<< Cerpen Menikahlah Denganku  >>

Menikahlah Denganku

E-mail Cetak PDF

MENIKAHLAH DENGANKU
Oleh: Riris Raden

 

 

Aku, trembesi dan cinta

            Bawah trembesi aku menunggu. Seperti biasa, usai latihan aku menjinjing biola menuju taman. Berdiri di bawah trembesi rindang dengan sayap sepuluh meter, tegak kokoh, memainkan biola, mataku tatap seberang jalan, kampus berdiri dengan kokoh pula. Beberapa mahasiswa berhamburan keluar, Seorang laki  laki gagah, rambut rapi , berdasi dengan tas di tangan berjalan agak tergesa menyeberang jalan lantas berdiri di depanku. Menatapku sejenak lantas tersenyum manis. Menikmati senja.

            “Lama?”, Mas Tom bertanya

            “Sangat”

            Riang aku. Duduk di kursi taman sore hari. Suasana lengang.  beberapa anak bermain kejaran tak lepas dari pandangan. Duduk jarak secenti, tak ada sentuhan pahadal sungguh aku sangat ingin menikmati

            “Setiap jam kantor berakhir rasanya aku ingin cepat cepat mendengar suara biolamu”

            “Mas Tom sudah mendengar setiap sore”

            Kembali aku berdiri, memainkan biola, rok panjangku dihembus angin. Aku mainkan biola dengan rasa dan mas Tom menikmatinya. Senyum senyum kecil. Mataku ke gedung kesenian seberang jalan. Aku seperti bermain di panggung besar dengan ratusan penonton dan mas Tom salah satunya.

            “Ini salah satu lagu yang kumainkan untuk konser bulan depan”

“Bagus, aku menikmatinya”

“Mas Tom datang kan?”

            Mas Tom hanya tersenyum. Biola dalam pangkuan ku mainkan dengan nada tidak beraturan. Trembesi lebar dengan  sayap sepuluh meter serasa dingin. Beberapa anak kecil  bermain bola, tendang bola, meluncur di bawah kakiku. Mas Tom memungut dan menendangnya, anak anak riang menyambutnya.

            Mas Tom berdiri melangkah dan aku mengikuti begitu saja. Duduk berdua di pinggir air mancur taman kota. Beberapa anak berlarian, lucu, tingkahnya menggemaskan. Beberapa ibu hanya duduk di bangku taman, ada yang berbincang, ada yang membaca, ada pula yang cermat mengawasi anak anak mereka.

            Bermain main dengan air kolam, tanganku mulai basah.

“Aku dapat beasiswa ke Leiden”         

            Aku diam. Pandangi wajah mas Tom yang teduh. Wajahnya putih bersih. Lama aku pandangi rasanya aku ingin menangis, mataku mulai basah, sepertinya aku benar benar telah menangis, ketakutan akan perpisahan datang mendesak desak. Mas Tom mengulurkan sapu tangan, aku pungut, kusentuh tetes air mata perlahan.

 “Kenapa menangis?”

“Aku tidak tau”

“sungguh?”

“Sepertinya aku takut berpisah”

            “Menikahlah denganku!”

Kupandangi wajah mas Tom. Putih bersih, janggutnya sedikit berambut indah menggantung.  duduk di sebelah tanpa melirikku.  Pohon palm berjejer, air mancur mengalir indah, percikan air menghentak hentak sentuh tubuh.  Duduk di kursi taman, deretan bunga lamtana merah kuning ungu bergoyang menyentuh kaki, tapi mas Tom  membiarkan tubuhku sendiri. Dan itu sangat aku fahami.

            “Bagaimana pendapatmu?”

            Aku diam. Ada permainan biola dalam hatiku, indah dan dasyat.

            “Aku memilihmu untuk menemaniku”.

