AKU HARUS PULANG
Oleh: Riris Raden
Hujan ketika aku memasuki rumah itu, tidak deras namun cuaca amat gelap beberapa kilat , guruh dan guntur kerap hadir. Aku duduk di kursi sudut berukir di teras, mendekap tubuh menghangat sendiri. Sudut ruang Palm dalam pot hitam nampak pucat. Hujan terus nyaris tanpa henti, rokok di tangan Abi juga nyaris henti. Asapnya mengepul memenuhi ruangan, aku tak lagi bisa mengenali sejak kapan Abi gemar merokok. Yang kutahu pasti sejak aku turun dari taksi lantas membuka pintu gerbang rumahnya, aku sudah melihat Abi menyambutku dengan rokok di tangan dan bibir nyaris tanpa senyuman.
“Selepas maghrib aku ada acara”, ia berkata datar
“Aku ngerti”
“Kamu seharusnya tidak datang kemari” Aku diam, hanya ada suara hujan, beberapa kilat , guruh dan guntur kerap hadir. Tatapku tajam. Celana jeans dengan T Shirt putih, laki laki itu duduk diam pandangi hujan.
“Aku hanya ingin tahu kebenaran kabar itu” Batang rokok sisa dimasukkan asbak, wajahnya tetap datar tanpa rasa. Pipinya bersih, janggut sedikit rambut jatuh menggantung. Tangannya kekar dibalut jam tangan bermerek. Itu hadiah ulang tahun dariku setahun yang lalu. Bergerak, beringsut, menutup jam tangan dengan telapak tangannya.
“Aku mendengar semuanya, namun aku tetap berharap kabar itu tidak benar”
Dia berdiri menyulut rokok kembali, namun kemudian membuangnya ke tengah hujan. Wajah datar tanpa rasa, pandangi hujan hati sunyi tanpa rasa.
“Kabar itu benar” Tiba tiba ia memandangku. Matanya teduh, aku tak percaya apa yang diucapkannya. Pandangku memohon. Laki laki dengan celana jeans dan T shirt putih itu menatapku. Abi, kamu lakukan ini padaku. Duh Gusti sakit hatiku….. Dalam hujan, teras serasa remang. Beberapa butir air hujan menendang nendang tubuhku. Tatapku tajam namun sesaat meredup, gemetar tubuhku hamper roboh
“Kenapa?” aku hampir menangis
“Jangan tanya kenapa”, datar tanpa perasaan.
“Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku yang kamu pacari empat tahun, hanya untuk menikahi gadis yang baru kamu kenal empat bulan. Aku tak menyangka kamu bisa lakukan itu padaku? Cukup. Aku sudah tau jawabnya. Rasanya tak ada guna di nini berlama lama”. Aku mengambil tas di kursi, secepat itu aku ingin meninggalkan teras , menembus deras hujan, angin dan petir. Tak ada yang menyakitkanku kecuali penghianatan. Tiba tiba tangan kekar itu menarikku ke teras, memelukku dengan pelukan yang hangat, Kerinduanku melolong ke masa silam, ku tak sanggup menghentikan cinta. Kusurukkan kepalaku di dada bidangnya, rambut panjangku menjuntai memenuhi tubuhnya, aku mengenali pelukan ini, namun sesaat tersadar. Kulepas kuat pelukan, aku meronta menuju halaman untuk pulang namun ia kembali memeluku sangat kuat.
“Hari hujan, kamu jangan pulang. Kamu bisa sakit”
“Apa pedulimu tentang sakitku?”
“Jika kamu kena hujan, pasti malam harinya demam”
“Bagaimana kamu peduli demam tubuhku? Tapi hatiku tak kamu pahami. hatiku sakit, dadaku luka. Tempat ini telah menjadi kuburan bagiku, menjadi neraka dalam hidupku. Aku mohon biarkan aku pulang” Isakku di tengah hujan.
“Jangan, Rin. Aku tidak mau kamu sakit” Aku meronta dengan tangis yang tak bisa kutahan. Hari masih hujan, masih ada kilat petir, guruh dan guntur yang nyaris tanpa henti.
“Hatiku sakit, Bi…… sakit” Laki laki itu melepaskan pelukannya berteriak sekeras kerasnya memecah gemuruh hujan, Tangannya mengepal meninju diding. Tas panjangku tersangkut tangan , terbuka, terbalik, isinya jatuh berceceran. Kupunguti satu satu basah oleh air mataku. Tissue, kaca mata, dompet, uang, photo, buku, syal biru. Syal biru itu. Satu satu kumasukkan dalam tasku. Laki laki itu duduk di hadapanku, tanpa kupandangi, hatiku teramat sakit. Tiba di syal biru ia meraih tanganku, meletakkannya di dada bidangnya.
“Kamu masih menyimpan semua dariku?”
“Semuanya”
“Buang saja! Tak ada artinya buatmu”
“Kenapa tak kamu buang jam tangan dariku?” Diam. Digenggamnya jam tangan itu. Mendekapnya dalam dada, lantas melepaskan dan meletakkan di atas meja.
“Kamu bias membuangnya. Tapi semua yang darimu aku akan simpan, benda itu, hati itu, juga penghianatan itu. Aku akan menyimpannya sepanjang hidupku”
“Kenapa?” Menangis aku,menunduk, memungut.
“Kenapa, tanyamu?…… semua berarti bagiku. Katamu aku perempuan baik yang kamu butuhkan. Perempuan cerdas yang kamu inginkan. Satu satunya perempuan yang kamu impikan. Empat tahun memelihara cinta dan kesetiaan tapi kamu menghianatiku” Satu persatu barang barang itu masuk dalam tasku. Kutarik resleting menutup. Pipiku tentu lebih basah dibanding halaman rumah itu. Airmataku tentu lebih deras dari hujan sore itu. Guruh, guntur, kilat yang pasti kalah dasyat dibanding suara hatiku. Memeluk tas berdiri di pinggiran teras. Laki laki berdiri agak jauh tanpa memandangku.
