<< Cerpen Kutuk Sepanjang Helaan  >>

Kutuk Sepanjang Helaan

E-mail Cetak PDF

KUTUK SEPANJANG HELAAN
Oleh: Jun An Nizami

 

Syahdan, pada sebuah senja yang celaka. Seekor anjing yang mulutnya masih menyisakan bau arak, lukanya telahlah demikian purna. Di tengah genangan sisa muntah di teras rumah, di hadapan ibunya yang senang marah-marah, ia malah terlihat begitu gembira dan terbahak di puncak rasa nelangsanya.

YA, luka dan gembira. Jika dua perasaan itu berbeda satu sama lain, datang dengan cara merambat maupun dengan langkah yang sama cepat. Jika datang silih berganti dan telah saling berkhianat, maka sebelah manakah batas-batasnya? Dan bagimu, masih kentarakah perbedaannya? Jika keduanya merupakan perputaran, ketika kita telah begitu terbiasa dan larut di dalamnya. Puncak gembira ia luka, puncak luka ialah gembira, kan?
Maka entahlah ia namai apa luka juga gembiranya, seperti entahlah ia menamai apa sebuah kutukan dari ibunya pada sebuah senja. Senja yang celaka. Ketika itu, hujan pun menangis 1.


”Anjing tak berguna, terkutuklah kau jadi manusia!” Si ibu menunjuk hidung anaknya yang anjing, lalu mengacungkan telunjuknya ke langit, mengundang halilintar yang tengah dikencani iblis yang tiba-tiba bertingkah genit. Antara terkejut dan tenang, entah pulalah ia bersikap bagaimana ketika kutukan itu menyambar kepalanya. Ketika dari mulai moncong hingga ujung buntut, berubahlah ia menjadi manusia.

Maha Besar Tuhan atas segala kekuasaannya, Maha Suka-suka Tuhan atas mahluk-mahluknya 2, selalu terpujilah Ia dengan keindahan karya-karyanya. Sempurna, dari seseekor, kini anjing itu telah menjelma seseorang.

                                                       ***

KEMUDIAN hari-hari berikut, ramailah gunjingan di kandang para tetangga. Bagi Lam, si anjing terbuang yang kerap melolong dengan rintihan, yang kini telah menjelma sebagai orang malam. Meledaklah pula pujian juga ejekan dari mereka, hingga obrolan yang malah melenceng ke mana-mana. Dan ketika anjing-anjing menggunjing...

”Eh Jeng, si Lam sekarang jadi manusia! Sudah lihat? Ganteng ya?”
”Si Lam yang suka mabok dan ngutang di warung Nyai Janti dulu itu? Yang dikutuk sama ibunya itu? Ganteng bagaimana Jeng ini? Seganteng-gantengnya juga sudah jadi manusia. Najis!”
”Loh, kayak yang dendam gimanaaaa gitu, sama si Lam?”
”Bukan sama si Lam, tapi sama manusia!”
”Loh?”
”Ealah, ini kan permusuhan abadi antara anjing dan manusia. Gak pernah baca kitab suci, apa? Manusia kan kalo menghina sesamanya pake sebutan ANJING. Ya otomatis sebutan ANJING itu amat dihinadinakan oleh mereka. Di mana harga diri kita sebagai anjing, coba? Makanya kalo kita mau menghina, menyindir sesama kita, sebut saja.. dasar manusia!”  ia terus nyerocos. Teman gunjingnya hanya manggut-manggut, karena memang merasa jarang mengaji, membaca kitab suci yang disebut teman menggunjingnya tadi.
”Terus ini satu lagi bukti tentang kebejatan manusia. Eh, beritanya masih hangat loh! Begini.
Tapi ini bukan tentang keluarga saya loh ya! Ini tentang keluarganya jeng Narti, tetangga kita, yang suaminya satpam itu, loh. Tahu kan?”
”Ya..ya..ya, mas Kusmin,” serunya cepat seperti rasa keingin tahuannya.
”Terus masalahnya? Hubungannya? Lagi pula bukannya mas Kusmin itu kan satu tempat kerja sama suami Jeng, di rumah manusia?”
”Lha iya. Tapi bukan itu masalahnya. Kalo suami saya ya baik, gak kegoda sama majikan wanitanya yang manusia, yang centil pula!”
”Terus..terus?”
”Lah, sudah dibilangin manusia itu najis. Bejat! Kata bapaknya anak-anak, Mas Kusmin kan pernah digoda, diajak tidur sama majikan wanitanya. Direkam lagi! Disebarin lagi! Banyak yang suka lagi! Termasuk anak-anak lagi!”
”Gusti Alloh, jadi majikan yang bangsa manusia itu ngajak gituan mas Kusmin yang anjing? Oalaaaah.. Dasar manusia, bisanya ganggu rumah tangga orang lain aja! Lah terus nasib jeng Narti?”
”Kata orang, Jeng Narti mengunci diri seminggu di kamar, karena waktu itu kan video rekaman suaminya yang tengah bercinta sama majikan wanitanya lagi hangat-hangatnya beredar. Mungkin ia shock lalu bunuh diri. Alhasil, ia ditemukan dengan leher yang tergorok dan tentunya telah mati.” Anjing betina itu kemudian memperagakannya: Lidahnya dijulurkan, dan tepat ketika kakinya di depan leher, ia tarik dari kiri ke arah kanan sambil berlagak-lagak teler.
”Gusti Alloh, tergorok? Mati? Dasar manusia, bisanya menghancurkan rumah tangga orang lain saja!”
”Lah, kan sudah saya bilang. Najis. Bejat. Cabul!”
”Eh, buktinya ini loh.. Mana? Di Hp Jeng ada rekaman video adegan itu gak, coba?” berbisik.
Agak terkekeh.
”Oalah, Adalah! Mau nonton aja pura-pura.” sambil merogoh benda berbentuk persegi dari balik roknya. Kemudian berlangsunglah seluruh adegan keanjingan di dalamnya, selanjutnya.

