<< Cerpen Bintang Hati Vinka  >>

Bintang Hati Vinka

E-mail Cetak PDF

 

BINTANG HATI VINKA

(Oleh : Corry)

Malam ini aku melihat bintang yang sangat indah, aku membayangkan wajahnya ada pada bintang itu, ia tersenyum manis memandangku dan aku pun membalas senyuman itu. Ah.. ini cuma imajinasiku, please! berhentilah berimajinasi Vinka! Tidak mungkin hal itu terjadi! Dia hanya “Bayangan” yang selalu kamu bayangkan.

“Vinka”, sapa Ibu dengan lembut.

“Ibu? Ibu belum tidur?”

“Belum Vin, kamu ngapain sendirian di teras depan?”

“Lihat deh Bu, bintangnya terang benderang. Apa lagi yang itu terang banget, Bu.”

“Vin, apa kamu masih memikirkan pria itu?”

Ada apa sih dengan Ibu? Kok tiba-tiba bertanya seperti itu. “Maksud Ibu?”

“Ibu nggak mau kamu sedih karena pria itu.”

“Nggak kok Bu, aku nggak mikirin dia. Mana sempat aku mikirin dia.”

“Benar? Ibu tahu kamu bohong. Buktinya kamu nggak berani menatap Ibu.”

Sial aku ketahuan bohong. “Iya Bu, aku akan berusaha untuk melupakannya.”

Ibu tersenyum. “Suatu hari nanti, kamu akan tau Vin”, setelah mengucapkan kalimat itu Ibu pergi meninggalkanku.

“Suatu hari nanti aku akan tahu, maksudnya? Ibu ngomong apa sih?”

 

***

 

Pagi itu Riri, sahabatku menemaniku check up di rumah sakit Medical Cinta.

Akhirnya aku ketahuan oleh Riri, belakangan hari ini aku jarang minum obat sehingga kondisiku menurun. Aku malas minum obat, kurasa tidak ada efek sama sekali.

Mama Riri salah satu dokter bedah di rumah sakit ini, Mamanya telah banyak membantuku selama aku sakit, lagi pula Mama Riri dan Ibuku berteman baik.

Wajah itu, wajah itu tidak asing lagi. Afriko? Ada urusan apa dia di sini? Berobat? Tapi dia kelihatan baik-baik saja, dia mau ke mana? Aku mengikuti langkahnya. Ha? Dia masuk ke ruangan dokter dan berbincang bersama dokter? Ada apa ini?

“Kita harus cepat mencari pendonor untuk Rany", kata dokter Nata.

“Saya harus cari ke mana lagi? Saya nggak tahu” Afriko kelihatan putus asa.

“Kita hanya punya waktu dua minggu, jika tidak mendapatkan pendonor akan berakibat fatal bagi Rany. Kita tidak boleh menyerah Afriko.”

“Dok, saya mohon tolong Rany, tolong selamatkan dia, bila perlu ambil kedua ginjal saya, tolong dokter”, Afriko kelihatan sedih hingga meneteskan air mata.

“Maaf Nak Afriko, ginjal Nak Afriko tidak cocok untuk Rany, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Afriko, saya tinggal sebentar, saya harus mencheck-up pasien lain.” Pamit dokter Nata.

Afriko menundukkan kepalanya. “Ya Tuhan... apa yang harus hamba lakukan untuk Rany? Tuhan... bantulah hamba mencari 

pendonor ginjal untuk Rany, hamba mohon.”

Aku benar-benar terkejut mendengar hal itu.

“Jadi... jadi Rany menderita gagal ginjal? Afriko pasti sangat sedih, kekasihnya dalam keadaan kritis. Aku ingin sekali menghapus airmata di pipinya, tapi aku nggak bisa... kalau aku menghampirinya malah membuatnya tambah buruk. Afriko, kamu yang sabar ya.” Aku  pun pergi meninggalkan Afriko, lebih baik dia sendiri dulu.

***

Berhari-hari aku memikirkan Afriko. Di kamarku, aku terus memikirkannya.

“Sampai saat ini belum ada pendonor yang cocok untuk Rany, padahal waktunya tinggal 5 hari lagi. Aduh... apa yang harus aku laku.... aauu... kepalaku, kepalaku sakit sekali... sakiitt!! Ya Tuhan... ”

Saat itu aku merasa ada seseorang membawaku terbang jauh...

Syukurlah, tak lama kemudian aku tersadar.

