<< Cerpen Sebuket Krisan Putih  >>

Sebuket Krisan Putih

E-mail Cetak PDF

 

SEBUKET KRISAN PUTIH
(Oleh: Mimil) 

 

(Cinta adalah ketika kita dapat bertahan dan tegar dalam tempaan)

2 januari 1980

2 januari 1980 aku bertemu dengannya, di sebuah stasiun tua kota Hanoi. Saat itu umurku tepat 19 tahun. 3 bulan kami saling bertukar surat dari jarak beribu-ribu mil. Ini memang sulit dipercaya, bahwa kita sebenarnya tak saling mengenal. Dia adalah sahabat kakak sulungku di medan perang Jepang-Vietnam. Kami dikenalkan olehnya.

Pagi ini begitu cerah, udara di Hanoi begitu hangat. Sang fajar bertasbih sejak subuh tadi, menyambut kedatangan laskar tentara  Hanoi, aku merindukan kakakku dan dia. Dia berjanji padaku akan membawakan setangkai bunga krisan putih. 5 menit lagi kereta tua itu akan datang. Semua orang menyambut dengan mengharu biru.

Akhirnya kereta itu datang. Tak sia-sia penantianku dari subuh tadi.

15 menit berlalu, lascar tentara keluar satu per satu mulai dari gerbong pertama hingga terakhir, bahagianya hari ini, karena seorang ibu tua renta bertemu anak laki-laki satu-satunya, seorang ibu hamil tua menemui suaminya, sang kekasih menemui pujangga hatinya setelah bertahun-tahun lamanya dan aku. 30 menit berlalu dan tak kunjung kutemukan yang kucari, aku menyusuri dari gerbong ke gerbong, berharap menemui pria bermata sipit dengan perawakan tegap, hidungnya mancung, dialah kakakku. Kakak yang akan selalu menggandengku ketika kita berangkat ke sekolah, berkelahi dengan orang yang menggangguku dan mengerjakan tugas-tugasku ketika lelah setelah berjualan di pasar.

Sekarang tak kutemui seberkas wajah itu. Aku putus asa, kucoba telusuri lagi gerbong-gerbong itu, berharap kutemukan dia karena sedang tertidur. Satu jam berlalu, kerumunan orang di stasiun tua ini, perlahan menyusut. Aku bertanya pada setiap orang dengan menyodorkan foto kakakku berharap salah satu dari tentara itu ada yang mengetahui keberadaanya. Entah mengapa kepala ini rasanya berat, langkahku gontai, ketika aku tak menemukan tanda keberadaannya. Mungkin kakakku dan sahabatnya gugur di medan perang itu.

Hufff... getir rasanya, aku terduduk lemas di bangku tua itu, peluh mataku menetes.

Seseorang merangkulku dari belakang, melingkarkan jemarinya di leherku, reflex, aku tersontak kaget lalu tangan ini hendak menamparnya namun. Aku jatuh pingsan.

Beberapa menit kemudian aku tersadar, kerna kucium harum bunga krisan itu, kakakku.. yah dia datang. Aku memeluknya erat, menciumi wajahnya yang halus, dia datang dengan bunga krisan dan sahabatnya. Hari ini adalah momen penting dalam hidupku yang kan kusimpan dalam tiap hela jiwaku.

Aku bertemu dengan dia. Singkat cerita, aku menikah dengannya beberapa bulan setelah bertemu dengannya. Aku mencintainya seperti wanita lain yang mencintai pasangannya, aku tertarik dengannya karena hal-hal sederhana seperti wanita lain yang jantungnya berdegup kencang ketika bertemu dengan kekasihnya…


Kami tidak seperti pasangan muda lainnya, yang bisa berbulan madu setelah menikah, melihat sang suami setiap pagi. Beberapa minggu setelah kami menikah, dia meninggalkanku karena negara membutuhkannya di medan perang. Bagaimanapun juga, ini adalah resiko menjadi seorang istri tentara. Pagi itu, aku kembali mengantarkan kakakku dan suamiku ke stasiun tua itu. Aku menyayangi mereka dan aku merindukan mereka untuk kembali lagi satu tahun berikutnya.

