OBITUARIKU DAN OBITUARIMU
Oleh: Dalasari Pera Belawa
(Diangkat dari sajak M AAN MANSYUR)
Aku sesungguhnya tak menyukai hujan, juga senja. Karenanyalah, enggan kukisahkan keduanya dalam masa lalu kita. Tetapi kita sungguh-sungguh tak bisa mengelak kehadiran hujan dan senja dalam novel kita yang tak tertuliskan itu. Nyaris dalam setiap bab, keduanya tiba-tiba hadir dan nyaris pula itu membuat aku memaki-maki Tuhan yang sepertinya sengaja mengirim mereka. Lalu, nyaris yang lain pun muncul. Kau nyaris kehilangan mata sipitmu menertawakan wajahku yang mati-matian mengusir setiap hujan yang datang bertamu di kala senja.
Tapi aneh sekali bagiku karena kau tak pernah menanyakan alasanku membenci hujan dan senja yang konon kabarnya dicintai banyak pencinta. Di tubuh hujanlah ada banyak cinta dan kerinduan. Di raga senja ada banyak kisah dan kasih. Bila dipadukan maka akan tercipta lukisan terindah dimana kanvasnya adalah mata sang pencinta itu sendiri. Bahkan sampai kau diboyong ke istana terakhirmu pun kau masih saja belum mengetahui alasan kebencianku.
Dua wanita yang sangat kucintai telah berhasil membuatku membenci senja dan hujan. Wanita pertama, harus berpisah dengan nyawanya ketika di suatu senja ia berjuang sendirian tanpa suaminya di tengah hujan deras untuk melahirkan bayi laki-laki, aku. Tidak seorang pun menolongnya karena teriakannya ditelan oleh hujan yang seenaknya berlarian dari beranda langit dan orang-orang pun telah menutup pintu bukan saja disebabkan oleh hujan tetapi juga oleh senja yang menjemput malam. Mereka selalu percaya bahwa ketika senja tiba, maka setan jahat pun berkeliaran. Tidak ada yang berani keluar rumah, terlebih anak-anak. Ah, aku juga membenci kampung itu. Bukan hanya senjanya saja.
Wanita kedua, tega meninggalkanku di suatu senja pula, setelah sehari sebelumnya orang tuanya menolak lamaranku karena aku pengangguran dan tak seiman. Lalu hujan pun turun dengan derasnya. Tidak pernah kusaksikan hujan sederas ini karena hujan itu jatuh dari dua langit, langit di mataku dan di matamu.
***
Aku tidak tahu lagi ini lukisan yang ke berapa yang telah kubuat di kanvas mataku sejak kau bertahun-tahun yang lalu pergi dan menikah dengan lelaki mapan di sebuah kota yang jauh. Selalu saja aku berharap bahwa kita akan bertemu kembali 1 kali sebelum senja menuntaskan pula lukisannya di usiaku dan saat bertemu nanti aku akan bercerita selama mungkin. Terutama akan kukisahkan kembali mimpi di masa kecilku; pemain biola, perancang busana, dan penulis obituary. Ingatanku tentang mimpi itu belum juga rabun termakan penanggalan hari semenjak kita kanak-kanak.
“Aku hanya ingin menjadi pemain biola. Atau jika tidak, menjadi perancang busana juga pastilah seru,” terdengar suara cekikikan yang kemudian menjadi tawa besar dari mulutmu.
“Kau lebih pantas jadi tukang badut saja. Tapi itupun akan membuatmu bangkrut karena tidak mampu membuat orang tertawa,” lalu kenapa ia tertawa lebih besar setelah mengucapkan kalimat ini?
“Baiklah, aku jadi penulis obituary saja,” matamu pun hilang karena menertawakanku.
***
Bertahun-tahun kita telah dipisahkan dan selama bertahun-tahun itu pula aku masih saja setia menjadikanmu ratu di setiap lukisan di mataku, semuanya bertema masa lalu. Entah apa yang telah kau lalui sejak kau berangkat dari senja perpisahan itu. Entah siapa pula yang telah mengantarkanmu masuk ke butik ‘Biola’ di suatu hari saat siang akan berganti sif dengan senja. Sengaja kuberi nama butik ‘Biola’ untuk mengabadikan kenanganku saat kau menertawakanku. Bukan karena sekarang ini aku memang begitu piawai memainkan biola. Ah, rupanya kita sudah berada di kota yang sama.
Aku tertegun memandangi wajahmu yang berjarak 3 meter di antara deretan rak-rak baju itu. Sungguh, begitu mudah kukenali wajahmu karena hatikulah yang sesungguhnya mengenalimu. Bukankah setiap hari aku melukismu, lalu bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Hanya saja mulai saat ini aku harus mengubah sedikit polesan wajahmu di kanvas itu. Beberapa kerutan telah menginap di wajahmu, entah sudah berapa lama. Sorot matamu pun mulai surut. Tetapi untungnya ginsulmu masih menjadi drakula yang cantik bagiku.
