SINOPSIS ‘’ DI ANTARA 3S’’
Asyer adalah seorang perempuan yang menyukai tantangan dan belajar hal baru. Dia terhitung berhasil dalam karir dan bisnis , namun tidak cukup beruntung dalam hal percintaan. Sebab hingga mencapai usia tiga puluh satu tahun, dia belum pernah memiliki kekasih. Hal itu disebabkan karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja di suatu perusahaan yang membuat kemasan kosmetik dan mengepalai divisi bagian teknik cetakan di tiga kota yang terdapat di tiga negara yaitu , Semarang , Suzhou dan Santa Engracia.
Hatinya mulai gundah gulana saat usianya tiga puluh satu tahun. Hingga dia mengambil keputusan besar bagi dirinya bahwa hidup tidak hanya untuk bekerja. Masih banyak hal lain yang bisa dia dapatkan di luar pabrik. Asyer menyadari sepenuhnya bahwa hidup adalah suatu pilihan. Dan dia memilih untuk menjadi diri sendiri yang akan terus berkarya tanpa terintimidasi dengan pandangan orang mengenai statusnya yang masih lajang.
Semarang – Suzhou – Santa Engracia. Tuhan itu baik. Semarang – Suzhou – Santa Engracia. Tuhan itu amat baik. Semarang – Suzhou – Santa Engracia. Tuhan itu senantiasa baik. Perjalanan panjang antara ketiga kota tersebut telah kujalani sejak dua tahun terakhir ini. Aku menetap di tiap kota selama dua bulan karena tugas yang diberikan kepadaku sebagai kepala koordinator bidang teknik cetakan di perusahaan tempat aku bekerja.
Aku lahir dan dibesarkan di kota Semarang, yang terkenal dengan sebutan kota lumpia. Kuhabiskan masa kecilku hingga sekolah menengah umum di kota Semarang. Sejak kecil aku bercita-cita ingin menjadi seorang sarjana teknik sipil karena terinspirasi oleh tetanggaku yang berhasil menjadi kontraktor handal. Ayahku hanyalah seorang tamatan SMU dan membuka bengkel bubut. Namun cita-citaku tak pernah lekang oleh waktu, sekalipun kondisi di depan mata sepertinya tidak memungkinkan. Sebagai anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, orangtuaku menginginkan aku dapat bertumbuh seperti gadis lain pada umumnya. Namun sejak kecil aku lebih suka membantu ayahku bekerja di bengkel bubut daripada membantu ibu memasak di dapur.
Aku tumbuh sebagai gadis yang lebih sering berteman dengan laki-laki daripada perempuan. Namun gaya dan penampilanku tetaplah seperti perempuan pada umumnya. Kesenanganku untuk belajar mengenai mesin motor dan mobil membawaku kepada cita – cita baru yaitu ingin melanjutkan sekolah di jurusan teknik mesin. Setelah lulus SMU, aku melanjutkan sekolah di sebuah akademi teknik mesin yang ada di kota Surakarta, Jawa Tengah. Hanya jeda satu bulan sejak aku lulus dari akademi teknik mesin tersebut, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan asing di Semarang yang bergerak di bidang pembuatan kemasan kosmetik sebagai staff teknik yang menangani cetakan kemasan kosmetik. Satu tahun kemudian aku dipromosikan sebagai kepala bagian teknik cetakan. Saat itu usiaku dua puluh dua tahun.
Setelah lima tahun aku menjabat sebagai kepala bagian teknik cetakan, atasanku menawarkan suatu kesempatan untuk mengepalai divisi teknik cetakan di cabang perusahaan yang ada di Suzhou, China. Tawaran ini sangat menarik dan tidak terduga. Sesuai dengan sifatku yang suka tantangan dan mempelajari hal – hal baru, maka aku menerima tawaran dari atasanku.
Aku belum pernah keluar negeri sebelumnya. Namun aku memberanikan diri untuk pergi ke Suzhou sendirian. Perjalanan dari Jakarta ke Shanghai menghabiskan waktu sekitar delapan jam. Setibanya di bandara Pudong , telah hadir supir yang membawa papan nama bertuliskan namaku sehingga dengan mudah aku dapat menemukan orang yang akan menjemputku. Dengan bahasa Mandarin yang sangat terbatas, aku berusaha menyapa dan berkomunikasi dengan supir yang menjemputku. Aku menempuh perjalanan selama satu setengah jam menggunakan mobil dari bandara Pudong di Shanghai menuju Suzhou. Setibanya aku di pabrik yang ada di Suzhou, segera kutemui direktur perusahaan. Namanya adalah Sun Lie Bing. Orang yang ramah dan menyenangkan. Hari pertama aku tiba di perusahaan tersebut, beliau segera memperkenalkan aku kepada semua staff .
