Langit biru, udara sejuk seolah menggambarkan suasana hatiku. Setiap pagi selalu kurasakan suntikan semangat dalam diriku.Ya, itu semua karena dia, sosok lelaki yang menurutku manis, Ovi namanya.
Hmmm... di kelas dia cukup menjadi pusat perhatian para kaum hawa. Badannya tegap bak seorang atletik, kulitnya yang khas Indonesia serta senyumnya begitu menawan. Sayang, Ovi pribadi yang cukup cuek dengan wanita. Ya itulah yang menjadi daya tariknya.
Ups hampir lupa, perkenalkan aku Zahra. Aku cewek biasa yang lebih suka berkutat dengan hal-hal tulis menulis. Hobi membacaku memaksaku harus suka menulis. Well, dengan menulis semua ide-ide di kepala ini bisa tersalurkan.
Seperti biasa, pagi ini terasa begitu sejuk begitu pula suasana hatiku. Yups, itu karena nanti di kelas aku akan bertemu Ovi. Ovi, Ovi, Ovi dan Ovi dialah penyemangatku saat kuliah. Walaupun sebenarnya rasaku ini masih terpendam di dalam hati karena aku tak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkannya.
***Langkahkupun sampai di ruang kelas 1205, tempat dimana akan berlangsung mata kuliah Aljabar. Aku memilih duduk di bangku terdepan berharap lebih banyak ilmu yang kuserap di sini. Suasana kelas benar-benar sangat sepi hanya ada aku ditemani meja dan kursi. Terdengar langkah kaki dari luar kelas. Tanpa sengaja mataku bertatapan dengannya, ya dialah Ovi. Sontak seluruh tubuhku kaku, untung itu semua tak berlangsung lama. Akupun mencoba sibuk sendiri dengan hal apa saja yang ada di dekatku.
“Zahra, hari ini ada tugas?”, ucapnya.
“Emm... tidak ada setauku”, aku tertunduk malu.
“Okay, thanks”
Ovi meletakkan tasnya tepat di kursi belakangku. Tak berapa lama mahasiswa lain berangkat dan menempatkan dirinya di kelas. Aku masih merasa gugup karena dua jam ke depan Ovi berada di belakangku.
“Huh, gimana ya ini?”, gumamku.
Tiba-tiba Eci ,sahabatku itu mengagetkan.
“Oy, ngapain loe ngelamu aja? Mikir utang bu?”, guraunya.
Aku hanya tersenyum pahit mendengar guraunya. Eci, sahabatkuyang super jail, jangan sampai deh dia tahu kalau aku punya rasa sama Ovi.
Bel tanda masuk berbunyi, Pak Darmawan dosen Aljabarku memulai perkuliahannya. Di sela perkuliahan, beliau menyuruh kami berpasangan untuk berkelompok. Teman-teman mulai gaduh karena tahu pembagian kelompok Pak Darmawan sesuai dengan kehendaknya dan kami mahasiswa hanya bisa pasrah saja. Tak masalah bagiku berkelompok dengan siapa aja asalkan jangan dengan yang satu itu. Namun sepertinya Pak Darmawan bisa membaca pikiranku. Aku satu kelompok dengan Ovi. Kurasakan semua mata cewek di kelas mengarah padaku. Oh my GOD.
***
Perkuliahan selesai, segera aku dan teman lain keluar kelas. Seperti biasa, aku meminta Eci mengantarkanku pulang tapi dia menolak dengan alasan harus pergi ke rumah sepupunya. Well, aku pasrah pulang jalan kaki. Tiba-tiba Eci memanggil Ovi.
“Vi, Ovi... Loe pulang sendiri kan? Boleh gak titip temen gue?”, ucap Eci tanpa kompromi denganku.
Sontak aku mencubit Eci pertanda tidak mau. Sudah cukup satu kelompok dengannya membuatku gugup ditambah akan diantar pulang Ovi.
“Naik aja”, katanya cuek dan sudah siap dengan motornya.
Langkah tertatih memaksaku untuk berjalan ke arahnya. Kaki ini benar-benar seperti melayang tak terarah. Akupun sudah bersiap di atas motornya. Motor Ovi melaju sedang, sepertinya dia tahu aku tidak suka terlalu cepat dalam berkendara.