“Kamu masih percaya dongeng cinta sejati yang sering kamu ceritakan dulu?”
“Setidaknya aku belajar untuk setia”
“Itu mimpi. Picisan. Kesetiaan itu hanya untuk orang yang tidak punya pilihan”
“Setia pada pilihan itu perkara moral”
“Dan kamu akan menganggapku tidak bermoral” Ia menghela nafas panjang,disulutnya rokok kembali, dihembuskannya kuat kuat. Malam bergerak, pekat, ia nyalakan lampu teras. Kulihat wajahnya sesaat, hujan tetap turun deras membasahi halaman, kilat, petir silih berganti. Aku seperti tinggal di pulau asing tidak seperti berada di rumah yang dulu kuakrabi
“ Rin” , suaranya mendadak lembut, berjalan ke arahku. Aku mengenal sekali mata indah itu, alis tebal dan beberapa rambut menggantung di dagunya. Menelusur setiap leku lekok wajahnya, kerinduanku bagai menghunjam. Aku berharap banyak, ia meralat semua yang diucapkan, lantas memelukku, mengajakku menikah seperti saat hendak berangkat ke Adelaide. Aku ingin mendengarkannya sekali lagi.
“Kamu akan menikahi gadis itu?”, Suaraku tertahan di tenggorokan. Sekali lagi aku membutuhkan kepastian.
“Siapa sebenarnya yang bisa mengendalikan rasa cinta. Seminggu setelah bertemu, mendadak aku begitu membutuhkan gadis itu, aku senantiasa merindukannya” Berpeluk tiang aku menangis seenggukan, tak membanyangkan ia sanggup mengucapkan padaku.
“Lalu?”
“Aku aku jatuh cinta padanya, menggebu nggebu tanpa bisa kukendalikan. Aku selalu ingin bersamanya, sangat ingin menikahinya. Perasaan itu mengalir begitu saja, cepat, tanpa bisa kuarahkan, apalagi kutahankan. Maafkan aku, Rin. kepadamu yang tersisa hanya cinta persahabatan, penghormatan serta perasaan bersalah yang amat dalam. Maafkan aku, Rin”
“Abi”, suaraku tertahan di tenggorokan. Lemas tubuhku bagai daging tanpa tulang, bagai baju tanpa tubuh. Terduduk di kursi. Memeluk tas pandangi hujan, kakiku terasa dingin, tanganku, hatiku…..Sejak kedatanganku, aku sudah menduga tak kan ada perbaikan ikatan yang ada hanya sebuah kejelasan, berkali kali hendak kutipu diri, tapi yang ada semakin nyata
“Aku jatuh cinta pada saat yang tidak tepat”
“Dan kamu anggap itu itu benar. Kamu melupakan bagaimana dua keluarga bertemu membicarakan waktu perkawinan dan menganggap kecil kesepakatan itu”
“Hanya sebuah pertunangan bukan perkawinan”
“Kelak jika kamu sudah menikah dan tiba tiba jatuh cinta lagi, kamu juga akan meninggalkan istrimu dengan menyisahkan cinta persahabatan dan penghormatan? Dan alasanmu akan sama, Aku jatuh cinta pada saat yang tidak tepat. Alangkah malangnya istrimu”, aku terbata bata Satu satu air mata jatuh, kuusap dengan ujung sweaterku. Laki laki itu mengulurkan sapu tangan tapi aku tak lagi membutuhkan. Aku tercampakkkan dengan alasan yang mengerikan, dan aku hanya bisa membalas dengan mencampakkan sapu tangan. Malam semakin malam. Hujan mulai reda, tapi hujan deras, kilat dan petir masih menyambar nyambar di dadaku. Bangkit dari kursi, memeluk tas dalam dadaku, erat.
“Terima kasih semuanya”, ujarku lirih lantas beranjak pergi. Tangan kekar itu kembali meraih tubuhku, tak ada yang kutolak. Tapi tak lagi terasa hangat. Dingin, melebihi angin malam yang menusuk nusuk pori poriku. Peluk tubuhku, tak ada rasa dalam dadaku. Seperti bersandar batang pisang mati hampa tanpa nyawa. Atau bahkan aku merasa tak berpeluk dengan siapa siapa.
“Untuk apa?”, menatapku, matanya redup.
“Kejujuranmu” Perlahan lepas tubuhku
“Katakan sesuatu padaku!”, tatap matanya tajam menghunjamku Lidahku betul kaku. Air mata itu satu satu mengalir lebih deras dari hujan malam itu. Sedih dan marah. Marah dan sedih. Pelukan bener bener terlepas. Gemetar kuturuni halaman yang penuh genangan air. Hujan itu membasahi tubuhku, tapi siapa yang peduli, tidak dia juga diriku. Sesekali kuhapus wajahku dengan ujung mantelku. Di depan pagar aku menoleh ke belakang menyaksikan terakhir rumah mantan calon suamiku. Besar dan rindang. Di sini aku pernah merajut masa depan dan menabur harapan. Kini rumah itu senyap, remang remang. Abi, Laki laki itu tetap pandangi aku dalam remang malam entah apa yang dipikirkan. Puas atau penyesalan tapi aku tak pedulikan. Kakiku tetap melangkah ke depan Malam amat malam. Malam amat kelam. Tapi aku harus pulang.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Aku Harus Pulang















![[cHraS diNi SabeWa]](/images/comprofiler/tn261_470c7b982f024.jpg)