“Di mana ini?” kepalaku pusing sekali.

“Syukurlah kamu udah sadar Nak, kamu di rumah sakit Vin.”

Aku bisa mendengar suara Ibu yang lembut. “Ibu... aku kenapa?”

Tadi kamu pingsan, Ibu langsung bawa kamu ke rumah sakit.”

“Iya Vin. Makanya kamu harus banyak istirahat”, Riri mulai menceramahiku.

“Iya-iya aku tahu”, Aku malas berdebat dengannya.

“Vin, Ibu beli resep dulu di apotik kamu nggak papa kan ibu tinggal sebentar.”

“Iya Bu, lagipula ada Riri yang jagain aku.”

“Ya sudah, kamu baik-baik ya”, Ibu mencium keningku, lalu pergi.

“Ri, kamu tahu nggak kalau Rany juga dirawat di sini”, kataku.

“Ha? Dirawat? Emang dia sakit apa?”, Riri begitu penasaran.

“Iya Ri, Rany dirawat di sini, keadaannya kritis. Dia menderita gagal ginjal.”

“GAGAL GINJAL ?? Kamu tahu dari mana?”, Riri begitu kaget.

“Kemarin aku nggak sengaja mendengar pembicaraan dokter dan Afriko, sampai sekarang belum ada pendonor untuk Rany, kalau sampai minggu ini Rany nggak mendapatkan donor ginjal akan berakibat fatal.”

“Ya ampun kasihan ya Rany, apalagi Afriko, dia pasti sedih banget.”

“Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka.”

“Vin, kamu juga harus menjaga kesehatan kamu, kamu jangan terlalu memikirkan mereka. Jangan-jangan kamu pingsan gara-gara mikirin mereka lagi.”

“Bagaimana bisa aku tidak memikirkan mereka, aku perduli pada Afriko, sekarang kekasihnya kritis dia pasti sedih dan aku bisa merasakannya.”

“Vinka, tapi sekarang situasinya beda, kamu juga harus menjaga kondisi kamu, jangan sampai kamu down seperti ini.”, a

ku hanya diam, aku malas berdebat dengan Riri

“Vin, aku harus ke ruangan Mama, Mama sms aku untuk temui dia, aku tinggal sebentar, ingat ya istirahat dan jangan pikirkan mereka.” Pamit Riri.

Aku menganggukkan kepalaku. Lebih baik aku menghabiskan waktu di taman sekalian menghirup udara segar daripada di ruangan ini. 

Di Taman aku melihat Afriko sedang menangis.

“Aku nggak bisa melihat Afriko sedih, aku nggak sanggup. Kalau hatinya terluka hatiku lebih terluka lagi, aku harus melakukan hal itu, harus!”

Aku pun berlari menuju ruangan dokter Nata. Aku mengajukan diri bahwa aku bersedia mendonorkan ginjalku untuk Rany. Untung saja dokter Nata tidak curiga kalau aku mengidap kanker otak, aku bisa menutupi penyakitku, aku kelihatan sehat bahkan sangat sehat di depannya, itu semua karena aku mendapat kekuatan, aku masih diberi kesempatan berbuat kebaikan di sisa hidupku. Akhirnya aku di izinkan mendonorkan ginjalku. Syukurlah, ginjalku cocok untuk Rany, aku tinggal tanda tangan surat perjanjian itu. Aku tau Ibu pasti tidak setuju kalau aku melakukan hal ini tapi aku tidak punya pilihan. Tiga hari kemudian setelah keluar dari rumah sakit aku kembali memberikan surat perjanjian itu, untung saja aku pandai meniru tanda tangan ibu, jadi itu bukan masalah.

Tak sengaja aku melihat Afriko, dia kelihatan sangat bahagia. Kurasa dokter Nata telah memberitahunya, aku sengaja tidak memberitahu identitasku, aku tak ingin Afriko merasa tak enak nantinya. Tiba-tiba air mataku menetes.

“Aku senang melihatmu kembali tersenyum Rik, cuma ini yang bisa kulakukan, aku ikhlas memberikan ginjalku untuk Rany. Aku nggak ingin melihat kamu terjatuh, aku ingin kamu terus bangkit.”

***

Dua bulan kemudian.

“Vinka... Vinka... Vinka sadar... Vinka...”, Riri mencoba menyadarkanku.

“Vinka... dengar Ibu Nak, Vinka...”, Ibu mencoba menyadarkanku.

“Dokter... dokter... suster... tolong...”, teriak Riri.