Suzhou adalah sebuah kota tua . Tidak terlalu padat. Banyak taman dan bangunan kuno di kota itu. Yang paling terkenal adalah Bukit Harimau. Di dalam Bukit Harimau terdapat sebuah pagoda yang miring setengah derajat. Saat melihatnya , kita akan teringat kepada menara Pisa di Italy. Hanya saja bentuknya berbeda. Selain taman, kota ini cukup terkenal sebagai penghasil mutiara air tawar yang berasal dari danau Tai. Posisi kota Suzhou yang berada tidak terlalu jauh dari kota metropolitan , Shanghai serta dekat dengan beberapa kota lainnya seperti Wuxi dan Nanjing, membuat aku betah tinggal di Suzhou. Sebab pada dasarnya aku senang mengunjungi kota – kota dengan beraneka ragam budaya, pemandangan dan makanan. Setiap mendatangi suatu kota, aku selalu mencoba makanan tradisional dan membeli pernak –pernik khas daerah tersebut . Serta aku mengkoleksi kartu pos setiap kota yang aku kunjungi.
Anak buahku di Suzhou berjumlah sepuluh orang , sembilan di antaranya adalah laki –laki. Setiap bulan aku menyisihkan sebagian dari gajiku untuk makan bersama dengan mereka. Hal itu aku lakukan untuk menjalin hubungan yang erat dengan mereka , agar mereka tidak sungkan padaku dan merasa nyaman jika hendak menyampaikan sesuatu , entahkah itu ide ataupun kritik. Setiap pagi aku mengadakan pertemuan singkat dengan mereka untuk membahas mengenai cetakan mana yang harus dibersihkan, dibongkar ataupun diperbaiki . Kami selalu menggunakan sistem prioritas. Yang paling penting dan paling gawat untuk ditangani selalu mendapatkan prioritas yang pertama.
Meskipun bahasa Mandarinku sangat terbatas saat awal aku tiba di Suzhou, namun karena topik yang kami bicarakan adalah mengenai cetakan dan mesin, maka lebih mudah bagiku untuk berkomunikasi dengan mereka sebab kami langsung praktek dan tidak banyak teori. Seringkali aku menggunakan bahasa tubuh juga. Menurut Sun Lie Bing, sejak kedatanganku di perusahaan tersebut, mereka terlihat lebih bersemangat dan rajin. Caraku memimpin mereka adalah dengan menggunakan ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan dari akademi teknik mesin ataupun dari perusahaan di Semarang, juga aku memimpin mereka dengan ketulusan hati dan pendekatan perorangan. Hal itulah yang membuat mereka dapat cepat akrab denganku dan divisi kami menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam waktu enam bulan pertama aku menetap di Suzhou. Hal itu dikemukakan sendiri oleh Sun Lie Bing.
Usiaku dua puluh tujuh tahun , saat aku pertama kali tiba di Suzhou. Aku menetap di Suzhou selama enam bulan, kemudian kembali ke Semarang. Ketika aku menjalankan tugas di Suzhou, aku juga tetap melaksanakan tanggungjawabku sebagai kepala bagian teknik untuk perusahaan di Semarang. Perhatian dan waktuku terbagi untuk kedua tempat tersebut. Selama enam bulan berada di Suzhou, setiap hari aku belajar bahasa Mandarin dan mempelajari budaya mereka. Selama dua tahun aku menjalani kehidupanku antara Semarang dan Suzhou. Enam bulan menetap di Suzhou , enam bulan kemudian menetap di Semarang dan begitu seterusnya hingga dua tahun berlalu.