                                                      ***

Kukisahkan, Lam yang tadinya adalah seekor anjing, setelah menjadi seorang manusia, kemudian memiliki hasrat refleks untuk membunuh ibu yang mengutuknya itu. Maka jika sebelum itu ia diperkenankan memilih, maka ia akan lebih memilih dikutuk jadi batu, yang dipuji ketabahannya oleh waktu. Atau jadi bangku, yang tanpa jemu setia menemani orang-orang yang menunggu. Tentu Lam akan memilih itu, daripada dikutuk menjadi manusia: Seburuk-buruknya kutukan! Serendah-rendahnya mahluk Tuhan!

Karena, bukankah hanya manusia yang bisa menendang ibunya yang lemah? Bukankah hanya manusia yang bisa menghantamkan botol ke kepala ibunya hingga pecah? Bukankah hanya manusia yang bisa memotong, mencacah-cacah seluruh tubuh korbannya dengan gergaji, menghisap darah ibunya sendiri, padahal dengan alasan yang tak masuk di akal bagi bangsa mereka sendiri? Setelah itu, kemudian bebas dari hukum, bebas melarikan diri. Yeah, sebagai anjing, begitulah kami memahamimu. Jikapun diriwayatkan bahwa Tuhan lebih memilih mempercayai bangsamu untuk memakmurkan bumi, sungguh --bersama setan-- kami menganggap pilihan itu hanya karena faktor keberuntungan. Toh, bukankah bangsa kalianlah yang malah membuat kerusakan, dengan bermacam peralatan, dengan tambang-tambang serampangan yang membuat sukma bumi kesakitan? Bukankah bangsa kalianlah yang malah membuat kehancuran, dengan bermacam senjata, dengan bermacam kerusuhan. Di stadion sepakbola, di panggung dangdut, di jalan raya, di mana-mana? Juga bukankah bangsa kalian yang senang menggombal dan menyenandungkan tembang-tembang perang? Juga suka saling menghina menyebut-nyebut anjing padahal kami sendiri tak tahu apa-apa?

Lalu apa yang patut dibanggakan oleh Tuhan dari kalian? Lihatlah, si Lam terkutuk itu pun tengah menyesali dirinya yang telah berubah menjadi manusia –jadi bagian dari bangsa kalian. Karena tiba-tiba ia mempunyai rasa marah lantas membunuh ibunya sendiri, karena tiba-tiba ia harus memilih menyuap atau masuk bui, karena tiba-tiba ia harus menyembah uang, karena tiba-tiba ia memiliki hasrat melarikan diri, karena tiba-tiba ia berada di tengah kericuhan dan makian seperti kali ini.
”Anjing!”
”Lu yang anjing!!” makian itu riuh dan silih menimpal. Kadang diiringi lemparan batu, tonjokan, bahkan bacokan. Makian itu berseliweran di alun-alun, di panggung hiburan, di diskotik-diskotik, di tempat-tempat billiar, di warung remang-remang, di gedung dewan, bahkan di sekolahan-sekolahan. Di stadion sepakbola, di jalan raya, dan di segala mana.


