<< Cerpen Rembulan Yang Terenggut  >>

Rembulan Yang Terenggut

E-mail Cetak PDF

REMBULAN YANG TERENGGUT
(Oleh: Antoni Farhan) 

“Apa lagi yang kau harap dariku Bintang. Ibarat barang aku terlalu murah untuk kau beli. Ambil saja, andai orang-orang tahu pasti tidak sudi lagi melirikku. Aku tidak layak untuk kau peroleh. Langkah-langkahmu akan hambar bersamaku. Bahkan aku sendiri malu untuk sekadar mengembangkan senyummu. Aku sudah ternoda Bintang! Tidak. Carilah gadis yang lebih baik dariku. Jemputlah Rembulanmu dengan sepenuh cintamu!”, Selly menampik permohonan Bintang  yang bermaksud mengajukan lamarannya. Bintang bingung, ia mengunci mulut beberapa saat. Selama ini yang ia ketahui Selly adalah gadis yang baik. Mengapa tiba-tiba dia mengungkap tentang kebejatannya. Bahwa dirinya telah ternoda. Bintang semakin tidak mengerti, ia masih ragu. Sekali lagi, sebab yang ia ketahui Selly adalah gadis manis yang baik.

“Mengapa bisa begitu Selly?”, ia membuka kunci mulutnya dengan bertanya sangat berapi-api. Ingin sekali menampar pipi perempuan itu, namun ia tidak sampai hati.

***

Dentang jam pukul sepuluh, malam Minggu. Seluruh tubuh laki-laki bertubuh atletis dengan kulit wajah yang putih bersih itu terasa terbakar. Hembusan angin kipas yang menyiram dirinya telah berubah menjadi luapan lahar yang membuncah. Gadis kebangganya telah mencoretkan tinta pada sketsa yang bertahun-tahun lamanya ia buat. Rencana indah hidup bersamanya. Namun sketsa itu kini tidak dapat lagi ia baca. Noktah tinta biru tua yang menyuramkan. Menjadikannya gelap, pekat. Tidak ada lagi keindahan di sana.

Selly membisu, menundukkan pandangannya. Perlahan cairan bening menyerupai kristal mengalir dari matanya. Semakin deras hingga membanjir. Tangis perempuan itu justru telah mengusirnya agar segera hengkang. Namun rasa penasaran, siapa gerangan yang telah merampas mahkota rembulannya itu. Membuat ia bertahan, meski mungkin tidak akan lama.

 “Siapa yang melakukannya Selly?”, tanyanya lagi. Emosinya semakin meninggi. Selly masih melanjutkan ritualnya, mematung menjadi seperti batu. Ia tidak tahu akan memulai dari mana. Perihal kebodohan tingkah lakunya. Sebab kini tidak ada lagi celah yang mampu menyembunyikan aib. Sejak perempuan yang telah melahirkannya meninggal tiga tahun lalu. Waktu itu ia masih kelas dua SMA. Bapak sangat terpukul, secara tidak langsung Selly menggantikan peran ibu, mendampingi bapak dalam waktu cukup lama untuk mengembalikan kestabilan emosinya.

“Aku bertanya padamu, jawab Selly!”, kesabarannya benar-benar telah habis ia menghempaskan tangannya di atas meja. Menggelegar mengejutkan Selly. Serta merta ia berkata.

 “Bapak”, hanya itu jawabnya. Kemudia ia kembali membisu. Bintang sangat terkejut. Wajahnya nanar dengan ekspresi sangat kecewa. Tanpa berucap kata, ia segera hengkang. Tangisan Selly semakin menjadi, menenggelamkan jiwanya. Laki-laki itu juga turut meneteskan airmatanya, meski tidak sederas badai salju yang mengguncang pelupuk mata Selly. Dibiarkan saja Bintang berlari menuju mobil yang terparkir di halaman, tidak lama kemudian mobil berjalan dan menghilang ditelan tembok pagar beton milik tetangga.

***

Selly lupa sejak kapan laki-laki yang telah mendewasakannya mengajak melakukan sesuatu yang sungguh sangat memalukan itu. Hingga terjalin hubungan sedarah yang terlarang. Dilaknat Tuhan. Belaian lembut bapak memang sejak kecil telah ia rasakan. Entahlah sudah berapa kali belaian dan pelukan itu mendidih. Penuh nafsu, mungkin karena ia meletakkan dalam bejana tembaga dan dengan tungku berapi yang teramat panas ia merebusnya. Meracik menjadi menu kesehariannya. Tidak munafik ia menikmati belaian-belaian lembut bapak. Namun seluruh perbuatannya kini menyudutkan ia dihadapan kekasih. Dihadapan seluruh manusia, bahkan di hadapan Tuhan. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

Malam semakin lengang. Gerimis yang sudah turun tidaklah berlanjut. Suasana kembali hening, tanpa terdengar bunyi titik-titik hujan. Hanya sesekali tetesan air cucuran atap mencuri perhatian malam. Bapak pulang, entah dari mana saja. Selarut ini baru kembali. Selly segera mengusap pipinya, berpura-pura untuk tetap ceria seolah tidak ada seteru dan beban dalam kepalanya. Namun segurat duka itu masih saja terlihat di sebalik paras wajahnya. Meski tidak mengurangi kadar kejelitaannya. Rambut sebahu lebih itu terurai. Mata hidung bibir dan tubuhnya yang terbalut gaun malam terlihat semakin mempesona. Tanpa mengucap salam bapak membuka pintu dan segera menguncinya.

“Belum tidur Sayang?", tanya bapak sembari mendekat dan membelai rambut Selly, keduanya berpelukan beberapa saat. Mendenyutkan birahi.

“Bintang baru saja pulang, ia bermaksud melamarku Pak”, ucap Selly lirih. Ia masih menahan sesak di dada.

