<< Cerpen Better Without You  >>

Better Without You

E-mail Cetak PDF
BETTER WITHOUT YOU
(Oleh: Dewi Palupi Sukmawardani) 

"Because your love was nothing but a game"
********

Suasana kelas begitu membosankan siang ini. Semua orang berceloteh mengenai hal – hal yang tidak berguna. Alva mendengus kesal, kakinya berjalan pelan meninggalkan kelas yang baginya kelewat berisik. Tidak ada yang menarik di kelas, tidak ada yang nyaman untuk dipandang dan diperhatikan. Karena sesuatu yang ‘indah’ itu sekarang sedang berada di atas atap sekolah. Berdiri di balik kabar pembatas dan memandangi awan di langit, atau hanya sekedar duduk dan terkadang tertidur.

Aku tak mengerti
Apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah

Begitu hebatnya

Alva tidak pernah tahan untuk tidak melihatnya barang sedetik pun. Terdengar berlebihan memang, tapi ia selalu merasa khawatir bila ‘dia’ tidak ada di dekatnya. Kaki – kaki jenjang Alva menaiki secepat mungkin anak tangga, berharap segera dapat melihat sosok indah itu. Saat tiba di atap, yang pertama terlihat adalah seorang gadis yang tengah tertidur. Rambutnya dibiarkan berantakan dan menutupi sebagian wajahnya, tangan kanannya ditekuk untuk dijadikan bantal. Dia terlihat sangat nyaman dengan posisi seperti itu.

Alva berjalan pelan mendekati gadis itu, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara yang mengganggu. Alva berhenti saat sepasang kakinya telah berada di depan tubuh si gadis. Ia hanya diam memandang secara seksama setiap inchi bagian tubuh sang gadis.

“Kau tidur lagi, Sharon?” tanya Alva dengan nada tenang, walaupun sebenarnya di mati – matian menahan getaran suara dan tubuh setiap kali berada di dekat Sharon. Gadis itu perlahan membuka matanya, menguap pelan, mengusap mata dan kemudian bangun.

“Kau mengangguku”, kata Sharon ketus dan kemudian dia berjalan mendekati pagar pembatas, memandangi awan. Alva mendekati Sharon, sekali lagi diperhatikan dengan seksama sosok gadis itu. Lama, sudah sangat lama ia memendam rasa yang ada di hatinya. Sebuah rasa yang menuntut untuk memilikinya seutuhnya. Sebuah rasa yang sungguh menyiksanya. Rasa ini memaksa Alva untuk merasa sakit ketika melihat Sharon terlalu dekat dengan Vincent, merasa hampa saat tidak dapat berjumpa dengannya, dan merasakan debar jantungnya menjadi lebih cepat saat dekat dengan sosok Sharon.

Tapi apakah Sharon merasakan hal yang sama dengannya atau malah sebaliknya? Alva tak pernah tahu. Ia ingin mencari tahu, tapi dia takut bila Sharon tak merasakan apa – apa padanya dan mungkin akan merusak pertemanan mereka.

Aku mencintaimu
Lebih dari yang kau tahu

Meski kau takkan pernah tahu

“Alva, apa kau pernah jatuh cinta?” tanya Sharon yang masih tidak mengalihkan pandangan dari langit. Alva tertegun sejenak, ‘Mungkin, ini saatnya..’ batin Alva.

“Ya, aku pernah merasakannya”

Sharon menoleh ke arah Alva. “Boleh kutahu bagaimana rasanya?”

“Rasanya sakit”, kata Alva sambil menggigit bibir bawahnya. Sharon memandang Alva dengan heran. “Apa maksudmu?”

“Sakit saat kau melihatnya bersama orang lain, sakit saat kau melihatnya terluka, hampa saat dia tidak ada dan debar jantungmu serasa bagaikan kuda yang tengah berlari kencang ketika kau berada didekatnya”, jelas Alva sambil menundukkan kepala, takut bila Sharon melihat semburat merah di kedua pipinya.

Sharon terkikik geli. “Aku juga seperti itu”

Alva kembali tertegun. ‘Siapa? Siapa yang berhasil menawan hatimu, Sharon? Apakah dia lebih baik dariku? Apakah kau dekat dengannya?’ Alva bertanya – tanya dalam hati. Sharon tersenyum dan kembali memandang awan.