            Aku tak tau jawabku, tapi sungguh aku kenali hatiku. Mas Tom adalah sesuatu yang baru yang tak perna kudapat dari rumah. Bersamanya aku merasa hidupku bernilai, hampir tak ada waktu yang tersisa terbuang percuma. Menghabiskan bersama bermain musik, ke perpustakaan, mengerjakan soal soal fisika, menangkar burung perkutut, banyak hal. Sungguh mas Tom begitu berartinya buatku

            Pohon trembesi tegak berdiri. Biola di pangkuan kumainkan dengan nada tak beraturan. Anak anak kecil bermain, berlompatan. Dalam dadaku, ada permainan, berlaompatan sepertinya tanpa akhir.

            “Mama pasti tidak setuju”

            “Aku tau”

            “Aku baru kelas tiga SMA”

            “Apa salahnya menikah muda”

            “Itu lebih terhormat dari zina”

            “Menghindari zina mata, zina hati”

            “Beri aku waktu, Mas!”

            “Aku sudah bekerja. Aku sanggup memberi nafkah. Kalau tidak, tentu aku tak akan putuskan untuk  menikah dan kutahan dengan puasa”

            “Aku merasa dihargai karena dipilih”

            “Karena kamu ideal, baik dan pintar”

            Suaranya halus agak sengau, pandangnya lurus ke depan. Beberapa daun palm bergerak gerak. Aku pandangi mas Tom. Matanya teduh menatap pepohonan di halaman. Lantas lama terdiam. Menikmati hati. Duduk berdua tanpa sentuhan, aku menikmati cinta dalam hitung jutaan. Duh Mas Tom…………..

           

           

Restu

            Malam mama baru datang. Hanya sebentar masuk kamar dan sedikit berbincang kemudian kembali memasuki ruang kerja. Segelas susu hangat aku antar mama menyambut dengan mencium pipiku. Hampir satu jam aku tunggui mama sambil membaca beberapa buku dan seperti biasa mama nyaris tak peduli lagi kehadiranku.

            “Ma, aku mau menikah. Aku harap mama mau merestui”, kataku tiba tiba.

            Mama menoleh, agak terbelalak.

            “Kamu hamil?”, Marah yang ditahan, “Kenapa kamu tidak hati hati?”

            “Aku tidak hamil”

            “Lalu………..”

            “Aku hanya ingin menikah”

            “Kamu takut hamil?”

            “Tidak”

            “lalu?”

            Aku diam, aku tidak tau mengapa aku ingin menikah yang kutau aku hanya ingin menikah. Keinginan yang begitu tiba tiba. Keinginan yang tak perna kuinginkan sebelumnya. Mas Tom datang dan memunculkan keinginan itu tiba tiba.

            Mama sepertinya marah., tatap mata tajam

            “Kamu sudah tidak…..?”

            “Aku tidak perna melakukan, bahkan bersentuhanpun tidak perna ”

            “Lalu kenapa menikah?\"

            Aku pandangi mama. Rambutnya pendek pirang dengan kacamata. Cantik sekali. Tapi tatapan mata mama tajam menusukku. Sejenak kemudian tersenyum. mengambil sebatang rokok, menyulutnya, menghisap, menghembusnya kuat kuat. Sepertinya kesal.

            “Mas Tom mengajak menikah dan aku setuju”

            “Aku tak perna melihatnya. Dia pacarmu?”

            “Aku tidak tau”

            “Gila. Orang macam apa dia”

            “Dosen, orangnya baik, menemani aku main biola tiap sore di taman ketika aku pulang latihan. Sering mengajakku ke perpustakaan, dia pintar, banyak buku yang dia hasilkan. Dia dapat beasiswa ke Leiden, mau menikahiku dan membawaku ke sana”

            “Dia memelihara jenggot?”

            “Tidak”

            “Celana di atas mata kaki?”

