<< Cerpen Bidadariku yang Cantik  >>

Bidadariku yang Cantik

E-mail Cetak PDF

 

BIDADARIKU YANG CANTIK
(Oleh: Titien Pradani)

Langit malam tampak indah dihiasi dengan senyuman sang bulan yang mempesona ditambah dengan kerlipan para bintang yang seakan hendak menyapa para pemujanya. Sama seperti indahnya langit malam, bidadari cantik di hadapanku ini juga indah. Seolah senyuman sang bulan diwariskan kepada bibir mungilnya. Mempesona. Walaupun hanya diterangi dengan cahaya temaram di kafe ini tapi tetap saja mempesona. Senyum ini yang pernah membuatku meninggalkan hartaku yang paling berharga. Ya, hanya karena sebuah senyuman.

Dahulu, aku pernah terperangkap oleh senyuman ini. Dibutakan senyuman ini sehingga aku tidak bisa melihat apapun yang telah kumiliki. Meninggalkan segalanya demi sebuah senyuman dari bidadari cantik ini. Bidadariku. Setidaknya sampai aku berpikir untuk pergi dari sisi bidadariku ini dan mengejar kembali bidadariku yang dulu. Ya, bidadari lain yang dulu ku patahkan sayapnya hingga ia terpuruk, tak punya senyum indah lagi seperti dirimu cantik.

Mungkin sudah saatnya aku mengungkapkan segalanya. Sejak awal aku memang hanya terpesona oleh sebuah senyum bukan benar-benar mencintai sang pemilik senyum. Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Aku memang berkata serius saat kuselipkan cincin di jari manismu. Aku serius saat aku dan kau bersama-sama mengayuh biduk rumah tangga. Terlebih sangat serius saat kukatakan bahwa aku ingin kehadiran bayi-bayi mungil hadir di tengah-tengah kesibukan kita. Tapi tak pernah kudapatkan darimu. Kesibukanmu melebihi aku. Aku ingin pelukan hangat darimu dan anak-anak kita menyambutku sepulang kerja.  Tapi yang kudapati hanya rumah kosong, kau justru pulang lebih telat daripada aku.

Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Karena aku ingin menjadi seorang pria yang sempurna. Aku juga ingin dipanggil ayah. Menggelikan memang, seperti katamu. Tapi aku ingin. Aku lelah menunggumu. “Kita harus menunggu waktu yang tepat. Kita belum benar-benar siap untuk itu.” Ya, sudah ribuan kali aku mendengar kalimat ini sampai-sampai aku bisa menghapalkannya. Bukan kita, tapi hanya kau. Hanya kau yang belum siap direpotkan oleh bayi-bayi mungil itu. Aku siap, dari awal ku katakan aku siap. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu dan tidak mau menambah kesibukanmu dengan kehadiran mereka. 

Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Aku lelah, terlalu lelah. Aku tidak bisa lagi menunggumu. Entah sampai kapan penantianku akan berakhir jika kau sendiri tidak pernah menginginkan mereka. Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Karena aku ingin mengejar kembali bidadariku yang dulu. Aku ingin kembali kepadanya. Dan aku telah menemukannya.  Bolehkan cantik?

Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Aku menyemaikan kembali benih yang dulu sempat rusak karena senyummu. Tapi jangan salahkan aku seutuhnya. Kau juga punya andil dalam hal ini cantik. Andai saja kau lebih menjadi bidadari yang selalu setia di sisiku mungkin benih-benih ini tidak akan tumbuh subur. Andai saja kau tidak pernah membuang benih yang kutanam di rahimmu mungkin aku akan tetap berada sisimu hingga akhir hayatku.

Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Bidadariku ini tidak salah. Dia hanya menjadi bidadari yang kuinginkan, dia menjadi yang kumau. Kau tau cantik? Dia punya banyak waktu di rumah. Dia selalu menyambutku saat aku bertandang ke sana, menghilangkan penatku terhadapmu. Mencurahkan keinginanku. Dia bidadariku yang setia berada di sisiku. Dia menjadi tempatku berkeluh kesah hingga benih ini tumbuh kembali.

Kau tau cantik? Aku menyematkan cincin di jari manisnya saat ia mengatakan bahwa ia menginginkan suara tangis dan gelak tawa bayi-bayi mungil memenuhi rumahnya. Kau tau kan cantik, kami punya keinginan yang sama. Bidadariku ini tidak akan pernah menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan bayi-bayi mungil itu karena ia selalu menantikan kehadiran mereka. Dia berbeda denganmu cantik.

Kau tau cantik? Aku menghabiskan satu malam bersama bidadariku ini saat kau sama sekali tidak peduli dengan hari pernikahan kita. Ya, kau sibuk di luar kota dengan klien-klienmu yang menurutmu lebih penting daripada aku, suamimu. Dan sekarang betapa bahagianya aku saat bidadariku ini memberiku sebuah kabar bahagia. Dia menyimpan benihku di rahimnya. Kau senang dengan kabar ini cantik? Aku, ya. Dia tidak akan membuang benih itu seperti yang kau lakukan. Dia akan merawatnya hingga besar dan melahirkan bayi mungil untukku.

Bidadariku yang cantik, maafkan aku. aku tidak ingin kehilangan benihku. Aku tidak ingin kehilangan bidadariku ini. Aku juga sebenarnya tidak ingin kehilanganmu cantik. Tapi kalau aku tetap bersamamu entah sampai kapan aku akan menunggumu. Sedangkan bidadariku ini sudah memberiku segala yang kuinginkan.

Cantik, aku harus memilih. Bersamamu berarti kehilangan dua harta berharga bagiku. Aku sempat kehilangan hartaku saat aku memutuskan memilihmu cantik tapi apa yang ku dapat darimu? Jika aku memilih bidadariku ini maka aku akan menjadi pria yang sempurna. Kau tau kan cantik, inilah yang kuinginkan dari dulu dan tidak pernah kudapatkan darimu. Jadi cantik, ijinkan aku memilih.

Bidadariku yang cantik, maafkan aku. Di meja sana, di seberang tempat kita berada sekarang, bidadariku sedang menungguku. Dia menungguku bersama benih kami. Boleh kan aku pergi sekarang, cantik?

 

Joomlart