“Kau ini kenapa? bermuka masam begitu. Bukankah seharusnya kau gembira akan menikah dan hidup bahagia bersama suamimu kelak?”, Bapak bertanya penuh curiga.

“Aku sampaikan apa-apa yang telah kita lakukan selama ini Pak!”, kata-katanya sedikit terbata. Ia tahu bapak pasti akan marah. Benar adanya, belumlah ia selesai menarik napas.

“Plakk!!”, tamparan keras bapak mendarat di pipi kiri Selly. Sakit sekali. Tiba-tiba seluruh pandangannya begitu gelap, ia hampir tersungkur. Kedua kakinya tidak terlalu perkasa menopang tubuh yang terhuyung.

“Bodoh... Kenapa kau menggali kubur sendiri dan membuka aib kita Selly?”, ucap bapak. Ia tidak pernah semarah ini sejak ia bersama bapak sepanjang sejarah hidupnya. Selly berlari meski tertatih. Menuju kamar dan mengunci pintu serapat-rapatnya. Ia memeluk erat sebuah boneka tupai pembelian Bintang. Air matanya tertumpah lagi, membasahi wajah lucu boneka itu.

“Selly buka pintunya sayang. Maafkan bapak nak!”, laki-laki yang telah matang itu merengek meminta agar dibukakan pintu oleh putrinya. Putri sebagai pelampiasan nafsu. Seenaknya saja ia mereguk manis madu, mentang-mentang telah memeliharanya. Lalu bebas memetik dan memamah indahnya rembulan yang menjelang purnama. Padahal bukanlah dia yang sebenarnya memberi cahaya pada Rembulan.

“Tidak Pak, bapak Jahat. Biarkan aku sendiri. Pergi.. pergi…!!”, suara Selly terdengar dari balik daun pintu. Laki-laki itu berlalu menuju kamar, merebahkan tubuhnya. Terpejam namun tidak sanggup menjemput mimpi. Malam telah menghimpit dada keduanya. Sementara Selly melanjutkan nyanyian kepiluannya. Hingga kering mata air di dalam sumur matanya. Kini hatinya sedikit tersibak, lelaki kebanggaannya itu sudah berubah. Menjadi predator yang siap memamahnya. Bapak yang semestinya melindungi, mengasihi dengan ketulusan. Mengajar arti kehidupan. Malah ia menyematkan belaian yang kian membara. Terlampau panas. Penuh nafsu. Membuat Selly mengalir, mengikuti naluri wanitanya.

Seorang ayah telah berubah menjadi iblis, yang seakan tanpa dosa. Merenggut keindahan rembulan. Betapa setia ia mendampingi langkahnya di berjuta-juta hasta langit sambil memancarkan cahaya kerinduan. Iblis tidak pernah bodoh, tapi itulah kepicikannya. Menjadikan sang ayah pejantan yang menitip kegelapan di rahim rembulan.

Betapa nelangsa Selly, tiba-tiba hatinya dilingkupi Iblis yang sebenarnya. Meski wujudnya tidak nampak. Mengajak untuk segera terjun ke dasar neraka. Ia tidak sanggup memikul beban hidup. Teramat pilu. Sehingga mati adalah pilihan. Untuk apa terlahir ke dunia hanya menjadi rembulan yang terenggut. Asteroid raksasa itu telah menumbuk dan meledak, mengancurkan keindahannya. Beban seberat lima belas ribu mega ton lebih yang mendarat, meledakkan dirinya. Adalah nafsu bapak. Tega sekali ia memerawaninya bahkan berkali-kali. Kini ia tidak sudi lagi menyebut namanya. Tidak peduli laki-laki itu adalah adalah ayah kandungnya. Ayah iblis. Kekecewaan hatinya sungguh tidak terbendung lagi.

Ia sudah bertekad, harus mati malam ini. Entah dengan cara apa malaikat maut akan menyemputnya. Meminum racun atau mengiris nadi. Ketika ia mencari pisau kecil dilaci, tanpa sengaja foto sosok lelaki yang di simpannya  tersingkap. Bayangan laki-laki itu memanggil, melarangnya untuk pergi, padahal tadi ia begitu kecewa dibuatnya. Selly menarik napas dalam-dalam, ia mengurungkan niatnya. Dari balik foto wajah tampan itu ia mendengar bisikannya. Meski demikian rencana lain telah menunggu. Sellypun mulai berkemas. Menyiapkan bekal untuk pergi sampai diperbatasan negeri tempat ia bernaung. Atau kemana saja telapak kakinya akan meninggalkan jejak luka.  

***

Sudah tidak sabar lagi menunggu hingga pagi menjelang. Menjelma menjadi bagai seorang rohaniawan pembuka hati. Embun dikala sunyi adalah terapi ampuh bagi dahaga jiwa yang mencari setitik petunjuk. Tetapi tetap saja tatapan Selly hampa, dadanya yang bergemuruh semakin mendidih. Diambang sekarat kondisi hati itu yang sekian lama tersapu badai. Kini pagi terlahir dari rahim cakrawala, ketika selaksa warna merah merekah di ufuk timur. Mengusik semadi rembulan.

Lantunan takbir Adzan subuh tidak sanggup menentramkan jiwa, bagaimana akan menyebut Asma-Nya. Dalam takbir yang melengking tinggi nan sarat makna ukhrowi. Ia masih tetap tuli.

“Mari menuju kemenangan.!”, begitu Tuhan merayu Rembulan yang hendak beranjak keperaduan-Nya subuh itu. Kemenangan yang bagimana? ketika hidup terasa semakin terhimpit. Dunia yang teramat luas ini, terlalu sempit untuknya berlari. Ia kehilangan arah dan tujuan yang pasti.

Joomlart