Sehari setelah aku merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh sembilan, atasanku memanggilku dan memberikan tawaran baru kepadaku. Ada cabang baru yang dibuka di Santa Engracia. Beliau memintaku untuk mengepalai divisi teknik yang ada di sana. Sejenak aku terdiam saat beliau menginformasikan hal tersebut kepadaku. Kemudian aku segera tersadar dan mengatakan pada atasanku, ‘’ Seperti Bapak ketahui, saya sangat senang menerima tantangan dan belajar hal yang baru. Tapi , Santa Engracia itu ada dimana ? Saya belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Lalu bagaimana dengan tugas saya di Semarang dan di Suzhou ?’’ Namun jawaban dari atasanku malah membuatku terkejut. Beliau mengatakan,’’ Asyer, jika kamu bisa menempuh tiga pulau sekaligus dengan sekali dayung, mengapa hanya satu pulau saja yang dilalui ? Saya melihat kamu memiki kemampuan di atas rata –rata untuk mengatur dan mengendalikan Semarang dan Suzhou dengan hasil yang sama baiknya dalam dua tahun belakangan ini. Jadi, jika ditambah dengan Santa Engracia, semestinya hal itu tidak akan menjadi masalah besar bagimu. Hanya saja kamu harus menjaga kondisi tubuhmu agar selalu sehat, sebab lokasi Santa Engracia sangat jauh dari Semarang. Santa Engracia adalah nama suatu desa di Mexico, sekitar lima jam perjalanan dengan mobil dari kota Matamoros, yang berbatasan dengan wilayah Texas, USA. Saya sudah merencanakan agar kamu menetap selama dua bulan di Semarang, dua bulan di Suzhou dan dua bulan di Santa Engracia. Sekarang sudah ada penerbangan langsung dari Shanghai ke Mexico City. Jadi dapat menghemat waktu perjalananmu. Setelah tiba di bandara Mexico City, kamu akan melanjutkan perjalanan dengan penerbangan lokal menuju kota Matamoros. Setibanya di bandara Matamoros, kami telah menyiapkan supir yang akan mengantarkan kamu menuju Santa Engracia. Siklus antara ketiga kota itu akan selalu kamu jalani. Antara Semarang – Suzhou – Santa Engracia. Saya tahu, pada awalnya pasti akan terasa berat bagimu. Namun seiring dengan waktu, saya percaya bahwa kamu pasti dapat mengatasinya dengan baik. Saya beri kamu waktu satu hari untuk mempertimbangkannya. Berilah jawaban kepada saya besok siang.’’
Percakapan dengan atasanku itu telah berlangsung dua tahun yang lalu. Tanpa terasa, dua tahun lamanya aku telah menjalani tugas di ketiga kota tersebut. Pada awalnya memang terasa sangat lelah secara fisik dan pikiran. Terlebih lagi, Santa Engracia adalah suatu desa kecil, jauh dari keramaian. Matapencaharian utama masyarakat di sana adalah sebagai petani jeruk dan peternak babi. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Spanyol. Suatu bahasa baru bagiku. Dua tahun yang lalu, saat pertama kali aku tiba di Santa Engracia, aku hanya bisa berkomunikasi dengan Jose Cardenas, kepala pabrik yang ada di Santa Engracia. Sebab hanya dialah yang dapat berbahasa Inggris. Lalu aku belajar bahasa Spanyol setiap hari , seperti halnya ketika aku belajar bahasa Mandarin setiap hari selama menetap di Suzhou. Hingga akhirnya saat ini aku mahir berbahasa Spanyol dan Mandarin.
Bagiku, bahasa Spanyol lebih mudah dipelajari daripada bahasa Mandarin. Oleh sebab itulah, kemajuanku dalam mempelajari bahasa Spanyol lebih pesat daripada bahasa Mandarin. Setiap kata yang aku pelajari langsung aku praktekkan keesokan harinya di depan anak buahku. Perusahaan di Santa Engracia lebih kecil daripada di Suzhou dan Semarang. Sebagai gambaran, jumlah cetakan yang harus ditangani setiap harinya adalah sejumlah 600 cetakan di Semarang, 200 cetakan di Suzhou dan 100 cetakan di Santa Engracia. Itulah sebabnya mengapa atasanku yakin bahwa aku sanggup menangani Santa Engracia juga.
Karyawan di Santa Engracia sangat ramah. Mereka polos dan apa adanya. Nuansa kehidupan desa sangat kental terasa. Kebanyakan dari mereka memiliki lahan untuk menanam jeruk sebagai penghasilan tambahan untuk mereka. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam jika hendak membeli barang kebutuhan sehari – hari . Sebab barang kebutuhan sehari –hari hanya dapat dibeli di kota terdekat, Reynosa. Dalam hal ini terasa sekali perbedaan antara Semarang, Suzhou dan Santa Engracia dalam hal transportasi. Di antara ketiga kota tersebut, Suzhou yang paling maju dan nyaman dalam hal transportasi. Meskipun itu dengan tranportasi umum seperti bis ataupun kereta. Suzhou memiliki armada bis yang dapat menjangkau daerah terpencil dan juga memiliki kereta cepat. Juga sering aku jumpai, penduduk di Suzhou lebih senang menggunakan motor listrik dan sepeda listrik sebagai alat transportasi pribadi. Di kota Semarang , kebanyakan orang menggunakan kendaraan bermotor dan mobil sebagai transportasi pribadi. Namun ada juga yang menggunakan tranportasi umum seperti bis dan mobil angkutan kota , sekalipun jangkauannya tidak begitu luas. Santa Engracia yang paling parah mengenai transportasi. Setiap keluarga menggunakan mobil pribadi sebagai alat transportasi. Namun kebanyakan mobil mereka adalah mobil tua, sehingga kadangkala mogok di tengah jalan.