“Rumah loe dimana?”, tanyanya sambil menolehke arahku.
“Daerah Gamer”, jawabku singkat.
“Ow, gue ajak ke temen dulu ada urusan”, ucapnya.
Aku hanya bisa mengangguk seperti tak dapat menolak tawarannya. Motor itu kembali melaju dengan kecepatan yang cukup cepat dari sebelumnya dan berhenti di sebuah kafe. Diajaklah aku masuk ke dalam.
“Oy Vi, kesini!”, teriak lelaki di sudut kanan kafe.
Kamipun menuju kearahnya. Banyak sekali kaum Adam yang kulihat disana dan beberapa bersama pasangannya. Terlihat cewek-cewek disitu memandangku sinis mungkin karena aku bersama Ovi.
“Cewek loe bro?”, tanya salah satu teman Ovi.
Ovi hanya tersenyum. Dia mengobrol dengan temannya dan aku terabaikan. Hingga ada seorang cewek menghampiriku, namanya Lia. Itu terlihat dari kalung yang berinisialkan namanya.
“Loe ceweknya Ovi. Gak nyangka dia bisa juga cari cewek lagi”, ucapnya sinis.
“Bukan kita cuma teman”
“Hahaha lagu lama sist. Setiap cewek pasti bilang gitu. Dia itu sudah terlanjur sakit hati sama cewek”
“Memang kamu siapanya?”, tanyaku polos.
“Gue mantannya yang dulu ngekhianatin dia”
Tiba-tiba Ovi menghampiriku dan mengajakku pergi.
“Za, gue anter loe balik”, ucapnya terlihat kesal.
Aku hanya mengikuti langkahnya sambil berpamitan dengan Lia. Terlihat raut kecewa di wajah Lia saat melihatku digandeng tangan Ovi.
“Maaf”, segera kulepas tangan Ovi.
Motorpun melaju pesat ke rumahku.Tak ada satupun kata yang terucap dari Ovi, tidak seperti tadi yang banyak bertanya padaku. Sesampainya di rumah dengan basa-basi kuajak Ovi masuk. Dia menolak halus karena harus segera pulang.
“Oya, besok gua ke rumah loe. Kita ngerjain tugas Aljabar”, katanya.
Aku menganggukan kepala pertanda setuju. Motor Ovipun melesat meninggalkanku. Suasana hatiku hari nini benar-benar bahagia karena seharian entah memang sudah suratan aku bersamanya. Tapi aku juga merasakan agak sedih karena bertemu mantan Ovi, ya walaupun sudah putus bisa saja kembali. Mulai deh aku membandingkan diri dengan Lia, mantan Ovi. Ini kejelekanku yang selalu membandingkan diri sendiri dan orang lain. Huh... dasar ya Zahra.
Malam ini kutulis semua kejadian yang kualami di buku diaryku. Begini kebiasaanku kalau sudah senang menulis sampai tak ingat waktu. Saat sedang asyik menulis tiba-tiba handphoneku berdering.
“Huh, no ini kenapa sih iseng banget”, gerutuku.
Tak kuhiraukan panggilan misteri itu. Kurang kerjaan banget mengurus hal itu. Di saat seperti ini aku teringat kalau aku gak punya nomor hp Ovi. Lekas kutanyakan pada Eci tapi hasilnya nihil, dia tidak tahu. Memang Ovi itu misterius banget sampai-sampai teman satu kelas gak tahu nomornya. Ya itulah resiko public figure di kampus.
Kesunyian malam menghantarkanku untuk beranjak tidur. Kupersiapkan diri untuk segera tidur karena badan ini seperti mengajakku untuk segera terjaga. Akupun terjaga dalam lelapnya tidur.
“Kring”, suara alarm hp mengagetkanku.
“Ya ampun jam berapa sih ini?”, sembari tanganku mengambil hp.
Aku tercengang melihat jam yang menunjukkan 06:35. Tanpa pikir panjang langsung berlari menuju kamar mandi dan melakukan segala aktivitas didalamnya dengan extra cepat. Selesai bersiap-siap aku segera berjalan menuju kampus. Beruntung jarak rumah dan kampus hanya butuh waktu lima menit tapi tetap saja rasanya jauh.