“Vincent”, gumamnya pelan. “Dia berhasil membuatku merasakan semua hal yang baru saja kau katakan tadi. Dia begitu menawan, memikat, dan selalu berhasil membuatku tidak bisa jauh darinya”

DUUUAR

Seperti ada petir yang menggelegar di tepat di atas kepala Alva. Vi –Vincent? Kenapa bisa begini? Bukankah Vincent adalah sahabat Alva, dan Alva selalu menceritakan segalanya pada Vincent. Tapi kenapa bisa begini? Kenapa seorang sahabat tega memakan temannya sendiri?

Alva hanya bisa diam kali. Sakit. Itulah yang ia rasakan, hatinya terasa tertohok sebilah pedang. Sungguh, ia sangat benci dengan kenyataan yang ada. Dia tidak ikhlas dan tak akan pernah rela, bahkan bila yang memiliki Sharon adalah sahabatnya sendiri.

“Bisa kau bantu aku?”, tanya Sharon tanpa menyadari keadaan Alva saat ini.

“Ya. Aku bisa”, jawab Alva seraya melayangkan senyum palsu terbaiknya. Sharon menepuk pundak Alva. “Terima kasih”, bisiknya tepat di telinga Alva hingga membuat tubuh pemuda itu merinding sejenak.

“Emm –maaf aku harus kembali ke kelas”, kata Alva seraya menjauh dari Sharon. Dengan setengah berlari Alva meninggalkan Sharon sendirian. Dia harus pergi. Harus. Dia sudah tidak tahan berlama – lama di dekat Sharon. Karena rasanya semakin menyakitkan.

Oh, tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja

Alva berlari menuju kelas, tetapi saat tiba di pintu kelas dia hampir saja menabrak seseorang. “Maaf”, kata Alva pada orang yang juga teman sekelasnya, Hana. Gadis itu hanya tersenyum saja. Lalu Alva berjalan dengan gontai menuju bangkunya. Diliriknya bangku sebelahnya, bangku milik Vincent. Kosong. Sang empunya pasti masih di kantin.

‘Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Orang aku suka mencintai sahabatku sendiri. Apa yang harus kuperbuat? Jika aku tidak menyatukan mereka, Sharon akan membenciku. Tapi bila aku melakukannya, itu sama saja membunuh diriku sendiri.’ Batin Alva frustasi.

Dia harus segara menemukan jalan. Tak peduli bagaimana caranya, semuanya harus berhasil.

ξξξ

“Hana! Jadi kau sekarang pacaran dengan Alva?” tanya Ivy saat keduanya tengah makan di kantin. “Ya, begitulah”, Kata Hana seraya tersenyum bahagia. Ivy berdecak pelan. “Aneh, kalian kan dekat belum lama, kenapa cepat sekali jadian?”

“Apa menjalin cinta itu harus dengan pendekatan lama? Kurasa tidak, asalkan sudah cocok, ya jadi saja”, kata Hana enteng. Ivy menyeruput jus jeruk sudah tidak dingin lagi. “Terserah, tapi kuminta kau untuk hati – hati saja pada pangeranmu itu”, kata Ivy dengan menggunakan tekanan saat berkata ‘pangeranmu’.

Hana mengangkat sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”

Ivy mendesah pelan. “Berdasarkan rumor yang ada, Alva sepertinya masih menyukai Sharon”, kata Ivy sepelan mungkin. Hana langsung tersedak ketika mendengarnya, maklum saja saat Ivy berbicara dia sedang minum. “Sha –Sharon? Pacar Vincent maksudmu?”

Ivy mengangguk mantap. “Menurut romur, sebelum jadian denganmu, Alva itu dulunya sangat menyukai Sharon. Tapi sayangnya Sharon menyukai Vincent, sahabat Alva. Lalu Alva mencomblangkan Sharon dengan Vincent. Setelah keduanya jadian, tiba – tiba saja kau dan Alva pacaran, apa kau tidak merasa aneh?”

Hana menggigit bibir bawahnya. Haruskah ia percaya pada sahabatnya? Mungkinkah Ivy berbohong padanya? Tapi tidak mungkin Ivy sampai berbohong padanya, terlebih menyangkut hal sensitif semacam ini.

Aku percaya kamu
Melebihi apa yang orang katakan kepadaku
Aku percaya kamu
Tak peduli apa yang orang katakan tentang kamu

“Itu kan hanya rumor, Ivy. Lagipula aku percaya pada Alva. Jika Alva menyukai Sharon, untuk apa dia susah payah ‘menjodohkan’ Sharon dengan Vincent. Kalau menurutku, itu sama saja bunuh diri”, jelas Hana yang kemudian disusul tawa yang renyah.

