AIR MATA HUJAN DI CINTA SAKIT JIWA
(Oleh: Dhavia Filla Resandy)
Kembalikan 'pandora'ku...
Secarik kertas tergenggem di tangan, tertulis sebuah deretan huruf yang mungkin hanya 12% untuk meyakininya, tapi tetap saja. Aku merasa bermain dalam serial komik detective, kesukaanku. Berfikir, menganalisanya lantas baru bergerak. Empat huruf sebuah kota di Jawa Tengah ini. Apa memang ini yang aku cari? Apa ayah masih berbohong padaku? Tapi kenapa, ayah akhirnya mau membertahu keberadaan ibu?
Mendadak, terlintas wajah seseorang itu.
Ya! Aku harus ke sana. Karena aku tak ingin ini semua akhirnya menjadi dongeng. Dongeng cerita tentang ibuku yang selalu dikatakan ayah, kalau ibu ada di kota BEIKA di negara JEPANG. Padahal tak pernah ada kota bernama BEIKA di Jepang? Sampai kapan pun tak kan pernah ada.
Latas berlari ke loket, tujuanku tak lagi pada secarik kertas ini tapi menemui seseorang yang mungkin hanya dia yang mengerti, berharap dia yang benar-benar tau.
PAMAN AKU BERHARAP BANYAK PADA MU!
Sekejap tetesnya melayang terbawa angin, pelahan gerimis pun berhenti, tapi tetap saja! kulihat orang tua itu masih saja sibuk mencari sesuatu di almari jati berwajah cermin. Terkadang sesekali ia terdiam! dari guratan wajahnya terlihat jelas, mungkin ia berusaha mengingat kembali masa mudanya. Hampir dingin secangkir kopi di atas meja, di posisi yang sama, sekali pun belum kusentuh. Fikiranku masih saja terbayang kejadian 3 hari yang lalu.
TAU APA KAU TENTANG PENGORBANAN? MASALALUKU? APA LAGI TENTANG IBU MU!
SUDAH LAH! nanti ada saatnya kau akan tau, apa yang sebenarnya terjadi.
Saat itu ayah seperti seorang penyair. Berbicara dengan nada dan aksen yang tak pernah terucap selama 20tahun aku bersamanya. PANDORA masalalu yang hilang. Tapi aku tak punya pilihan. Hanya ingin tau. SIAPA IBU KU?!
Langkah kakinya membuatku sadar, orang tua itu kembali menghampiriku, tepat di depan terduduk di kursi sebelum ia beranjak tadi.
“Aku sudah lama tak melihat ini?" (amplop coklat bernoda kehitaman) ucapnya.
"Apa ini paman?", perlahan, sedikit heran.
"Paman... aku hanya ingin tau di mana ibuku sekarang, ayah seperti orang bisu, setiap kali aku bertanya tentang masalalunya. Apa lagi hal yang menyangkut ibu. Selalu dan pasti terulang lagi, ucapannya yang sok puitis itu, yang sangat tak kumengerti"
"Masalalu? aku lupa, yang aku tau,aku pernah ditertawakan cinta di depan pasar di pinggir trotoar, dan...?
Tiba-tiba orang tua itu meneruskan kata-kataku,'SEPEREMPAT MALAM KUTERBUANG SIA-SIA DI ASTANA GIRIBANGUN, ucapannya seperti seorang terdakwa yang membacakan pledoi pembelaan, copy-paste alias sama persis dengan apa yang diucapkan ayah kepadaku.
"Bagaimana bisa orang tua ini hafal kalimat andalan ayah tadi"
Sejenak nafas ku tarik dalam - dalam, sesaat kurasa? 'ku sesat logika', rasanya seperti ditembak sniper tepat di jantung. Jika hidup! kursi berderet biru ini mungkin bosan dengan ku, lagi-lagi aku, lagi-lagi aku! kemarin, sekarang dan entah sampai kapan lagi, semua ini karena catatan lusuh yg diberikan ayah dan diperkuat pendapat paman tentang kebenarannya. Ibuku ada di sebuah kota di Jawa Tengah, tak banyak, tak berubah, seperti yang kubilang, cuma 4 huruf, diikuti lukisan 'navigator kuno' berbekal insting lupa - lupa ingat buatan orang tua itu, meski peta itu terlampau payah, tapi paling tidak, ada hal baru lain yang aku tau, dan keputusanku berkunjung ke rumahnya bukan lah suatu yg sia-sia.