“Pim....pim....”, suara tlakson motor memecah konsentrasiku.
Saat kutengok ternyata Ovi. Gayanya yang super cuek benar-benar membuatku semakin tertarik. Perasaan itu kucoba tahan untuk beberapa saat, jangan sampai dia menyadari perasaanku ini.
Dia mengajakku untuk naik motornya tapi aku menolak. Aku berharap dengan menolak dia tetap membujukku untuk naik, yah tapi itu hanya sekedar hayalanku saja. Dengan cueknya dia meninggalkanku sendiri.
“Huh dasar ya, itu anak bukan cuek lagi gak peduli malah”, gerutuku sambil mempercepat langkah.
Sebenarnya ada rasa menyesal karena sudah menolak tawarannya tadi. Toh dia juga sudah pergi, mau apalagi. Akhirnya sampailah aku di ruang 1203. Sebelum masuk kurapikan dulu pakaianku, ya beginilah cewek sangat menjaga penampilan.
“Udah, gak usah kelamaan dandan. Ketinggalan mata kuliah ntar!”, suara dari belakangku.
Aku terkejut mendapati Ovi ada di belakangku. Padahal harusnya dia sudah masuk kelas, pertannyaan itu yang ada di benakku. Ah, tak kuhiraukan. Kami berduapun melangkah masuk ke kelas.
“Selamat siang pak, maaf terlambat”, ucap Ovi.
“Selamat siang, kenapa kalian terlambat dan bersamaan?”, tanya dosen Geometri Pak Fulan.
“Janjian itu pak, ketemuan dulu dimana. Biasa Ovi ceweknya kan banyak”, celetuk Indra.
“Siapa yang tanya sama kamu ndra?”, ucap Pak Fulan.
Indra hanya bisa cengar-cengir mendapati perkataan Pak Fulan. Ovi terlihat tersenyum mendengar celetukkan Indra. Untuk mempercepat Pak Fulan menyuruh kami duduk. Aku mendapati bangku di belakang karena di barisan depan sudah terisi. Lagi, kali ini aku bersebelahan dengan Ovi. Sebenarnya senang, tapi aku tidak suka dengan pandangan sinis teman-teman cewekku seolah-olah aku ini merebut tokoh idola mereka.
Perkuliahan berlangsung cukup kondusif walaupun diawali dengan kejadian tadi. Selesai perkuliahan, aku dan Eci menuju kantin Bu Ndut. Kami memesan makanan, aku pesan gado-gado sedangkan Eci soto ayam. Hmmm..... perut ini sepertinya tidak mau diajak kompromi, segera gado-gado kulahap. Rasanya sungguh nikmat kalau makan pada waktu kelaparan seperti ini.
Tiba-tiba Eci minta izin pergi sebentar dan berjanji kembali. Kunikmati terus makanan yang kupesan tadi sembari menunggu Eci kembali.
Tak berapa lama datang sosok lelaki yang pastinya bisa membuatku pingsan. Ya, Ovi dia datang kearahku sambil membawa makanannya.
“Gue boleh duduk di sini?”, tanyanya.
“Boleh”, singkatku.
“Loe sendirian Za? Mana sohib loe?”
“Tadi bilang mau pergi sebentar, nanti juga balik”
Aku mencoba sibuk dengan makananku saja. Tak ada cukup keberanian untuk menanyakan sesuatu padanya. Suasana terasa sangat hampa saat itu.
“Kapan kita mau ngerjain tugas Aljabar?”, pertanyaan itu keluar dari mulut kami secara bersamaan.
Saat itu aku merasakan benar-benar malu, gimana tidak malu tanpa disengaja pertanyaan itu muncul bersamaan. Mungkin wajahku terlihat sangat merah tapi kucoba tetap menenangkan diri. Wajah Ovi terlihat biasa saja, benar-benar berbeda denganku.
“Hari ini aja ya. Lebih cepat lebih sip”, ucapnya sambil tersenyum.
“Ya, dimana?”
“Di rumah loe aja gimana Za. Nanti loe balik sama gua aja!”
“Ya”, jawabku.
Tiba-tiba kedatangan Eci merusak suasana indahku.