Begitulah, kemudian kau pun memilih sebuah gaun yang termahal di butik itu. Aku pun lalu sibuk berpikir keras saat melihat lau jatuh cinta pada gaun berwarna hitam itu. Apakah hatimu yang memilih gaun special itu? Gaun yang paling menyebalkan dan tidak tahu sopan santun yang pernah kudesain. Betapa tidak, berkali-kali gaun itu melukai jemariku saat aku membuatnya makanya harganya mahal. Sesungguhnya, hatiku dan hatimu masih saling mengenali. Mungkin itu yang mengantarkanmu kemari. Aku masih menikmati keceriaanmu dari jauh, di balik meja kasir, sesaat sebelum akhirnya kau benar-benar hadir di depanku dengan memakai gaun itu. Aku berdiri menyambutmu dengan senyuman terindah, berharap kau mengenaliku lalu kita akan bercerita selama mungkin. Tidak perlu kulukiskan perasaan yang meluap kala itu.
“Selamat menjelang senja, Nyonya…,” kuulurkan tanganku.
“Abraham.”
“Ah, ya. Nyonya Abraham,” aku baru ingat nama suaminya Abraham.
“Apakah nyonya ingin gaun ini kami bungkuskan?” tanyaku seramah mungkin. Tidak ada tanda-tanda dia mengenaliku.
“Tidak perlu. Aku buru-buru. Anda tahu betapa macetnnya kota ini,” ucapnya seraya tersenyum hambar. Lalu dikeluarkannya sejumlah uang untuk membayar. Harapanku semakin menipis.
“Baik, Nyonya. Jika berkenan, kami ingin meminta kartu nama Nyonya untuk kami daftarkan sebagai pelanggan di butik kami,” aku membohonginya. Sesungguhnya aku hanya ingin tahu alamatnya saja dan mungkin besok aku akan menemuinya serta membawakannya gaun yang banyak atau memainkan biolaku untuk mengantarnya tidur.
Lalu ia pun memberikan kartu namanya. Lega. Ia pun berlalu setelahnya dengan terburu-buru. Kunikmati sisa-sisa bau parfumnya di hadapanku seraya memejamkan mata. Tidak akan kusia-siakan buah kesabaranku selama bertahun-tahun. Kami telah dipertemukan kembali. Sungguh, Tuhan mendengar doaku.
“Ya Allah…,” teriakan SPGku mengejutkanku. Kuikuti arah pandangannya. Di luar butikku, orang-orang sedang ramai berkerumun seolah sedang menyambut datangnya senja mendung itu. Akan turun hujan tampaknya. Hei, senja dan hujan?
***
Besoknya, butik ‘Biola ditutup. Pemilik butik itu memilih racun serangga di kamarnya sebagai minuman terakhirnya. Di balik kartu nama Ny. Abraham tertulis dengan jelas “Aku membenci senja dan hujan yang membawamu pergi (lagi)”. Sementara, di sebuah Koran local, 2 buah obituary tercetak berdampingan serupa sepasang pengantin. Obituary Ny. Abraham dituliskan oleh pemilik butik ‘Biola’, sedangkan obituarinya sendiri entah siapa yang menuliskannya.
Belawa, 01082010
SAJAK M. AAN MANSYUR
dari buku ‘CINTA YANG MARAH’
#1
JIKA KAU TERPAKSA BERPISAH DENGAN AKU
ATAU KAU MENINGGALKAN JANJI
DAN MENINGGALKAN AKU,
MUNGKIN DENGAN SESEORANG LAIN KAU MENIKAH
KEMUDIAN KE SEBUAH KOTA JAUH KAU PINDAH
MENGIKUTI SUAMI KAU YANG BEKERJA DI SANA
sungguh-sungguh, seluruh sisa usia yang aku punya habis
hanya buat menyatakan mimpi masa kecil aku; pemain
biola, perancang busana dan penulis obituary. ketiganya
selalu kau namai lelucon yang tidak mampu membuat
seorang pun di dunia tertawa, termasuk diri kau (meski
setiap usai mengatakan itu kau sakit perut tertawa)
kalender atau waktu atau apapun namanya akan
menjerumuskan kau jadi renta dan lupa pada ciuman yang
aku dan kau curi di toilet mesjid, sebuah es krim yang aku
dan kau jilat bergantian dan bahkan nama aku yang
hurufnya hanya sedikit
aku terus menggesek senar biola atau mengawinkan
benang dan kain atau mengata-ngatai kematian dan sebab
itu seluruh kau masih jelas bahkan huruf terakhir yang kau
sebut kali pertama menjanjikan kesetiaan
suatu kala kelak kau tak akan pernah tahu pakaian yang
kau kenakan dijemput maut pernah membuat jemari aku
tertusuk mata jarum berkali-kali saat menjahitnya
suara biola yang mengantar mayat kau ke pemakaman;
tangis aku
juga tentu saja aku menuliskan obituary singkat untuk kau
yang dimuat di Koran persis di samping obituary aku
sendiri
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
OBITUARIKU dan OBITUARIMU





