Cuaca yang panas dan berdebu menjadi ciri khas Santa Engracia. Namun masyarakat di Santa Engracia tidak pernah mengeluh. Baik orang muda maupun tua senantiasa bersemangat saat mengerjakan tanah pertanian mereka. Setelah selesai bekerja, biasanya mereka berkumpul di salah satu rumah kerabat dan bersenda gurau sambil minum tequilla dan makan tortilla. Sungguh suatu kehidupan dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan kehidupanku. Namun aku dapat berbaur dengan masyarakat di Santa Engracia dalam waktu yang singkat karena keramahan dan kesederhanaan mereka.
Divisi yang aku pimpin adalah divisi lelaki. Aku sebut demikian karena 90% anak buahku di Semarang, Suzhou dan Santa Engracia adalah laki –laki. Namun tidak sulit bagiku untuk beradaptasi dengan mereka, karena kedua kakakku dan teman – temanku di akademi teknik mesin adalah laki-laki juga. Meskipun demikian, semua anak buahku selalu hormat dan tidak pernah memandang rendah padaku. Tentunya hal itu diimbangi dengan ketekunan untuk senantiasa menunjukkan kepada mereka bahwa aku sanggup menolong mereka dalam menyelesaikan masalah pekerjaan sekalipun aku seorang perempuan.
Meskipun banyak laki –laki di sekelilingku, namun sampai saat ini belum ada seorangpun yang telah menyentuh hatiku hingga di usiaku yang ke tiga puluh satu tahun. Beberapa teman semasa SMU telah memiliki anak dan mereka selalu menanyakan hal yang sama saat bertemu denganku,’’ Asyer, kapan nih kasih undangan ke aku ? Tunggu apalagi ? Kriterianya jangan terlalu susah dong, supaya ada laki-laki yang berani mendekatimu.’’ Biasanya aku hanya tersenyum saja saat menanggapi ucapan mereka. Memang aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Tapi aku menikmatinya. Namun belakangan ini aku menyadari bahwa hidup bukan hanya untuk bekerja. Mungkin bagi orang lain, aku telah memiliki semua yang diimpikan perempuan, tapi tetap saja ada ruang yang kosong dalam hatiku. Karir yang bagus, rumah, mobil, kafe, butik, yayasan sosial, semua itu telah aku miliki. Namun ada saat ketika aku sedang sendirian, hatiku terasa kesepian. Kadang aku merasa iri saat melihat pasangan muda – mudi yang bercengkerama mesra satu sama lain. Sedangkan hari – hariku hanya diisi dengan kerja, kerja dan kerja. Membaca buku dan belajar bahasa asing menjadi suatu hiburan bagiku. Meskipun mungkin bagi orang lain, hal tersebut terasa aneh. Yah, itulah aku.
Kini aku menyadari, ada masanya di mana semua hal yang dulu kuanggap istimewa menjadi sesuatu yang biasa saja. Aku mulai merasa lelah menjalani tugas di ketiga kota tersebut. Tidak ada masalah dengan anak buah ataupun pekerjaaanku. Masalahnya ada pada diriku sendiri. Aku mulai merasakan kejenuhan yang mendalam. Aku menginginkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dapat membuatku bersemangat kembali seperti saat pertama kali aku mendapatkan pekerjaan. Lebih tepatnya, aku membutuhkan seseorang yang dapat menjadi tempat bagiku untuk berbagi suka dan duka, tempat bernaung dan menceritakan isi hati. Tapi Tuhan itu baik, amat baik dan senantiasa baik bagiku. DiberikanNya damai sejahtera dalam hatiku sehingga aku dapat tetap bertahan menjalani hidup ini. Aku hanya bisa bersyukur setiap hari untuk segala kasih dan berkatNya dalam hidupku.