“Ngapain loe bro, mau gebet temen gua apa?”, kata Eci sambil menyikut lengan Ovi.
“Hahahahaha, loe aja yang gua gebet Ci?”, gurau Ovi.
Aku hanya bisa tersenyum pahit mendapati gurauan mereka. Sebenarnya aku sedikit cemburu melihat mereka begitu akrab, ya karena Eci itu tergolong anak yang supel terhadap siapa saja. Tak lama kemudian Ovi pergi meninggalkan kami.
“Eh, kayaknya Ovi ada rasa sama loe deh Za?”
“Ah, apaan sih kamu. Biasa kali Ovi sama cewek-cewek lain juga gitu”
“Tapi keliatannya beda Za, loe sama kamu?”, ucapan Eci membuatku ge-er.
“Apa sih kamu?”
“Hahahahaha, loe ge-er ya Za. Hahahahaha”, ejek Eci puas.
Aku hanya tersipu malu mendapati sahabatku itu meledekku. Sebenarnya aku senang sih diejek begitu tapi tetep tampang jaim dong.
Aku menunggu Ovi di parkir atas tempat kami janjian. Cukup lama aku menunggunya tapi tak apalah bukan sesuatu yang berat kok. Hehehehe...
Tiba-tiba pandanganku mengarah pada sosok lelaki di kejauhan yang sedang mengobrol dengan seorang cewek cantik berambut panjang. Sepertinya aku kenal sosok itu, iya itu Ovi. Terselip rasa kesal karena sudah lama menunggu lama ternyata dia asyik mengobrol dengan cewek. Huh, rasanya ingin aku dekati dan meluapkan rasa marahku pada mereka tapi apa daya tak sanggup.
Tampak sepertinya Ovi mendapatiku berdiri. Saat itu segera kualihkan pandanganku dan pergi meninggalkannya. Aku tak hiraukan kalau nanti dia memanggilku. Benar, kali ini dia memanggilku. Segera aku berlari menuju angkot yang sudah menantiku di kejauhan.
Aku melihat dia mengejar angkotku tapi tak kuhiraukan, toh aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya tapi kenapa aku cemburu. Hal ini sungguh menyebalkan bagiku. Dari kejauhan sudah tidak terlihat motor Ovi, ada sedikit rasa menyesal karena aku meninggalkannya begitu saja tapi ya sudahlah.
Sesampainya di rumah, aku melihat motor Ovi terparkir. Di sana aku mendapatinya sedang mengobrol dengan ayahku. Perasaanku campur aduk melihat kedatangannya, ingin rasanya menyuruh dia pulang tapi tidak sampai hati ada ayah di sana. Ayahpun masuk, mempersilakan kami mengobrol.
“Za, sorry ya tadi aku bener-bener lupa punya janji sama loe”, ucapnya seperti penuh penyesalan.
“Ya,gak apa”, kataku dingin.
“Kenapa tadi loe ngehindar waktu gua kejar?”
“Gak apa, udahlah buruan tugas kita kerjain. Aku sudah capek banget!”, seruku.
Kamipun segera mengerjakan, tak butuh waktu lama untuk mengerjakan tugas kelompok itu. Selesai mengerjakan tugas, aku beralasan capek dan akhirnya Ovi pamit pulang. Dalam hati kecilku, tak ingin sebenarnya membiarkannya pulang tapi aku sudah cukup kesal dengan kejadian tadi.
Malam kembali menjelang, sinar rembulan seakan menjadi satu-satunya sumber cahaya saat ini. Handphoneku berdering, nomor itu kembali muncul. Nomor misterius yang selalu menerorku tiap malam. Kali ini aku benar-benar ingin meluapkan segala emosiku, tak peduli siapa orang di seberang telepon itu.
“Eh, kamu siapa sih? Kurang kerjaan ya, kenapa kamu selalu ganggu hidupku tiap malam. Aku lagi sebel, plis jangan ganggu!”, ucapku kesal.
Terdengar telepon itu direject, bertambahlah rasa kesalku. Aku langsung mengirim sms ke nomor itu. Semua aku utarakan pada nomor itu, tak peduli siapa dia. Sampai rasa kecewa dan cemburuku pada Ovi pun aku ceritakan. Yah cukup lega sudah menceritakan itu semua pada orang lain walaupun aku tahu semua itu tidak etis.