Mungkin terlalu lelah, hingga waktu terasa mundur jauh ke belakang, saat aku sibuk melipat kertas yang akan aku jadikan pesawat mainan kesukaan ku, mendadak tangan ini berhenti begerak!
"Ada yang tau apa itu KOTAK PANDORA?", suara pak rahmat guru Bahasa Indonesia yang kala itu berdiri tepat di depanku, sekejap ruangan segi empat itu mendadak sunyi dan dalam hitungan detik pesawat ' made in me' yang kubuat di sela-sela pelajaran tadi, kini sudah berpindah ke tangannya, sayap itu ditekuknya sebentar lantas, wuuuuuuussshhhh... tanpa 'delay, mainan sederhana itu 'landing' dengan kasar di luar kelas! sedetik pun aku tak berkedip, mencoba berfikir ke depan, entah akan berakhir seperti apa nasibku setelah ini?
Orang berseragam safari, berkacamata baca itu kembali masuk ke dalam kelas, berjalan ke arah papan tulis, dan kembali ke arahku dengan sebatang kapur di tangan kiri. Aku merespon! tanpa perintah lanjutan aku berdiri dan benda putih yang katanya 'bebas debu' (tertulis di kotak kapur) ini, kini berpindah di tangan kananku. Tertunduk, berfikir sebentar aku. Lantas tak butuh waktu lama sebuah kalimat tertulis ''PANDORA IALAH KISAH SEBUAH MITOLOGI YUNANI, YANG DIBERIKAN KEPADA DEWA BERNAMA ZEUS, TAPI PANTANG UNTUK DIA LIHAT APA ISI DALAM KOTAK TERSEBUT. ENTAH APA PENYEBABNYA, TAK BEGITU JELAS.''
Sedikit angkuh. Memutar badan berjalan ke tempatku semula, dan ini dia? saat aku kembali ke tempat dudukku. Aku melihat seseorang tersenyum kepadaku! kurasa senyumannya seperti warna 'jingga' yang sulit untuk diungkapkan. Jika tak salah 'jingga' terdiri dari perpaduan 5 unsur warna yang sempurna. Bagiku bukan hanya sangat tapi terlalu dan kelewat indah. Seperti slogan seorang pesulap 'AMAZING'
Seseorang itu? dia... yang menjadi salah satu alasanku datang ke sekolah. Seseorang yang selalu menggigit kukunya ketika ia terlihat panik dan berfikir. Seseorang itu ialah dia yang ada di sana yang duduk di baris ke dua, tepat di depanku.
Sekejap buyar, sirna lamunanku,
Tersadar oleh suara terompet 'malaikat perpisahan' (begitu aku menyebutnya) suaranya menggema hingga sudut-sudut ruang stasiun waktu senja, entahlah? siapa penemu bunyi alarm menyebalkan petanda kereta tiba atau pun berangkat itu, tapi yang pasti aku benar-benar sangat membencinya, bahkan, 'SETENGAH MATI AKU BENC'
Seorang petugas peron menghampiriku,
"Gerbong lima, di sebelah sana mas", ucapnya penuh keramahan. Kusambut senyum setengah ikhlas.
Melangkah, berjalan perlahan bersama koper 'P'CLASS' merah favoritku, dan kini terduduk di kursi 19F, sedikit kecewa saat kuliihat penunjuk waktu di tangan kiriku, hampir 1 jam, mengenang masalalu di stasiun ber'kursi biru itu.
Tak lama peluit ditiup dan lagi - lagi suara yang tak mau kudengar itu kembali di putar petugas muncul ke permukaan. Lewat media udara terdengar di telingaku!
Seperti semula, alamat itu kupegang erat - erat. Petunjuk harta karun terpendam, berwujud masalalu ayah dan tentu saja sesuatu yang kunanti, kubutuh, kuingin...
IBU, IBU, TUNGGU AKU DI KOTA MU!
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
"Air Mata Hujan di Cinta Sakit Jiwa'' part 1




































