<< Cerpen Dalam Temaram Langit di Selat Bali  >>

Dalam Temaram Langit di Selat Bali

E-mail Cetak PDF

SALAM TEMARAM LANGIT DI SELAT BALI
(Oleh: Mimil) 

Pada duka kita berkaca, lalu berdansa bersama malaikat penjaga surga, ada cinta di sana

Terbujur kaku di sebuah ruangan pojok UGD dan aku terpaku di sini, untuk terakhir kali kulihat wajah indahnya yang telah menemaniku selama lebih dari 10 tahun. Aku mencium dagu, pipi dan dahinya, masih tercium aroma wangi parfumnya. Saat terakhir bersamanya, di sebuah pekuburan indah di pulau dewata tempat kelahiranku. Selamat jalan suamiku, selamat jalan jantung hatiku. The saddest words is ‘goodbye’ .

         Dalam temaram langit selat Bali

Pura bali itu saksi di mana aku menemui jantung hatiku
Di balik pura itu jantungku terpikat oleh untaian keindahan cinta yang agung Wajahnya bersinar bagai malaikat ketika satu waktu kutemui dirinya. Adakah dia…
Adalah dia…
Hembusan angin di selat bali saat senja itu, mampu buatku tersadar akan kasih Sang Kholik yang tanpa batas
Aku sadar Dia telah menemukan aku di satu senja itu
Aku dan sandaran hatiku
Aku dan belahan jiwaku
Di satu sore di balik temaramnya selat Bali, aku menemukannya dalam sebuah jalinan kasih
Bersamanya kukan arungi bahtera keluarga
Bersamanya kukan menuju ke surgamu Tuhan terima kasih atas anugerahmu.

                                                                                               Bali, 9 januari 1998

Di atas adalah satu sajak sederhana yang kubuat 9 tahun lalu.

Suamiku seorang pilot di sebuah perusahaan penerbangan swasta. Kami bertemu saat perjalanan ke bali, 9 tahun yang lalu. Terlalu dalam untuk diceritakan, karena kenangan itu hanya akan mengusik luka yang bekasnya masih ada, jauh di lubuk hatiku. Sesegera mungkin kami mencoba tuk menjalin kasih lewat bahtera keluarga . Saat itu umurku masih sekitar 21 tahun. Seorang wanita yang belum cukup matang, tapi nyatanya aku mampu menemaninya hingga saat –saat terakhir, melayaninya, memasak sup kesukaannya dan mengasuh anak-anak kami dengan cinta.

Minggu, 20 januari 2007, rembulan malam tampak temaram, entah kenapa hari itu perasaanku lain. Huff… insomnia selama beberapa hari. Aku mengalami ketakutan yang tidak biasa. mungkin inilah yang dinamakan dengan ikatan batin. Sesaat kupandangi 4 buah hatiku yang berada di kamar sebelah. Sesaat kemudian aku kembali ke kamar lalu kucium dahi suamiku. Sungguhpun, Tuhan telah memberikanku cinta yang berlimpah. 5 buah cinta bersandar padaku, kami berjalan bersama dalam satu keharmonisan, kadang kami berbeda namun bukankah nada yang selalu ‘do’ tidak akan indah untuk didengar. Hari-hariku bersama mereka adalah diary berjalanku, masa depanku. Kerna aku yakin ini adalah pencapaian terakhirku.

Kini,  sebuah cintaku telah pergi, kerena sebuah kecelakaan pesawat di kepulauan Borneo selasa malam lalu.

Aku putus asa, bagaimana mungkin menghadapi semua ini sendirian

Hingga pada satu ketika, aku melewati sebuah tempat penjualan buku bekas. Entah mengapa aku tetarik masuk ke dalam, lalu aku menemukan sebuah tulisan di sebuah majalah yang akan mengubah hidupku selamanya ‘ the winner always finds blessing way even in bad situation’.

Sepulang dari sana aku sadar Tuhan telah menitipkan 4 cinta untukku dan aku tak boleh lengah untuk menjaganya. Aku dan keempat anakku. Meskipun aku hanya seorang ibu rumah tangga tak berpenghasilan, namun aku yakin masih bisa, bisa menulis, bekerja di sebuah perusahaan swasta, katering atau apalah. Ada 1001 jalan bagiku untuk menghidupi keluargaku. Aku dan 4 buah hatiku akan memulai sebuah perjuangan kehidupan. Dan aku yakin, aku tak sendiri di sini. Karena semua orang ingin menjadi seorang pemenang dan bukanlah pecundang, seperti apa yang tersurat di satu buku bekas itu.

Kerna Waktu adalah bagian dari proses penyembuhan
Tak perlu meratapi kepedihan itu, kerna waktu kan menyembuhkan dengan cara terbaiknya
Tak perlu mengharu biru lalu langkah tergontai tak tentu arah..karena ini hanya bagian dari sesuatu yang dinamakan hidup dan kehidupan, dialah ‘cinta’
Ketika sesak mulai memacu jantung ini tuk berdetak lebih kencang, aku tahu ruang rindu ini mulai menganga, lalu mengapa harus pedih, sedang Tuhan di atas sana sudah menggariskan semuanya di lauhul mahfudz
Jalan ini memang tak mudah bagi seorang majnun yang sedang dimabuk cinta dan cintanya tlah menghilang
Kerna arus waktu dan zaman; Kerna aku tak mau lagi menjadi seorang majnun yang gila akan dunia dan kerna seorang budak muslim adalah lebih baik daripada seorang merdeka yang fasik
Duhai hati yang menguasai perasaanku, bersabarlah
Kerna Tuhan kan membukakan surga di ujung perjalanan itu, dengan takdir terbaiknya
Tak mudah memang tuk bertahan, namun yakinlah jika engkau bisa

Joomlart