Dokter dan suster segera masuk ke ruanganku.

“Vinka... Vinka kamu dengar dokter, Vinka...”

Dokter memeriksa keadaanku, keadaanku tidak begitu buruk. Lalu, mata dokter Frans terarah ke botol obat yang ada di meja.

“Ini... ini obat yang diminum pasien setelah melakukan operasi, kenapa obat ini bisa ada di meja Vinka?” dokter Frans begitu heran.

“Apa dok? Operasi?”, Riri sangat terkejut.

“Iya, operasi organ tubuh” jawab Dokter Frans.


Selintas Riri melihat Afriko bersama Rany.

Rany? Dulu Vinka pernah bilang kalau dia menderita gagal ginjal, sekarang dia kelihatan baik walaupun masih duduk di kursi roda, berarti dia telah melakukan operasi. Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Vinka, apa Vinka tahu kalau Rany sudah membaik? Atau jangan-jangan kesembuhan Rany... deg.. deg.. deg.. Vinka! Apa mungkin Vinka? Tidak! Aku harus temui dokter yang menangani kasus Rany, harus!

Riri benar-benar terkejut atas jawaban dokter Nata. Sebenarnya dokter Nata tidak ingin memberitahu siapa pendonor ginjal untuk Rany, tapi karena Riri terus mendesak, lagipula Rany kenal dekat dengan dokter Nata, akhirnya dokter Nata luluh. Dokter Nata begitu kaget setelah tau bahwa Vinka menderita kanker otak, kalau tahu seperti itu, ia tidak akan mengizinkan Vinka mendonorkan ginjalnya.

“Aku harus temui Vinka!”, Riri bergegas menuju ruang inapku.

“VINKA!”, wajah Riri kelihatan buruk malah sangat buruk.

“Kamu...”, belum lagi aku melanjutkan perkataanku Riri langsung memotongnya.

“Nggak usah basa basi! Kamu tahu nggak, kamu ngelakuin hal yang sangat BODOH!”

“Maksud kamu apa sih Ri? Marah-marah nggak jelas”, aku begitu kaget.

Riri mengambil botol obat yang ada di meja. “Aku tau apa yang udah kamu lakukan Vin.”

Sungguh! Aku begitu kaget. Aku lupa menyimpannya. “E-emangnya ka-kamu tahu ap-apa

?”

“Ribuan kali aku katakan sama kamu, kamu harus jaga kondisi kamu! Kenapa sih Vin, kamu keras kepala banget? Oh.. kamu mau jadi pahlawan untuk Rany? Kamu pikir dengan cara kamu seperti ini Afriko akan simpati?”, katanya dengan ketus.

Aku mencoba berbicara tapi Riri langsung memotong perkataanku.

“Sadar Vin, sampai kapanpun Afriko nggak akan jadi milik kamu, dia milik Rany! Kamu nggak usah ngemis cinta gini dong, harga diri Vin, harga diri! Masih banyak cowok di luar sana! Untuk apa kamu donorin ginjal kamu? Astaga Vinka!!!”

“Kalau kamu sahabatku, kamu mendukung aku, bukan menyalahkanku seperti ini!”

“Vinka! Mana mungkin aku mengizinkan kamu mendonorkan ginjal sementara keadaan kamu seperti ini, kamu mikir dong, apa akibatnya kalau kamu ngelakuin hal ini!”

Aku hanya diam.

“Aku benar-benar nggak mengerti jalan pikiran kamu, bisa-bisanya kamu mendonorkan ginjal kamu sementara kamu sakit, jadi selama ini kamu menyembunyikan semua ini. Kamu sudah gila Vin!”

“Ri, kamu harus dengar dulu...”, Riri tak perduli dengan perkataanku, dia langsung  pergi meninggalkanku sendiri di sini. “Maafkan aku Ri... aku lakuin ini untuk Afriko... setidaknya aku bisa membuatnya bahagia meskipun aku menderita.”


***

Aku adalah Riri, sahabat Vinka. Hari ini, aku merasakan betapa sakitnya kehilangan, seperti ini rasanya, hancur berkeping-keping. Air mata ini terus menetes.. menetes dan menetes. Belum lagi Ibu Vinka yang kelihatan sedih sekali, di tempat pemakaman ini, semuanya berkabung, termasuk Afriko.

“Vinkaa... hiks.. hiks.... Vinkaa... kenapa kamu tinggalin Ibu Nak? Vinka..”