            “Tidak”

            “Dia mencuci otakmu”

            “Menikah dini itu tidak salah, jika bukan dosa alasannya”

            “Tapi secara mental  dan ekonomi kamu belum siap. Organ reproduksimu belum siap. Dan lagi menikah usia muda itu rentan kanker kandungan dan perceraian”

            “Aku  yakin tidak akan seperti mama”

            Mama diam, matanya tajam. Ia marah. Sungguh tak ingin membangkitkan luka . Hanya saja, tak bisa hilang begitu saja pertengkaran hebat, suara keras menghentak  memaksaku terbangun. Tak ada yang bisa kusaksikan kecuali mendengar mama menangis. Lantas pintu terbanting dengan keras dan aku tak perna membayangkan itu adalah yang terakhir aku bertemu papa.

            “Kamu tidak tau bagaimana laki laki. Setidaknya kamu tidak mengulang cerita mama. Menyakitkan”

            “Aku kenal baik mas Tom”

            “Tak penting sebaik apapun mas Tom. Bagimamapun kamu harus sekolah, kuliah dan bekerja”

            “Tugas perempuan di rumah, mendidik dan membesarkan anak. Tugas mencari nafkah itu laki laki. Jika ada anak yang kelaparan bapaklah yang paling berdosa, tapi jika anak rusak moral ibulah yang paling berdosa”

            “Perempuan harus mandiri, jika tidak? Kelak jika dia meninggalkanmu, kau akan gila karenanya. Tapi jika bekerja dan penghasilan tinggi, persetan dengan laki laki, Kau punya nilai tawar tinggi dan itu yang membuatmu sangat dihargai”

            “Kesimpulannya, Ma?”

            “Kau boleh pacaran, kau… boleh….apapun”

            “Aku ngerti”

            “Tapi tidak untuk menikah di usia muda. Yang penting kuliah lalu kerja”

            “Kalau aku tetap melakukannya?”

            “Mama yakin, kamu tidak perna punya niat untuk durhaka. Mama sangat mengenalmu”

            Hanya itu. Mama meninggalkan aku sendiri dengan marah. Aku masih menangkap dengan jelas punggungnya tertelan daun pintu. Sedih aku. Tak ingin sekalipun aku bertengkar dengan mama meskipun aku selalu beda pendapat. Mungkin karena aku dan mama hanya terpaut tujuh belas tahun itu yang selalu membuat beda pendapat. Kata bibi, mama tak siap menjadi ibu ketika aku lahir. Kata bibi pula aku terlahir tiga bulan setelah pernikahan. Dan kata bibi, selanjutnya kata bibi… selalu kata bibi, aku merasa bosan dengan kata bibi. Bertahun tahun sampai kemudian aku mengenal mas Tom. Mulailah aku berpikir dan bertindak dengan cara mas Tom. Apa aku salah?

 

Maafkan

            Sore hari, di bawah trembesi, seperti biasa usai latihan di gedung kesenian, aku menjinjing biola menyeberang jalan, lantas berdiri dibawah trembesi, memainkan biola, setengah berharap laki laki keluar dari kampus, rapi dan berdasi, berjalan agak tergesa untuk menghampiriku. Aku tahu, hamper dua minggu itu tak terjadi, mas Tom seperti menghilang begitu saja, dan akupun diam dalam pasrah tak hendak menghubungi kecuali menanti bawah trembesi memainkan lagu cinta dengan biola.

            Kumainkan biolaku, lagu manis menyentuh. Kali ini ketika lagu selesei, aku melihat mas Tom sudah berdiri di depanku. Tubuhnya gagah, rambutnya rapi, senyum manis, handycam rapat tergenggam di tangan.

            “Aku bayangkan konser nanti, orang akan bertepuk tangan panjang hanya untuk mengagumimu”

            “Terima kasih, mas”

            “Aku selalu merekamnya, besok saat konser mungkin aku nggak bisa datang”

            “Jadi berangkat?”

            “Lusa aku sudah harus di Jakarta”

            “Dan kita tidak akan bertemu lagi”

            Aku menatap, nyaris menangis. Bahkan aku sudah menangis.

            Duduk berdua bawah trembesi. Duduk berjarak secenti, baru sekali Mas Tom menyentuh jariku, rasanya menyergap seluruh aliran darahku. Ia menyentuh hanya ujung jari, kutahan hatiku untuk ingin lebih.