Aku telah menemui atasanku minggu lalu untuk mengundurkan diri dari tugasku di
Sejak enam bulan yang lalu aku menetap di Semarang kembali. Tidak ada lagi bepergian ke
Setiap hari Sabtu aku selalu menyempatkan waktu untuk mengurus yayasan sosial yang aku dirikan untuk mendidik anak – anak jalanan yang tidak mempunyai rumah. Aku mempunyai dua asisten yang membantuku mengurus yayasan tersebut. Yayasan ini memiliki suatu rumah untuk menampung tiga puluh anak jalanan yang akan dididik sesuai dengan bakat dan kemampuannya selama satu tahun. Bersama dengan kedua asistenku, kami mencarikan guru bagi mereka untuk mengasah kemampuan mereka. Usia mereka berkisar antara 15 – 23 tahun. Sebagian dari mereka pernah bersekolah hingga lulus SD, sebagian lagi sama sekali belum pernah bersekolah. Aku banyak belajar tentang kerasnya kehidupan dari tiga puluh anak tersebut. Mereka menyambut tawaran kami untuk belajar dengan sukacita. Yayasan ini bersifat sosial dan tidak mencari keuntungan sama sekali. Semua dana yang kami dapatkan dari donatur , selalu kami salurkan untuk biaya kehidupan dan pendidikan mereka serta biaya perawatan tempat tinggal. Pada prinsipnya, setelah kami mendidik mereka selama satu tahun, setelah itu mereka harus bisa mandiri dengan menjalankan usaha sesuai dengan kemampuan mereka masing – masing dan harus keluar dari rumah tersebut, supaya rumah itu bisa diisi dengan anak –anak yang baru. Beberapa dari mereka bahkan sanggup mandiri sebelum satu tahun berakhir dengan cara membuat warung makan dan menjadi penjahit baju.
Banyak hal yang aku telah pelajari karena berinteraksi dengan banyak orang, baik dengan anak buahku di Semarang, Suzhou, Santa Engracia, karyawanku di kafe dan butik, maupun dengan anak – anak jalanan . Pengalaman menghadapi banyak orang sangat bermanfaat bagiku untuk menghadapi pelanggan dengan beraneka ragam keinginan. Hidupku sekarang lebih berwarna. Tidak hanya berurusan dengan cetakan dan mesin. Sekarang aku lebih banyak berkomunikasi dengan orang.
Aku sudah tidak lagi jenuh dalam menjalani hidup ini. Hidup adalah suatu pilihan. Dan aku memilih untuk tetap bangkit dan terus berkarya. Meskipun bagi orang lain hidupku belum lengkap karena belum memiliki pasangan hidup di usiaku yang telah mencapai tiga puluh satu tahun. Namun aku tidak mau terpuruk karena hal itu. Aku tidak mau mengasihani diri sendiri. Banyak sekali berkat dari Tuhan yang telah aku terima sejak aku masih kecil sampai sekarang hingga aku tidak sanggup untuk menghitung jumlahnya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur kepadaNya.
Saat aku masih kecil, orangtuaku sering mengatakan kepadaku,’’Asyer, jangan seorangpun menganggap kamu rendah karena kamu masih muda. Kamu harus selalu menjadi teladan dalam sikapmu, perkataanmu dan ketulusan hatimu.’’ Nasehat itu selalu aku pegang sampai sekarang. Meskipun sebagian orang menganggap bahwa usia tiga puluh satu tahun adalah usia yang tidak muda lagi bagi seorang perempuan . Dan sebagian orang masih menganggap bahwa jika pada usia tersebut seorang perempuan belum menikah, akan sangat memalukan bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Namun aku bersyukur karena keluargaku tidak pernah mempersoalkan hal ini. Mereka selalu percaya bahwa Tuhan senantiasa merencanakan hal yang terindah dalam kehidupan setiap umatNya. Bagiku yang terpenting adalah mengisi hari – hari hidup kita dengan sesuatu yang indah dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tidak peduli berapapun usia kita.
Ketekunan orang Semarang, kepercayaan diri orang Suzhou dan kesederhanaan orang Santa Engracia telah memberiku wawasan baru tentang arti kehidupan. Pertahankanlah hal yang baik dari diri kita dan jangan biarkan orang lain berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang lain. Jadilah diri sendiri. Tidak perlu berusaha untuk menjadi seperti orang lain, sebab Tuhan menciptakan setiap orang secara unik. Tuhan itu baik , amat baik dan senantiasa baik.
Catatan :
Tequilla = minuman dengan kadar alkohol tinggi yang menjadi minuman khas masyarakat di Mexico. Biasanya diminum dengan dicampur jeruk nipis.
Tortilla = makanan khas masyarakat Mexico, bentuknya seperti kulit lumpia namun dibuat dari tepung jagung. Biasanya di atas tortilla diberi daging ayam atau sapi sesuai selera.
Anny Indarty
Nov,27,2011
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Di antara 3S





