Ibuku mengusap punggung tante Vania. “Sabar Van... sabar...”

“Vin.. maafin aku, maafin aku Vin... hiks... hiks...”, aku benar-benar menyesal telah bersikap kasar padanya saat itu.

Afriko berlutut, baru kali ini aku melihat dia menangis karena Vinka.

“Kenapa Vin??? Kenapa kamu lakukan ini???”

“Karena dia mencintaimu”, jawabku.

“Maafkan aku Vin... maaf... aku benar-benar menyesal... kamu telah menyelamatkan Rany, tapi kamu...”, Afriko tak dapat membendung air matanya.

“Hiks... hiks... SEMUA INI GARA-GARA KAMU!! Kalau saja kamu lebih menghargai Vinka, tidak akan terjadi hal ini”, aku begitu kesal pada Afriko.

“Sekarang aku bisa merasakan ketulusan hati kamu, kamu lakukan ini untuk aku, tapi aku selalu bersikap cuek sama kamu. Aku menyesal Vin..”

“Kamu dengar baik-baik ya Afriko, sejak Vinka divonis menderita kanker otak dia nggak bisa merasakan apa-apa lagi, hatinya hanya buat kamu!”

“Maafkan aku Ri, aku tak tahu kalau berakhir seperti ini.”

“Setidaknya kamu sedikit saja menghargai dia, hanya sedikit Rik. Aku nggak minta kamu menerima dia, aku hanya ingin kamu menganggap dia ada di hidup kamu.”

“Apa yang harus kulakukan agar dia hidup kembali? Apa Ri? Kalau aku tahu akan ku lakukan segala cara untuk membangunkannya.”

“Sudah cukup! Kalau kalian ingin bertengkar bukan di sini, kalian jangan membuat Ibu tambah sedih”, Ibu Vinka sangat kecewa padaku dan Afriko.

“Bu... maafkan saya, karena saya, Vinka seperti ini..”, kata Afriko.

“Sudahlah, ibu tahu Vinka ikhlas melakukan hal ini.”

“Aku bangga mempunyai sahabat seperti kamu Vin, kamu rela memberikan ginjal kamu demi Rany.. hiks.. padahal kamu... hiks... sakit...”, aku terus menangis.

“Tante, aku melihat surat ini di kamar Vinka, aku pikir dia sengaja meninggalkan surat ini”, aku memberikan surat itu kepada tante Vania, dan tante Vania membuka lalu membacanya:

Untuk bintang hati Vinka

IBU...

Maafkan Vinka Bu... Vinka harus melepas genggaman tangan ibu. Vinka nggak bisa hindari kenyataan, Vinka harap ibu memaafkan Vinka. Bu... Vinka sayang ibu... sayang... sekali...

RIRI..

Sahabat terbaikku, yang senantiasa menjagaku di sekolah, yang perduli padaku, yang mengerti perasaanku. Ri... makasih udah jadi sahabatku, Vinka bangga sama Riri, Vinka menyayangi Riri, maafin Vinka, Ri... Vinka harus pergi... Vinka yakin suatu saat nanti kita akan bertemu.

AFRIKO..

Aku cinta mati padamu

Tak kan sanggup aku tanpamu

Bahagiamu itu bahagiaku

dan setiap air matamu itu lah juga kesedihanku

Bukan untuk sembarang hati

Aku katakan ini, sungguh aku cinta kamu

Bukan untuk sembarang hati

Hingga nafas berheti, aku rela berlelah untukmu..

Kalian adalah Bintang HatiKu yang terus bersinar di hidupku. Yang memberikan kukekuatan untuk tetap tegar. Sekarang, biarkan aku menjelma menjadi bintang di langit, dari sana aku akan memancarkan sinar untuk kalian. Aku akan menemani kalian setiap malam, aku akan selalu tersenyum... aku berjanji...

Vinka,

Afriko menatap langit dengan penuh harapan. “Makasih Vinka, terima kasih karena kamu telah berkorban untukku dan Rany, dan maafkan aku Vin, aku nggak bisa membalasnya.”

“Aku belajar darimu Vin, belajar untuk mencintai seseorang dengan tulus. Berkorban untuk orang yang kucintai, bukan karena aku bangga disebut pahlawan, dan cinta harus diungkapkan tidak untuk dipendam, karena kita tidak akan tau apa yang akan terjadi nanti. Jadi lebih baik ungkapkan sekarang atau tidak sama sekali”, kataku









































 

Joomlart