitu cepat bergulir, meninggalkan tahun-tahun yang baru di hidup Sinthya. Usianya juga terus bertambah, kesukaannya pada dunia tulis menulis terus digelutinya, berbagai karya dia hasilkan dan berbagai usaha dia lakukan agar karyanya bisa dikenal masyarakat, tekatnya cuma satu, dia ingin membuat hidup keluarganya berubah, meski terlahir tanpa pernah mengenal sosok seorang ayah, tapi Sinthya pantang menyerah, dia selalu optimis menggapai hari yang baru di hidupnya. selalu optimis, suatu saat cita-citanya sebagai seorang penulis bisa kesampaian, bukan dari segi materi yang diinginkan Sinthya. Sinthya hanya ingin membuktikan pada masyarakat luas, bahwa orang yang berhasil tidak hanya harus berasal dari keluarga terpandang, tapi orang miskin seperti dirinya juga berhak berhasil, berhak bahagia.
Jalanan terjal berliku terus dilalui Sinthya di hidupnya, ketika pada suatu hari dia berkenalan dengan seorang pria, namanya Yoga, lumayan lama mereka berteman, tapi hati Sinthya kadung tertutup, penilaiannya pada lawan jenis yang kerjaannya selalu menyakiti kembali terpatri di hatinya. Dulu dia pernah berpikir untuk tidak mengenal laki-laki saat dia mulai mengerti arti hidup, saat dia tahu ibunya ditinggalkan oleh ayahnya saat kandungan beliau baru berusia tiga bulan. Dia melihat ibunya begitu membenci laki-laki sejak saat itu, dia selalu overprotektif saat lihat anaknya dekat dengan pria.
Berkali-kali Yoga mengungkapkan perasaannya ke Sinthya, tapi Sinthya tak pernah memberikan jawabannya. Suatu hari, Yoga menyampaikan kembali perasaannya itu.
"Sin, kenapa kamu gak pernah percaya sama kata-kataku, kenapa kamu gak pernah membuka hati kamu buat aku??? Sin, tidak semua laki-laki kerjanya cuma bisa nyakitin cewek, aku ingin bisa selalu berada di samping kamu, ingin bahagiain kamu selama hidup aku", kata Yoga ke Sinthya.
"Maafkan aku Ga, aku gak bisa, aku tidak bisa menjalin hubungan tanpa rasa cinta, aku takut buat kamu kecewa, kamu orang baik, Ga, kamu berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku", tolak Sinthya dengan halus.
Tanpa menjawab apa-apa Yoga langsung meninggalkan Sinthya sendirian. Dengan mata basah Sinthya menatap kepergian Yoga, "Maafin aku, Ga, aku gak bisa terima kamu, entah kenapa setiap aku dekat sama laki-laki, aku selalu inget sama Dika", gumamnya dalam hati
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Simpony dalam Elegi part V





































