Begitu kubuka pintu rumah, kau masuk tergesa. Kupandangi punggungmu yang basah. Di luar hujan. Kusiapkan teh hangat di atas meja dekat kursi goyang kesayanganmu.
Kau keluar dari kamarmu dengan baju hangat yang tebal. Baju yang khusus dijahitkan istrimu saat kau tepat berusia lima puluh tahun, dulu tiga belas tahun yang lalu.
Aku bertanya apa saja yang kau lakukan seharian di luar. “Aku berjalan berkeliling taman. Senang rasanya berada di sana”, aku tau kau menikmatinya dari bentuk bibirmu yang melengkung ke atas. Tapi kaki dan tanganmu tak berhenti gemetaran. Aku menyuruhmu beristirahat.
Aku menuntunmu menuju kamarmu. Tanganmu terasa berbeda dari lima belas tahun yang lalu. Kurus. Kuselimutkan tubuhmu yang kian lemah ditelan usia. Kau tertidur pulas.
***
Aku menunggumu di meja makan sudah hampir setengah jam tapi kau tak kunjung keluar dari kamarmu. Aku cemas. Kuhampiri kau ke kamarmu, kau terbaring lemah. Badanmu panas, kau demam.
Aku terburu-buru pulang dari sekolah takut kau membutuhkan sesuatu. Sejak istrimu meninggalkan dunia untuk selamanya tak ada yang menemanimu di rumah, kecuali jika aku pulang sekolah. Seharusnya masa tuamu kau habiskan bersama orang yang kau cintai. Bukan aku, anak yang dipungut istrimu tujuh belas tahun yang lalu.
Kulihat kau masih terbaring lemah di atas tempat tidur yang sama tuanya dengan usiamu, mungkin. Seharian ini belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke perutmu. Aku hanya bisa menatap matamu. Kubayangkan jika mata itu tidak akan terbuka lagi, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Ketakutan menyergapku.
***
Pagi ini kau tampak ceria tapi aku tau kau memaksakan dirimu untuk tampak sehat padahal kau masih lemah. Kau semangat menyantap makanan yang setiap pagi selalu kusiapkan untukmu.
Sambil makan, kau bercerita tentang istrimu. Ya, wanita yang kusebut ibu itu. Dia begitu lembut dan amat menyayangi kita, suami dan anaknya. Wanita yang hebat.
Begitu banyak kenangan antara kau dan dia. Dia pasti wanita yang sangat spesial bagimu. Aku iri padanya.
Wajahmu terlihat sangat bahagia saat menceritakan dia, memang selalu begitu. Dia pasti tersenyum melihatmu dari kejauhan sana. Mungkinkah kau juga akan menyusulnya? Pasti, dan aku juga.
***
Aku merasa kau semakin membaik. Hari ini kau sudah melakukan rutinitasmu, berkeliling taman. Entah apa yang membuatmu amat menyukai tempat itu. Mungkin tempat itu adalah kenangan kalian. Kubiarkan kau menikmati harimu.
Hari ini lagi-lagi hujan dan kau lagi-lagi pulang dengan baju basah. Kau menggerutu terus-terusan. “Bunga yang kutanam di sudut taman itu jadi mati karena hujan beberapa hari belakangan ini. Akarnya busuk.” Kau sudah mengulang kalimat ini beberapa kali sampai aku bisa melafalkannya dengan lancar.
Aku kagum padamu, di masa tuamu kau masih menyukai hal-hal indah seperti bunga. Atau mungkin itu juga sebagian dari kenanganmu dan dia? entahlah, terlalu banyak kenangan di antara kalian.
Kau bercerita tentang dia lagi, ibuku. Aku hanya tersenyum mendengar ceritamu sambil merapikan baju-bajumu ke lemari pakaianmu.
“Kau mirip dengan ibumu”, katamu tiba-tiba
Lagi-lagi aku hanya tersenyum.
“Mengapa kau tidak memakai baju-bajumu ini? padahal kau punya banyak baju yang belum kau pakai?”, aku heran melihat baju yang masih baru tersusun rapi di lemarimu.
“Untuk suamimu nanti”, kau berkata seolah besok aku akan menikah
Aku tertawa kecil. Itu masih sangat lama tapi kau sudah memikirkan hingga sejauh itu. lagian, belum tentu juga suamiku nanti akan memakainya kan?
“Baju-baju ini sengaja kusimpan untuk suamimu kelak, semua ini baju favoritku. Sampaikan pada suamimu nanti.”
Tak kupedulikan lagi kau berbicara. Aku hanya menuntunmu ke tempat tidurmu agar kau bisa menenangkan pikiranmu yang sepertinya mulai tak karuan itu.
***
Pagi ini kau tak keluar dari kamarmu. Kususul kau setelah hampir satu jam aku menunggumu di meja makan.
Aku tak tau harus berbuat apa, berkata-kata pun aku tak mampu. Kugoyang-goyangkan tubuhmu tapi tak ada jawaban. Pikiranku semakin kacau.
Kulakukan segala yang mampu kulakukan tapi aku juga hanya manusia biasa, aku tak punya kuasa. Kupandangi tubuhmu. Kaku. Kuyakinkan diriku tentang apa yang terjadi saat ini.
Aku berjanji akan menyampaikan kata-katamu semalam kepada suamiku, kelak.
Aku tau dan aku sangat sadar. Kini, aku harus berdiri sendiri lagi seperti tujuh belas tahun yang lalu.
Sibolga, 5 Mei 2010
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Pesan Terakhir




































