Maaf, kata yang tak pernah mampu tuk kuucapkan padamu. Kau pergi tinggalkan aku dengan senyuman dan kau bisa melihatku menangis saat mengantarkan kepergianmu. Hei, adakah rasa yang lain yang tercipta dalam segenap benak dan pikiranmu?Pernahkah terbersit dalam pikirmu betapa gundah jiwaku saat tak mampu menemukanmu dalam setiap langkahku? Adakah kau peduli setiap cucuran air mata yang tercipta tanpamu di sisiku? Aku ada tepat di hadapanmu namun dengan tega kau palingkan wajahmu dariku, dengan sepenuh hati kau tinggalkan aku dalam diammu. Aku terpaku, berharap waktu kembali pada masa aku tak mengenalmu, berharap masa memilihku untuk maut, dengan begitu takkan pernah ada rasa sakit ini. Hilang, telah hilangkah kata-kata yang dulu pernah kau nyatakan padaku? Telah hilangkah rasa yang pernah tercipta darimu untukku?Telah hilangkah setiap keeping kenangan yang pernah tercipta antara kit? Semudah itukah kau lupakan rasa?
Hanya tanya. Tanya yang tak pernah kudapat jawabannya. Tanya yang membuatku dilema luar biasa. Tanya yang selalu menjadi bayangan dirimu dalam benakku. Kata telah terucap dalam setiap nada yang kulantunkan namun tak pernah kau anggap, aku sakit. Salahkah aku jika dalam setiap deru nafas yang kuhembuskan selalu ada namamu? Dosakah aku jika ingin mendapatkan kebebasan cintamu? Bicaralah. Aku hanya ingin kau bicara. Aku hanya ingin mendengar satu kata darimu. Satu kata yang mampu menjadi jawaban atas tanyaku, satu kata yang mampu mengakhiri dilema ini, satu kata yang mungkin mampu membuat aku membencimu.
Pada akhirnya, di setiap rasa yang membuatku gundah,aku mengerti. Mulai mengerti mengapa kau tak pernah menganggap aku ada dalam jalan hidupmu. Kata yang aku tunggu telah mengakhiri segalanya. Segalanya yang pernah terjadi antara kita semua kandas dalam satu kalimat.
“Aku tidak pernah mencintaimu, aku mencintai gadis lain”, ucapmu mudah
“Jadi, selama ini?”, desahku dalam tanya
“Kau hanya sahabat, tak lebih dari itu”, jawabmu tanpa pertimbangan
Tak kuat hatiku bertahan mendengar setiap kata yang terucap dari bibirmu. Mata ini terasa panas sewaktu itu. Aku luluh dalam tetesan air mata dan kau memelukku. Dengan teganya kau peluk aku saat aku mulai belajar membencimu. Dengan teganya kau berikan harapan dalam kekosongan hatimu. Dengan teganya kau buat aku sulit membencimu.
Benci kah aku padamu? Bagaimana mungkin aku mampu membencimu saat pelukanmu justru menjadi kehangatan untuk hatiku?Bagaimana mungkin aku mampu membencimu saat tangan besarmu yang justru menghapus tetesan air mataku?
Daun-daun kini berguguran, aku ada di antaranya antara daun-daun kuning pepohonan yang berguguran terhembus angin. Aku adalah daun itu, dan kau adalah angin itu. Kau jatuhkan aku dalam muara kegelapan hati yang tak mampuku pandang. Kau jatuhkan aku dalam kekelaman durja yang membuat air mataku menetes tak tertahan. Lalu, mengapa aku kembali kau bawa terbang menuju naungan surga di atas sana. Bagaimana mungkin daun mampu membenci angin yang membuat mereka gugur? Saat angin justru kembali menerbangkan daun itu ke langit tinggi di atas sana. Itulah aku padamu Tony. Itulah aku.
Langit masih biru dan tersenyum, mencoba tertawa di kegelisahan hatiku saat ini. Itulah yang aku lakukan. Mencarimu dalam kegelapan nafas, kesesakan yang aku dapatkan. Entahlah, kenangan manis itu justru semakin menyakitkan. Sekarang saat ini kuyakini takkan ada cinta yang pantas untukku. Sedang apa dan di mana dirimu yang dulu kucinta. Ku tak tahu, tetap tak tahu seperti dulu. Mungkin takkan ada tempat lagi untukku di hati mu, begitu pula denganku tak ada tempat lagi untuk laki-laki lain di hati ku. Meski pun detik ini kau ada di dekatku, kau sama sekali tak mampu untuk kusentuh. Taukah engkau setiap tatap matamu menyiksaku, setiap sentuhan lembutmu membuatku terluka karna semakin lama aku tak pernah mampu meraba kehidupanmu yang kini telah tertutupi awan-awan hitam yang menjadi batas antara kita.
Maaf,maaf karna aku tlah mencintaimu. Jika itu memang salah. Maaf, karna sampai batas nyawa kan direnggut dariku kesalahan itu akan tetap aku lakukan. Tangis dan airmata kan kutahan demi melakukan kesalahan itu. Salam yang hingga kini sulit terucap dari bibirku, salam yang hingga kini masih kusimpan rapat dalam balutan kegelisahan hati yang mendalam. Salam terindah itu? Inilah aku dengan cinta yang tak pernah terucap. Inilah cintaku yang tak pernah kau tahu. Inilah cintaku yang terkubur dalam pusara rindu yang tak terbatas. Bintang menghiasi malam hari seindah cerita cinta kita. Masa-masa kita bersama tak mungkin bisa kulupakan. Aku, kau atau siapapun takkan pernah tau bila waktu kita tlah tiba. Karna itu Tony, aku ingin menikmati rasa ini sebisa mungkin, selama nafas ku masih bernaung dalam ragaku ini, karna mungkin hanya sebatas itu lah rasa ku padamu. Mungkin maut yang akan menghentikan semua itu. Terima kasih karna kau pernah hadir dalam hidupku, terima kasih karna pernah menciptakan rasa itu untukku, terima kasih untuk senyumanmu. Dalam batas sisa nyawaku, kutulis perasaanku dalam sebuah cerita ini. Meski aku tau kau pun takkan pernah menjadi pembaca cerita ini.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Antara Aku dan Tony






































Comments