Padahal ketika Lam masih sebagai anjing, ia mengimani bahwa tepatlah Tuhan menjatuhkan pilihannya kepada para manusia, karena mereka dilengkapi dengan rasa, memiliki yang di bangsa Lam sebelumnya memang tak ada: Cinta. Meski kala itu, kadang Lam merasa ingin muntah menyaksikan manusia memperlakukan cintanya. Hingga sesekali, ia pun pernah bertanya pada para orang yang sedang lewat di hadapannya dengan tergesa.
”Tolong jelaskan padaku, apakah arti cinta itu, Tuan?”
”Menyingkirlah! Aku sedang buru-buru, anjing! Mau perang! Yang jelas, ujung cinta itu tak lebih dari urusan selangkangan!” hardiknya, menggoyangkan keimanan Lam.
”Dasar manusia,” gonggong Lam lirih, terlihat seperti anjing dungu yang belum mengerti.
Tapi pada akhirnya, ketika Lam mulai beradaptasi sebagai manusia, ketika ia menyelamatkan diri pada sebuah peristiwa kerusuhan, lalu menyelinap ke sebuah gang pertokoan, kemudian bertemu seorang anak gelandangan yang mengaku berasal dari bangsa cinta yang sedang terkapar. Akhirnya ia harus menyadari bahwa bangsa cinta pun telah terluka oleh para manusia, banyak mahluk lain yang menjadi korban perbuatan mereka juga.


Anak yang berasal dari bangsa cinta itu ditemukan Lam tengah terengah-engah dengan kepala yang mengucurkan darah, pelipis yang robek dan sayap yang patah. Terkena lemparan batu, terjangan peluru, bom molotov, lemparan tombak dan tancapan anak panah. Di sela naluri kemanusiaan yang pernah berhasil menghasut Lam untuk membunuh ibunya sendiri, naluri kemanusiaan yang kali ini pun membuat Lam ingin meninggalkan dan membiarkan anak itu terkapar menunggu mati. Di sela naluri kemanusiaan yang bejat, yang sangat tak berperikebinatangan ini, mungkin naluri anjing yang pernah dimiliki Lam mulai terbit kembali. Lam lantas menyongsong anak itu, anak dari bangsa cinta yang berkulit biru, yang berwajah seribu ambigu.
”Kami anak-anak dari bangsa cinta yang ditugaskan negara, yang diutus ibu-ibu kami untuk menyadarkan kembali para manusia,” rintihnya dalam pangkuan Lam. Lantas terbatuk: Darah.
”Tapi nyatanya, seperti yang kau lihat inilah, Tuan. Anak-anak dari bangsa kami banyak yang dibuang, dicampakkan, bahkan terbunuh di tangan bangsa manusia. Bangsamu, Tuan,” lanjutnya dengan nafas yang tersengal. Lam terdiam. Lalu turunlah hujan.
”Tapi sebentar! Hei, apa kau sedang bersedih, Tuan? Karenaku? Ah, telah lama aku tak melihat seorang manusia bersedih karena kesedihan orang lain, Tuan! Syukurlah, karena sepertinya masih ada sedikit kabar bahagia yang dapat aku sampaikan ke negeriku di kahyangan, ke setiap dekap para ibu, yang terus menenun kecemasan 3,” tutur anak itu sambil menyeka air hujan, juga air matanya yang darah, dengan agak bergairah.
”Entahlah apa ini namanya. Sedih, bahagia, atau apa? Yang jelas aku pun sedang mencoba bergelut, menyelami, menafsirkan perasaan manusia. Perasaan yang baru aku miliki ini.”
”Maksudmu?” Susah payah alis anak itu membentuk simbol tanda tanya. Lam menghirup nafas, lantas berteriak dengan kepala mendongak ke atas, ”Ialah aku yang dilahirkan sebagai seekor anjing, ialah aku yang kemudian dikutuk menjadi seorang manusia, hei bocah cinta..hahahaha!”
Lam terbahak lantas menguyup hujan, menguyup sunyi, dan menguyup segala bebunyi. Anak itu kembali terbatuk: Darah. Mungkin karena terkejut, mungkin merasa takut.
”Dikutuk menjadi manusia? Haladalah. Sungguh, seburuk-buruknya kutukan, Tuan!” kata anak itu sambil mencoba beringsut. Karena perlahan-lahan bibir Lam seperti membentuk seringai, karena anak itu merasa Lam berubah menatapnya dengan nada yang berbeda: Tatapan manusia!
”Celaka! Dasar manusia!” gumamnya.

                                                                                                                                                    Tasikmalaya, 2010

Catatan:
1) Judul album Anang Hermansyah.
2) Ungkapan Prie Gs.
3) Dari sebuah judul sajak Saeful Badar, Ibu Terus Menenun Kecemasan.

Joomlart