            “Maafkan aku, tapi sungguh aku ingin menikah denganmu”

            “Bawa aku pergi, Mas”

            “Aku tak mungkin menikahimu tanpa restu”

            “Bagaimana kamu tau?”

            “Mama kamu datang ke kampus, menyampaikan keberatan dan aku bisa memahami. Aku menghormati mamamu”

            “Kemudian mama melarangmu menemuiku, dan akhirnya kamu membiarkan aku menunggu setiap sore tanpa kabar yang pasti. Menghormati mamaku tapi menyiksaku, mas”

            “Aku selalu datang, merekammu. Setidaknya ada yang bisa kukenang darimu”

            “Lalu? Kita akan berpisah begitu saja. Dan kau akan menemukan penggantiku”

            “Tentu tidak semudah itu”

            “Dan kau akan berkata jika jodoh kita pasti bertemu”

            “Tuhan memegang seluruh hidup kita, termasuk jodoh di dalamnya. Dan kalau Tuhan berkenan kelak kita akan dipertemukan. Kepada siapa kita berharap selain kepada Tuhan”

            “Dan Sekarang?”

            “Belajar menahan diri”

            Mas Tom mengulurkan sapu tangan, ku sentuh pipiku, sapu tangan itu terasa hangat mewakili tangan mas Tom yang kuharap mau menyentuhku. Sangat sedih besok tak ada lagi yang menemaniku main biola di bawah trembesi, tentu semua akan serasa sepi bahkan mati.

            Sedih rasanya berpisah. Sungguh aku benar benar siap menikah. Berpisah dengan mas Tom tak terbayangkan betapa sakitnya. Sore itu juga aku kembali  ke gedung kesenian. Beberapa temanku masih berlatih. Konser sebentar lagi, aku bayangkan betapa manisnya aku  berdiri di pangung itu, memakai rok putih panjang dengan mahkota bunga di rambut. Akan kumainkan lagu paling indah, dan mas Tom akan duduk di deretan penonton lantas tepuk tangan panjang.

            Sepanjang malam aku duduk berpeluk biola. Beberapa teman mulai beranjak pulang. Beberapa orang masuk asrama lantas tidur pulas, sedang aku tak tau apa yang mesti kukerjakan. Sungguh jujur aku ingin menikah. Aku baru kelas tiga SMA tapi aku ingin menikah.  Apa salah? Bukankah Tuhan tak perna mentukan dewasa dengan usia.

Hanphone tak tau dimana, terjatuh dimana. Aku juga tak peduli. Gedung kesenian menjadi nikmat untuk menyadar tubuh, saat capek mendera. Aku tak ingin pulang. Aku juga tak ingin pergi. Aku tak tau ingin apa. Bisa jadi aku tak ingin apa apa.

Biola kumainkan perlahan sendu menyayat, Gedung kesenian tertutup rapat hanya pintu belakang sedikit terbuka, jalan menuju asrama. Dari balik jendela aku melihat mama bercakap. Sejenak kemudian Satpam itu membuka gedung, berlari aku menuju balik tirai panggung. Aku hanya tau mama berjalan tergesa mencariku menuju asrama. Dan balek berjalan bersama satpam.

“Kamu lari?”, sebuah tangan menjamah pundakku.

Amel berdiri.

“Aku cuma ingin sembunyi”

“Hidup itu menghadapi bukan sembunyi”

“Setidaknya aku butuh kekuatan untuk menghadapi”

“Semalam kamu belum tidur. Ayo ke kamarku!”

Berjalan beriringan dengan Amel menuju Asrama. Tidur berselimut memeluk biola. Tak tau berapa lama aku tidur, Suara televisi tu membangunkanku. Berita sore hari seorang laki laki ditangkap dengan tuduhan melarikan  anak dibawah umur. Mereka dibawah ke kantor polisi di iring beberapa polisi berseragam. Aku terbangun

“Mas Tom?!”

 

                                                ************************

Joomlart