<< Cerpen PUNTUNG ROKOK  >>

PUNTUNG ROKOK

E-mail Cetak PDF

PUNTUNG ROKOK
Oleh: Bly

 

Asap mengepul, meninggi naik, terluncur dari bibir tebal bercampur dengan angin yang berdebu. Semakin membuat bau yang tidak sehat, meneror ,mengangu. 

"Mas tolong donk rokoknya dimatikan". Ujar seorang wanita dengan memelas sambil menyapukan tangan ke udara guna mengusir asap rokok.

"Halah mbak baru di sumet masak dimatikan ,sekerang harga rokok kan mahal" Bantahnya.

."Dasar rokoholic, ini tempat umum tahu, kalo mau merokok jangan di sini"

"Tapi mana yang tidak tempat umum mbak, semua udara yang dicemari rokok itu kan tempat umum"

"Rokoholic memang tak mau mengalah soal rokok" Ujarnya dengan sewot sambil melangkahkan 10,000 langkah.

Lelaki itu tersenyum lebar tanpa suara menandakan kemenangan atau kepuasan.

Saat hatinya sedang bergembira,, kupingnya menangkap suara teriakan orang banyak.

"Ada mobil nabrak pagar pembatas jalan"

**** 

Lelaki tersebut adalah pemuda usia 20 tahunan, memulai rmerokok bareng dengan bisa cebok, mulai belajar merokok dengan batuk-batuk sebelum mengerti cara  menyalakan korek. Selalu menghabiskan jatah rokok 10 rokoholic kelas teri satu hari, selama separuhnya.

Di malam yang mendung menutupi bintang angkasa yang berkilau, udara malam yang dingin menusuki kulit yang diselimuti jaket. Pemuda itu melangkah ke warung kopi pinggir jalan yang Cuma ditutupi spanduk merk rokok terkenal di bagian depannya.

Dari cahaya di dalam warung dilihatnya dua orang duduk bersandingan yang dikenalinya sebagai temannya ngopi.

"Ji bawakan kopi" Teriaknya kepemilik warung.

"He Munfarid baru kapan kau tak menyedot rokok lagi?"

"Kenapa kau Tanya seperti itu!"

"Habis aku tak melihat kau mengapit rokok di jarimu!"

"Masihlah makanya kakiku melangkah kemari untuk mencari teman merokok " Sahut Munfarid.

"He teman,kopine kalian habis,mau kubelikan lagi?"

"Tak usah lah belikan rokok saja untuk buat semalam begadang" Sahut Surya temannya.

"Oke masing-masing satu bungkus " Ucapnya sambil berjalan untuk mengambil sendiri dua bungkus rokok yang dipajang seperti garis equator diatas sepotong kayu dengan penopang besi.

"Ni," di lemparnya dua bungkus rokok di muka temannya.

"Alhamdulillah aku dapat ratu {ora tuku}" Sahut Rodi.

"Ada kejadian menarik apa siang hari kalian tadi?" Tanya Munfarid.

"Oh iya tadi jam 2siang,pas gue naik bis kota ada mobil nabrak pagar pembatas jalan" Jawab Rodi. 

"Lo, kamu tahu kukira Cuma aku yang tahu diantara kita" Heran Munfarid.

"Kukira penyebabnya gara-gara pengemudinya hendak menyumet rokok, terus koreknya tergelincir jatuh ke karpet mobil, lalu dia membungkuk guna mengambil korek, pas dia kembali duduk tanpa disadari ternyata dia menerjang lampu merah; sehingga ada sepeda motor dari jalur samping melintas," Munfarid menghentikan sejenak kata-katanya untuk nyumet rokok dan ambil nafas karena ucapanya tadi dengan nada cepat.

"Pengemudi mobil itu membanting setir untuk menghindari menabrak sepeda motor,ah engak sadar malah dia yang terkena ciloko,seandainya setir tak dibanting dia mungkin selamat"

"Iya selamat,tapi pengemudi motorlah yang mungkin celaka" Bantah Surya.

"Pilihan berbuat baik terkadang harus dibayar dengan pengorbanan" Tambahnya.

"Aku rasa yang bersalah memang pengemudi mobil itu,jadi pas kalo dia yang ciloko" Ucap Rodi.

"He, kau tahu darimana penyebab kecelakaan itu?" Tanyanya heran. 

"Dari puntung rokok yang masih nyantol di mulutnya"Jawab Munfarid. 

*****

Jarum kecil jam warna hitam terus merangkak dari angka 10 dan terus merangkak lagi. Kesunyian malam semakin lelap sehingga suara kereta melintas dari stasiun yang berjarak 2 kilometer terasa nyaring.

Percakapan Munfarid dan kedua temanya telah melewati satu topic ke topic lain, tema satu ke tema lain.

Abu rokok yang tercecer di asbak telah mengunung puntungnya terserak berceceran di asbaknya,menindih-nindih.

Tiba-tiba hand phone Munfarid bergetar, tampaknya ada sms dari nomer yang sudah di kenalnya, nomer hp mamanya.Tanpa memberi tahu temannya apa isi sms tersebut Munfarid langsung pamit untuk pulang.

Jalanan yang mulai hening tanpa bunyi klakson,menemani Munfarid yang sedang berjalan mengapit batang rokok yang ujungnya menyala warna merah.ketika di hirup nyala warna merahnya membuat nyala putih lampu yang temaram di pingir jalan tercemari.

Sambil menyebrang dengan santai dimainkanya rokok itu menari-nari memutari jari-jari tangan kanan,tanpa disengajanya barang panas ujung atas rokok itu menyentuh jempol munfarid, refleks tangan langsung melempar batang rokok yang tadi menari indah,jatuh tergeletak di tengah jalan yang beraspal.

Munfarid membungkuk untuk meraih kembali rokoknya,saat tegak berdiri dikagetkanlah dia oleh sinar lampu mobil yang melesat cepat.

Sedetik kemudian,badan Munfarid tergeletak di jalan,darah dari tubuhnya membanjir,sinar matanya yang terakhir menatap puntung rokok yang telah menggigit tanganya.

Imajinasi Munfarid terbayang sosok mamanya. 

"Mama,maafkan Farid saat esok mama ziaroh kuburan ayah,mama juga akan melihat kuburanku berada di sisi kuburan ayah,hidup perokok hanya menunda kekalahan dari rokok"ه

 

TAMAT 

BY BALIYAN

Tangal 4 jul 2010

 

Joomlart