Setiap di kampus, aku mencoba menghindari Ovi. Berbagai alasan muncul saat dia mencoba mendekat padaku. Aku sadari sebenarnya tak sebaiknya aku begini karena aku bukanlah siapa-siapa baginya.
Hingga suatu kabar mengejutkanku, ramai teman-teman bergosip kalau Ovi akan menembak cewek tapi belum diketahui siapa cewek beruntung itu. Aku sudah berjanji tidak mau lagi peduli dengan sesuatu yang berhubungan dengan Ovi.
Nomor misterius itu cukup menarik perhatianku. Ya walaupun kami belum pernah bertemu. Dia cukup sabar meladeniku jikalau marah, sekarang justru aku sering curhat dengannya. Hingga akhirnya dia mau mengajakku bertemu tapi belum aku iyakan. Dia mengaku bernama Dwi Prasetya dan satu kampus denganku. Aku selalu mencari alasan jika dia meminta bertemu. Hingga suatu hari kami memutuskan untuk bertemu di Taman Kampus.
Hari yang ditentukanpun tiba dan aku harus menepati janjiku. Tepat pada hari itu juga dikabarkan Ovi akan menembak cewek pujaannya. Aku tak pedulikan berita itu walaupun sebenarnya rasa cemburu ini masih sangat terasa. Aku segera bergegas ke Taman Kampus dan mengajak sahabatku Eci walaupun sebenarnya dia lebih tertarik melihat Ovi menembak cewek.
Kami janji akan bertemu di Taman yang terdapat kebun mawar. Aku cukup terkejut mendapati tempat yang tertata sangat indah dan begitu indah. Di kebun bunga itu terdapat bentuk tulisan “ZAHRA & OVI”.
Apa maksud semua ini. Di sini aku berjanji bertemu Dwi Prasetya. Tiba-tiba muncul sosoknya, lelaki yang selalu membuatku tak berdaya dialah Ovi.
“Apa maksudnya ini Vi?”, tanyaku.
“Aku Dwi alias Ovi yang selalu kamu ceritakan”
Mataku berkaca-kaca seolah semua ini benar terjadi. Jadi selama ini aku cerita pada orang yang aku cintai tapi aku tidak menyadarinya. Aku benar-benar merasa sangat malu pada diriku sendiri. Tak ada ucapan yang mampu aku ucapkan selain kata maaf untuknya. Segera ku berlari pergi meninggalkannya tapi dia lebih cepat dariku dan berhasil menahanku. Aku tak cukup berani menatapnya karena kesalahanku sendiri tapi dia selalu berusaha menguatkanku.
“Za, aku tahu apa yang kamu rasakan?”, matanya menatapku tajam.
Aku hanya bisa terdiam melihat wajah ketulusannya. Tampang cuek itu tak terlihat kali ini, dia benar-benar berbeda dari biasanya. Wajahnya begitu serius.
“Za, selama ini cewek yang aku suka cuma kamu gak ada yang lain. Cuekku pertanda rasa sukaku karena aku gak tau gimana mengungkapkannya. Kamu terlalu dingin jika bertemu denganku membuatku bingung harus bagaimana?”, ucapnya penuh ketulusan.
“Zahra, kamu mau kan jadi cewekku yang ada di saat suka maupun dukaku?”, tanyanya penuh harap.
Aku menggelengkan kepala, terlihat raut kekecewaan di wajahnya.
“Kenapa?”
“Karena aku gak bisa menolak kamu Dwi Prasetya alias Ovi”, ucapan itu yang terlontar dari mulutku.
Seketika suasana berubah menjadi riuh karena peristiwa ini disaksikan hampir seluruh teman-teman. Nampak raut muka para cewek yang sinis memandangku tapi aku tak merasa seperti dulu karena Dwi alias
Ovi memilihku. Terima kasih atas cinta yang kau beri, semoga ini dapat bersemi seperti indahnya bunga di sekitar kita. :)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Cintaku Bersemi Padamu





