Ivy mengeleng – gelengkan kepalanya menanggapi tingkah sahabatnya yang satu ini. “Tapi tolong jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu padamu. Aku sudah memperingatkanmu. Mengerti?”

Hana hanya mengangguk seraya tersenyum pada Ivy. “Siap, Komandan!”

Keduanya lalu melanjutkan aktivitas makan mereka.

‘Hanyalah sebuah rumor.’ Batin Hana mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Benarkah hanya sebuah rumor?

ξξξ

“Bagaimana dengan Sharon?” tanya Alva pada Vincent. Ini adalah jam istirahat, dan keduanya sering menghabiskan waktu di atas atap. Saling bercerita satu sama lain, dari hal terpenting hingga yang tidak berguna sekalipun.

“Baik – baik saja”, jawab Vincent santai, didongakkannya kepalanya menatap awan, sebuah kebiasaan yang mengingatkan Alva pada Sharon. Alva mendengus kesal. Jujur, hingga saat ini dia belum rela akan kenyataan Sharon bersama pemuda di sampingnya sekarang ini.

Vincent melirik sahabatnya sebentar, lalu kembali memfokuskan pandangan ke awan – awan di langit. “Lalu kau dengan Hana?”

“Juga baik”, jawab Alva datar.

Sebenarnya membicarakan soal pacar, bukanlah topik yang disukai Alva. Tapi entah mengapa hari ini dia ingin sekali membicarakan hal itu dengan sahabatnya. “Aku dengar, kau suka dengan Sharon. Apakah itu benar, Alva?” pertanyaan Vincent sukses membuat jantung Alva serasa berhenti berdetak.

“Ti –Tidak. Jika aku benar menyukainya, pasti sudah kutembak dari dulu kan?” sanggah Alva seraya memamerkan senyum palsu. Vincent tersenyum simpul. “Bagus kalau begitu”

Alva menundukkan kepalanya, seakan – akan sepatunya adalah hal sangat menarik untuk dilihat. Bohong. Sudah berapa kali dia berbohong tentang perasaanya. Berapa orang yang sudah dia bohongi selama ini. Sharon, Hana, Vincent, semua teman – temannya, begitu juga dengan perasaannya. Dia telah membohongi semuanya.

ξξξ

“Aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini”, kata Alva pada Hana.

Hana membelalakkan matanya. Pu –Putus? Tapi kenapa? Kenapa tiba – tiba sekali. Bukankah mereka masih baik – baik saja selama enam bulan ini?

“Kenapa, Alva? Bukankah kita baik – baik saja? Bukankah selama ini aku sudah sangat setia padamu! Apa yang salah denganku?!” kata Hana dengan suara bergetar. Alva tidak menjawab dia hanya diam saja seraya memandang langit senja.

‘Jangan – jangan, ini tentang Sharon?’ Batin Hana yang kini teringat akan perkataan Ivy tentang Alva dan Sharon. “Sharon. Iya kan, Alva? Ini pasti dia kan?”

Alva tertegun. Dia tidak menyangka jika Hana mengetahui hal itu. Tapi bagaimana pun juga, ia tidak boleh mengaku. Semua rencananya bisa gagal nantinya. Tapi Alva tetap diam, suaranya bagaikan tercekat di tenggorokan.

Akhirnya kini aku mengerti
Apa yang ada di pikiranmu selama ini
Kau hanya ingin permainkan perasaanku
Tak ada hati, tak ada cinta

“JAWAB AKU, ALVA! JAWAB! INI SEMUA PASTI KARENA SHARON, KAN?! IYA KAN?! JAWAB AKU, ALVA! JAWAB!”, teriak Hana. Sungguh, kali ini dia sudah tidak sanggup menahan gejolak emosi yang bergemuruh di dadanya.

Alva tidak berani memandang Hana. Pikirannya benar – benar kacau, ia tidak menyangka akan mendapat hujatan semacam ini dari Hana. Alva juga tidak habis pikir, jika Hana ternyata mengetahui rahasianya.

“Maafkan aku, Hana. Aku hanya merasa kita sudah tidak cocok lagi”, kata Alva dengan alasan basi, kemudian ia berjalan meninggal Hana di bawah langit senja yang terlihat sendu.

Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku

“Aku menyesal pernah mempercayaimu, Alva. Sangat menyesal”, bisik Hana pada dirinya sendiri. Sekarang, hanya sakit yang menemaninya di penghujung senja.