Tiap bulan aku menerima surat berwarna biru dari suamiku, terkadang dia mengirimkan sepuket bunga krisan putih, tak luput di penghujung penanya dia selalu menuliskan  satu bait puisi ‘aku mencintaimu seperti...’ salam untuk jagoanku. Saat ini aku sedang mengandung anak pertama kami. Berat rasanya menjalani semua ini sendirian, seorang ibu sekaligus seorang istri yang kesepian.

Hari ini adalah masa kehamilanku di usia yang ketujuh. Kembali aku datang ke stasiun tua itu. Suamiku datang hari ini dan tidak akan kembali lagi ke medan perang, kerna perang Vietnam-jepang telah berakhir. Tentara di negara kami menang. Aku bangga dengan suami dan kakakku, mereka adalah pahlawan sejati untukku.

5 menit lagi kereta tua itu akan datang. Semua orang menyambut dengan mengharu biru.

Akhirnya kereta itu datang. Tak sia-sia penantianku dari subuh tadi.

15 menit berlalu, laskar tentara keluar satu per satu mulai dari gerbong pertama hingga terakhir, bahagianya hari ini, kerna seorang ibu tua renta bertemu anak laki-laki satu-satunya, seorang ibu hamil tua menemui suaminya, sang kekasih menemui pujangga hatinya setelah bertahun-tahun lamanya dan aku. 30 menit berlalu dan tak kunjung kutemukan yang kucari. Aku menyusuri dari gerbong ke gerbong, berharap menemui pria bermata sipit, badannya tinggi, kulitnya bersih, namun hidungnya tak semancung kakakku., dialah suamiku, seseorang yang selalu kusebut dalam tiap doaku.

Sekarang tak kutemui seberkas wajah itu, aku putus asa, kucoba telusuri lagi gerbong-gerbong itu, berharap kutemukan dia karena sedang tertidur. Satu jam berlalu, kerumunan orang di stasiun tua ini, perlahan menyusut. Aku bertanya pada setiap orang dengan menyodorkan foto kakakku dan suamiku berharap salah satu dari tentara itu ada yang mengetahui keberadaan mereka. Entah mengapa kepala ini rasanya berat, langkahku gontai, ketika aku tak menemukan tanda keberadaannya. (mengapa kejadian ini persis seperti 2 tahun yang lalu) apakah aku terserang scicovrenia ataukah de javo, pikiranku kacau, perutku yang besar ini membuat jalanku tak segesit dulu. Aku merasa sering sesak dibuatnya.. hufff!

Huff... getir rasanya, aku terduduk lemas di bangku tua itu, peluh mataku menetes.

Seseorang menyapaku dari belakang, sesosok lelaki paruh baya, dengan raut wajah kusam. Dia memberiku setangkai bunga krisan putih. BUKAN! DIA BUKAN SUAMIKU! Sambil berkata ‘Frans dan kakakmu gugur di medan perang, jiwanya tak tertolong ketika pasukan Jepang memporak-porandakan medan kami, ini titipan terakhir dari suamimu’

Berat rasanya, namun aku harus kembali tegar demi jagoanku dan bunga krisan putih wasiat terakhir jiwa suamiku.
Dalam hatiku  berkata ‘Inilah saatnya bagiku untuk berperang dan berjuang dengan hidupku sendiri’
Entah dari mana kekuatan itu, aku merasa suamiku akan selalu menggandengku ketika aku memegang bunga krisan putih itu

Satu sajak

Terperangkarap dalam jerat
Sesak aku bersama derak yang mengarak
Bagaikan arak dia menghanyutkan.
 
Butuh pengakuan dalam dera
Kerna hati tak pernah jera ketika cinta datang menyapa

Ketika alunan nada mengais dalam tangis
Hati pun teriris, kerna cerita tanpa makna tlah tercipta dengan tanpa daya
Akankah mengalah ataukah menyerah
Yang pasti bukan keduanya
Hanya, hirup saja kepedihan itu kerna satu saat kau pasti akan menghembuskannya
Harus bertahan!
Kerna hidup tak lebih singkat dari helaan nafas di pagi hari.


Joomlart