ξξξ

“Hana, sudahlah. Tidak ada gunanya mengenang pemuda kurang ajar itu. Lihatlah, Hana. Masih banyak orang yang menyayangimu. Banyak pemuda lain yang menunggumu di luar sana. Dan kuyakin lebih baik dari si Alva itu", kata Ivy menasehati sahabatnya. Hana tersenyum pada Ivy. Benar, tidak ada gunanya mengangis untuk pemuda semacam Alva. Tiada guna hidup dengan orang tidak tulus mencintai, memanfaatkan, pelampiasan dan permainan. Hidup tanpa orang seperti dia akan jauh lebih indah dan menyenangkan. Karena ‘kuman’ sudah pergi.

Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui

Beberapa hari setelah putus dari Hana, kelas kembali dikejutkan dengan berita Alva mendapat pacar baru! Sepertinya Alva sudah mendapatkan mainan baru. Hana benar – benar tidak habis pikir dengan makhluk yang satu itu. ‘Apa dia belum puas menyakitiku, lalu sekarang ingin melukai yang lain juga? Dasar iblis!’ Batin Hana marah. Benci, marah, dan sakit. Itulah yang Hana rasakan. Enam bulan bersama Alva, enam bulan ia setia. Dan balasannya berupa mawar berduri pedang. Tajam dan sangat menusuk.

It's Alright, it's OK
I'm so much better without you

I won't be sorry

Biarlah, dia bersenang – senang dengan dirinya sendiri. Mempermainkan orang lain hingga yang ia inginkan terpenuhi. Toh, hidup tanpa Alva akan jauh lebih menyenangkan. Bisa terbebas dari orang ‘kejam’ seperti itu adalah hal hebat. Paling tidak, Hana tidak akan memperpanjang waktu dia untuk dipermainkan. Because your love was nothing but a game.

No matter what you say
I wont return
Our bridge has burned down

I'm stronger now

Satu bulan. Hanya satu bulan. Well, sebuah waktu yang singkat untuk menjalin cinta –eh, tidak – tidak! Itu bukan menjalin cinta tapi menjalankan permainan. Sesuai dengan perkiraan Hana, Alva sudah pasti menjadikan gadis itu sebagai alatnya saja. Hanya untuk mendapatkan Sharon, dia sampai setega itu melukai dua gadis sekalipun! Sungguh sebuah ide yang brilian.

“Hana, kau tidak memikirkannya lagi kan?” tanya Ivy yang sukses membuyarkan lamunan Hana. Gadis itu menggeleng pelan. “Tidak ada gunanya memikirkan orang seperti dia. Hidupku sudah terasa indah tanpa dirinya, jadi untuk apa aku merusak keindahan itu?”

“Kau benar, Hana. Tidak perlu menyimpan kerikil dalam sepatu bukan? Sungguh mengganggu”, tambah Ivy.

Hana menyeringai senang. Baginya, sekarang Alva hanyalah kerikil dalam sepatu. Mengganggu, jadi untuk apa disimpan. Kalau sudah hilang malah lebih baik, kan?

“Kudengar Sharon dan Vincent akhir – akhir sudah tidak akur lagi”, kata Ivy seraya melempar pandangan ke jendela, memandangi langit biru.

“Tinggal tunggu saja tanggal mainnya”, kata Hana datar. Ivy menyeringai ke arah sahabatnya. Ya, tinggal tunggu kabar baru saja. Kabar ‘Sang Pemain’ yang akan mendapatkan ‘harta karunnya’.

Sesuai dugaan mereka berdua, selang beberapa lama terdengar kabar bahwa Sharon dan Alva sudah resmi menjadi sepasang kekasih. ‘Rencanamu berhasil Alva. Semuanya berhasil. Menjodohkan Sharon dengan Vincent, menipuku, menyakitiku, menjadikanku mainan, menggaet gadis lain, dan sekarang memacari Sharon. Sungguh brilian Alva, kau benar – benar jenius busuk!’ Batin Hana kembali berang.

“Sudah terjadi Hana. Apa kau merasa sakit?” bisik Ivy di telinga Hana.

“Tidak terlalu. Walaupun masih ada serpihan duri di dalam sana, namun aku masih bisa bisa mengobatinya dengan kebencian yang sudah kurajut, Ivy”

“Tenanglah, Hana. Tuhan pasti membalasnya untukmu. Percayalah”

Hana tersenyum simpul. ‘Semoga Tuhan membalasmu, Nak.’ Batin Hana terkikik geli.

Joomlart